logo-lokadata
Menanti wajah-wajah baru dalam film Indonesia
Empat pemeran utama film My Generation diisi pendatang baru IFI Sinema/

Menanti wajah-wajah baru dalam film Indonesia

Para penonton menginginkan wajah baru, produser masih mengandalkan sosok lama. Sutradara dalam posisi dilematis.

Keramaian menyeruak di Lounge XXI Epicentrum, Karet Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (2/11/2017) malam. Saat itu sedang berlangsung press screening, dilanjutkan gala premiere film My Generation arahan Sartri Dania Sulfiati alias Upi (45).

Sebuah film yang patut diapresiasi kemunculannya. Berkisah tentang empat sahabat yang duduk di Sekolah Menengah Atas. Mereka adalah Konji, Zeke, Orly, dan Suki.

Tumbuh besar di lingkungan keluarga dengan beragam latar belakang, empat remaja urban ini menghadapi problematika masing-masing.

Bersama mereka saling menguatkan karena orang tua seolah absen dan emoh memahami perasaan anak-anaknya.

Sepanjang 106 menit, penonton diajak melihat sepak terjang kuartet remaja yang serba blak-blakan.

Hal yang menjadikannya terasa jujur karena seperti memotret generasi milenial sekarang.

Untuk menyelesaikan skenario My Generation, Upi mengaku butuh waktu riset selama dua tahun. Ia memantau percakapan remaja sekarang melalui kanal media sosial (medsos).

Ketika ingin mengetahui isu spesifik di Twitter, misalnya, ia cukup mengetik kata kunci #ibu, #mymom, atau #mydad.

Generasi sekarang, kata Upi, lebih terbuka membahas segala macam hal di medsos. Sementara jika diwawancarai langsung mereka cenderung tertutup.

Selain keberaniannya dalam bercerita, apresiasi juga harus diberikan kepada Investasi Film Indonesia (IFI) Sinema. Empat pemeran utama My Generation merupakan pendatang baru.

Arya Vasco (pemeran Konji), Bryan Langelo (Zeke), Alexandra Kosasie (Orly), dan Lutesha Sadhewa (Suki) sebelumnya belum pernah main film.

Latar belakang mereka selain pelajar dan mahasiswa adalah foto model. Itu pun belum sampai tahap "super".

"Sebelum main film ini saya fokus sekolah. Sempat jadi foto model, tapi hanya tiga bulan," ujar Arya (17) kepada Beritagar.id.

Memilih empat pendatang baru sekaligus untuk menduduki posisi pemeran utama bukan praktik lazim dalam industri hiburan.

Sejak mengadopsi star system (sistem bintang) dari Hollywood yang bermula lewat film Terang Boelan (1936), produser seolah tidak ingin ambil risiko menempatkan pemain baru sebagai bintang utama.

Walaupun penentu keberhasilan sebuah film menapaki tangga box office dipengaruhi banyak faktor, memilih tokoh terkenal yang sudah punya banyak penggemar masih dipercaya sebagai magnet untuk menarik minat penonton dan investor.

Kebiasaan tersebut melahirkan problem dilematis di kalangan sineas. Ketersediaan pemain menjadi berkurang.

Maka jangan heran jika belakangan santer muncul istilah semacam "dia lagi, dia lagi", "kayak enggak ada pemain lain saja", dan sejenisnya. Intinya menyindir dominasi satu pemain yang terlalu sering muncul.

Komentar tadi menggambarkan betapa penggemar film nasional menginginkan suatu pembaruan dari film yang diproduksi.

Terutama dari segi pemilihan orang-orang yang menjadi pemegang peran utama yang wajahnya mucul di layar.

Menyadari pentingnya generasi baru di kalangan pemain, sekaligus mendobrak kebiasaan lama berbasis sistem bintang, Upi bersama IFI Sinema tidak ragu memberikan kesempatan untuk para pendatang baru.

"Harus saya akui, regenerasi pemain film kita tergolong lamban. Kita lihat deh sekarang, ada pemain yang 15 tahun lalu main film remaja, sampai sekarang masih memainkan tokoh remaja," kata Upi tanpa menyebut nama yang dimaksud.

Situasi bertambah parah karena tidak banyak produser yang berani membuka pintu masuk untuk hadirnya wajah-wajah gres bertalenta.

Oleh karena itu, Upi sempat mengultimatum, proyek My Generation harus menampilkan pemain-pemain baru.

"Kalau kita tidak pernah berani memberikan kesempatan untuk pemain baru, film-film kita akan menghadirkan aktor yang itu-itu lagi," tegas Upi.

Ikhtiar Upi membuka pintu kepada aktor/aktris baru telah berlangsung sejak menyutradarai 30 Hari Mencari Cinta (2003).

Lewat film bergenre drama komedi itu, ia memberikan kesempatan kepada Nirina Zubir dan Vino G. Bastian mencicipi debut film layar lebar.


Aurora Ribero saat berkunjung ke kantor Beritagar.id (8/12/2017), dalam rangka promosi film Susah Sinyal
Aurora Ribero saat berkunjung ke kantor Beritagar.id (8/12/2017), dalam rangka promosi film Susah Sinyal Andi Baso Djaya / Beritagar.id

Kegundahan juga sempat melanda sineas Ernest Prakasa (35) saat menggarap Susah Sinyal.

Dalam film yang ditayangkan mulai 21 Desember 2017 tersebut, ia butuh pemain berumur 17 tahun yang aktingnya mumpuni sekaligus bisa menyanyi untuk berlakon sebagai Kiara.

Beberapa pemain terkenal yang memenuhi syarat sudah sempat ia hubungi. Di antaranya Maudy Ayunda (23) dan Caitlin Halderman (17).

"Tapi karena terkendala jadwal akhirnya batal," ungkap pria yang juga seorang komika itu kepada Beritagar.id saat acara peluncuran album lagu tema film Susah Sinyal di Warung Tekko, Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan (5/12).

Opsi yang kemudian ia jalani adalah mengadakan audisi. Dari sekitar 30 peserta casting, datang Aurora Ribero, dara berusia 13 yang menetap di Bali.

"Belum punya pengalaman main film atau sinetron, tapi aktingnya natural. Tambah lagi suaranya bagus. Jadi peran Kiara langsung kami beri untuk Aurora," tambah penerima Piala Citra di kategori penulis skenario asli terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2017.

Kadung menunjuk Aurora sebagai salah satu pemeran utama mendampingi Adinia Wirasti (sebagai Ellen), Ernest sekuat tenaga meyakinkan Starvision Plus selaku rumah produksi. Beruntung Chand Parwez Servia, pemilik Starvision, memberikan lampu hijau.

"Maksudnya agar film kita tidak dibintangi oleh 'dia lagi dia lagi'. Soalnya jujur saja, susah mencari pemain dengan spesifikasi umur tertentu," katanya.

Ditambahkan Ernest, bukti terhambatnya kemunculan pemain baru terlihat dari betapa sering muncul komentar berbunyi; "Reza Rahadian lagi, Reza Rahadian lagi".

"Bukan salah dia sih. Selain karena (Reza) memang punya akting bagus, pilihan pemain yang berkualitas seperti dia pada rentang umurnya sekarang juga enggak terlalu banyak," terang Ernest.

Kesulitan mencari pemain baru dengan kemampuan akting mumpuni ternyata bukan hanya untuk yang berusia muda.

Saat Joko Anwar menggarap film Pengabdi Setan yang membukukan lebih dari 4,2 juta penonton, mencari pemeran tokoh Ayah yang diceritakan berusia 50 juga sangat susah.

"Di Indonesia kita sangat kekurangan pemain umur 50 tahun. Ada sih beberapa, tapi kan mereka juga sibuk syuting," kata Joko.

Akhirnya peran tersebut diberikan kepada aktor asal Malaysia, Bront Palarae, yang aslinya berumur 39 tahun. "Lebih gampang mendandaninya sedikit lebih tua dibandingkan usia aslinya. Saya yakin dia bisa karena aktingnya bagus banget."

Mencari pemain baru saja susah, apalagi yang punya kualitas akting mumpuni. Ray Sahetapy (60) coba menganalisa mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Aktor yang menempa ilmu seni peran di panggung teater ini menilai, banyak pemain --terutama yang baru-- masih sering salah kaprah memahami faktor-faktor penting yang menunjang efektivitas saat berakting.

Beragam teori atau teknik akting dari Barat diaplikasikan mentah-mentah saat main film tentang Indonesia.

"Kesadaran pemain terhadap ruang tempat dia berpijak itu sangat penting dalam berakting," ujar alumni Departemen Drama di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (sekarang Institut Kesenian Jakarta).


Yayu Unru (55) sependapat dengan Ray. Peraih dua Piala Citra itu melihat kebanyakan pemain kita sering salah persepsi. Masih kerap terpengaruh teknik atau metode-metode akting dari Barat.

"Padahal kita kan punya persoalan lain yang berbeda dengan kehidupan orang Barat sana. Kita juga punya masalah kejiwaan dan ketubuhan yang berbeda," ungkapnya saat ditemui dalam acara press screening film Posesif di XXI Senayan City, Jakarta Selatan (12/10).

Tiada guna terburu-buru mempraktikkan sistem akting Konstantin Stanislavski, Sanford Meisner, dan lain-lain, sementara persoalan elementer di ranah akting, seperti bagaimana cara menghilangkan perasaan malu, canggung, minder, atau kurang rileks saat berhadapan dengan kamera belum terselesaikan.

Pria asal Makassar yang kerap menjadi pelatih akting ini juga mengamati ada beberapa generasi yang hilang.

Kebutuhan pemain untuk memerankan tokoh ibu sepantaran Cut Mini Theo (43) sangat terbatas.

Alasan terbatasnya pilihan tadi bisa beragam. Salah satunya karena banyak yang memilih menekuni bidang lain. Seperti Rieke Diah Pitaloka dan Rachel Maryam yang sekarang aktif di dunia politik.

Sementara itu, generasi yang lebih muda juga menghadapi problem identik.

"Sekarang ada Chicco Jerikho (33) dan Adipati Dolken (26). Tapi pilihan sepantaran mereka atau bahkan lapisan di bawahnya masih banyak yang kosong," lanjut Yayu.

Jefri Nichol (kiri) dan Amanda Rawles, dua bintang muda perfilman Indonesia
Jefri Nichol (kiri) dan Amanda Rawles, dua bintang muda perfilman Indonesia Andi Baso Djaya / Beritagar.id

Kurangnya opsi pemain baru berkualitas yang sekarang banyak dikeluhkan sutradara bukanlah persoalan baru dalam industri perfilman kita.

Harian Merdeka, edisi Sabtu, 23 Juni 1979, pernah menulis laporan bertajuk "Berilah Peluang Buat Aktor dan Aktris".

Pada medio dekade 70-an hingga awal 80-an, perfilman Indonesia seolah hanya punya lima nama, yaitu Roy Marten, Yati Octavia, Robby Sugara, Yenny Rachman, dan Doris Callebaute.

Kelima pemain tadi kemudian mendapatkan julukan sebagai "The Big Five" atau "The Five Pop". Selain karena seringnya mereka membintangi film, honor mereka menjadi yang termahal kala itu.

Dipasangkannya Rano Karno dan Yessy Gusman sebagai pemeran utama dalam film Gita Cinta dari SMA (1979) dianggap sebagai langkah yang baik.

"Untuk menghilangkan kejenuhan para pecandu film nasional dengan aktor dan aktris yang itu-itu juga," tulis Merdeka.

Tak disangka film adaptasi novel berjudul sama karya Eddy D. Iskandar itu menempati urutan ketiga film terlaris di Jakarta. Jumlah penontonnya mencapai 162.050 orang.

Rano sebenarnya bukan pemain baru. Kariernya di dunia film bermula sejak Malin Kundang (Anak Durhaka) (1971).

Yessy juga telah ambil peran utama lewat film remaja Romi dan Juli (1974) yang menjadi debutnya berpasangan dengan Rano di layar lebar.

Hanya saja, nama mereka jelas masih kalah mentereng jika dibandingkan penghuni "The Big Five".

Dianggap sukses jika tampil berpasangan, duo ini lantas muncul lagi dalam beberapa film dengan genre drama remaja. Sebutlah misalnya Puspa Indah Taman Hati (1979), Buah Terlarang (1979), dan Selamat Tinggal Duka (1980).

Mengandaikan popularitas dan dominasi Rano-Yessy lebih dari tiga dasawarsa silam dengan keadaan sekarang, lihat saja duo Jefri Nichol-Amanda Rawles.

IFI Sinema bisa dibilang turut andil memberi Jefri (18) kesempatan main untuk pertama kalinya lewat Pertaruhan (2017). Upi dalam film ini menjadi penulis skrip.

Hingga penghabisan 2017, Jefri yang mengidolakan Leonardo Dicaprio total membintangi enam film, termasuk Surat Cinta untuk Starla (tayang 28/12).

Perfilman kita jelas butuh lebih banyak sosok seperti Upi dan Ernest. Berbekal posisi tawar yang tinggi mereka bersedia meyakinkan produser agar tidak ragu menjajal pemain baru. Tujuannya demi memuluskan regenerasi pemain film di Tanah Air.