Lokadata.ID
Mengenal ''Kustom Kulture'' dan perkembangannya di Tanah Air
Salah satu motor kustom hasil karya Studio Motor Dokumen Studio Motor/

Mengenal ''Kustom Kulture'' dan perkembangannya di Tanah Air

Berawal di Amerika Serikat pada era 1950-an, "Kustom Kulture" di kalangan pemotor lalu menyebar dan berkembang di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Ingatan Bhimo kembali ke tahun 2013, saat ia berkunjung ke acara otomotif bertajuk Pasar Jongkok Otomotif (Parjo) di kawasan Senayan, Jakarta, yang kemudian membuat hidupnya berubah.

Pemilik nama lengkap Bhimo Bhirawa itu adalah seorang desainer produk sudah lama menyukai sepeda motor kustom dan budaya kustom (custom culture) secara keseluruhan. Bahkan sejak 2010 ia sudah mulai berpikiran untuk mengembangkan perlengkapan busana bagi para pecinta budaya kustom.

Pada Parjo 2013 itulah, setelah melihat dan berkenalan dengan orang yang memiliki kesukaan dan hasrat yang sama dengan dirinya, pria yang kini berusia 29 tahun itu memantapkan pilihannya; menjadikan budaya kustom sebagai jalan hidupnya.

Bersama dua teman, pada 2014 Bhimo lalu mendirikan Good Wind, sebuah jenama yang menyediakan berbagai kelengkapan fesyen berkendara, tentu saja dengan sentuhan budaya kustom.

"Awalnya sih pengen beda aja, klasik dan gak mainstream," ujar pemilik Honda 90 yang telah digubah menjadi motor berjok tunggal dengan gaya cafe racer itu saat bertemu Beritagar.id pada Senin (17/10/2016).

Apa sih motor kustom dan budaya yang menyertainya?

"Motor kustom sebenarnya gambaran selera dan ambisi pemiliknya. Jadi dimulai dengan konsep yang ada di otak si pemilik untuk punya atau menciptakan motor dengan tampilan yang berbeda," papar Bhimo.

Kata "berbeda" menjadi kunci di sini. Kustom, yang disadur dari bahasa Inggris "custom" secara harfiah berarti "menurut pesanan". Maksudnya, barang-barang yang dibuat sesuai dengan keinginan pembelinya. Karena sesuai pesanan, sudah barang tentu produk tersebut bakal berbeda dengan yang dibuat massal.

Kustom Kulture adalah neologisme yang awalnya berkembang di Amerika Serikat untuk menggambarkan karya seni, kendaraan, gaya rambut, dan fesyen orang-orang yang mengendarai dan membangun mobil dan motor yang telah dimodifikasi.

Budaya ini mulai berkembang pada era 1950-an dan semakin populer saat makin banyak yang tertarik memodifikasi kendaraan mereka, baik roda dua maupun empat, dalam gaya hot rod untuk membuatnya menjadi lebih bertenaga dan kencang.

Kustom Kulture ini lalu berkembang ke berbagai negara, tak terkecuali Indonesia.

Kali ini kami akan sedikit mengupas perkembangan budaya kustom di Indonesia, mulai dari sejarah singkat kedatangannya hingga bisnis sepeda motor kustom yang semakin berkembang.

Motor kustom model Chopper yang banyak beredar di jalanan Indonesia
Motor kustom model Chopper yang banyak beredar di jalanan Indonesia Dokumen Bhimo Bhirawa

Skena Kustom Kulture di Indonesia sudah mulai berkembang pada era 1970-an saat semakin banyak kendaraan roda dua yang mulai masuk ke pasar nasional. Demikian dipaparkan Wira Bakti dalam sebuah tulisan panjangnya di laman Lawless Jakarta soal perkembangan budaya kustom di Indonesia.

Wira, pengelola gerai kustom Saint & Sinners Motorclothes (SSMC), merujuk dua kover majalah Aktuil terbitan awal 1970-an. Kover pertama menampilkan penyanyi Gito Rollies berpose dengan Yamaha XS650 chopper. Lalu kover yang menunjukkan beberapa wanita berpose mengendarai Volkswagen Buggy yang sudah dimodifikasi.

Perlahan tapi pasti budaya kustom semakin berkembang di Tanah Air dan, menurut Yusuf Abdul Jamil, seorang pembuat motor kustom --biasa disebut builder-- dari Lawless, kepada Tempo.co (11/8/2015) gerakan budaya kustom semakin terasa pada awal 2000-an.

Orang ingin membuat sendiri motornya sesuai kepribadian

Arian Arifin

Semakin banyak yang ingin menyesuaikan bentuk, tampilan, dan performa motor yang digunakan dengan diri pemilik itu sendiri.

"Ingin melepaskan diri dari mainstream. Orang ingin membuat sendiri motornya sesuai kepribadian," kata Arian Arifin, vokalis band Seringai yang juga pencinta motor kustom.

Virus kustom lalu menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dan ke berbagai profesi.

Sebuah budaya yang banyak diikuti pada akhirnya akan memunculkan kelompok beranggotakan orang-orang sepemikiran, yang disebut komunitas. Pun dengan para penggemar motor kustom.

Salah satunya adalah Ahooy Geboy yang digagas oleh duo artis Jhody Sumantri dan Teuku Edwin dari Super Bejo. Mereka menggagas komunitas ini setelah melihat bahwa motor kustom juga bisa menjadi wadah kreasi dan aktivitas yang bersifat sosial.

Komunitas Ahooy Geboy, bersatu dalam keragaman profesi
Komunitas Ahooy Geboy, bersatu dalam keragaman profesi Mustafa Iman / Beritagar.id

Ahooy Geboy juga memiliki anggota yang memiliki ragam profesi dan latar belakang, mulai dari musisi, pengusaha, builder, hingga pekerja kantoran.

"Kita membentuk Ahooy Geboy karena persamaan rasa atas sebuah hobi dan ingin membangun persaudaraan hingga kakek nenek. Kami juga ingin memperlihatkan kepada masyarakat bahwa komunitas motor juga dapat melakukan hal-hal yang bersifat positif, seperti mengampanyekan keselamatan berkendara dan melakukan kegiatan sosial lainnya," kata Jhody pada Beritagar.id di ajang Parjo 2016, Maret lalu.

Lain lagi dengan Ade Habibie, cucu mantan Presiden Republik Indonesia B.J. Habibie. Ade mewujudkan rasa cintanya pada gaya hidup motor kustom dengan membangun sebuah bengkel yang ia namakan Troupe Brut Rides Industries. Sebuah bengkel jasa modifikasi yang dipadukan dengan diler jenama Triumph, di wilayah Kemang, Jakarta Selatan.

Komunitas atau kelompok para pencinta motor kustom terbentuk atas kesamaan rasa, namun kaya akan ragam karya kustomisasi pada tunggangan masing-masing.

Pemotor, pemodifikasi, dan pebisnis apparel melebur jadi satu dalam sebuah wadah yang mampu mereka kreasikan sendiri, dan lalu membuat acara sendiri.

Motor kustom yang dipamerkan dalam ajang Kustomfest
Motor kustom yang dipamerkan dalam ajang Kustomfest Mustafa Iman / Beritagar.id

Berbagai komunitas yang berdiri itu pada akhirnya membutuhkan cara untuk memperkenalkan diri, berkomunikasi, dan menunjukkan hasil kreativitas mereka, termasuk para penggemar motor kustom.

Akhirnya, muncullah beberapa ajang pameran atau kumpul-kumpul dalam skala besar, di mana mereka bisa berjumpa dan bertegur sapa.

Salah satu acara terbesar yang diselenggarakan oleh dan untuk para penggemar kendaraan kustom adalah "Indonesia Kustom Kulture Festival", atau akrab disebut Kustomfest.

Pertama kali digelar pada 2011, Kustomfest menjadi acara tahunan yang diselenggarakan setiap pekan pertama bulan Oktober di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ajang ini mengundang dan melibatkan seluruh komunitas motor dan mobil kustom Indonesia, serta pelaku industri kustom internasional, dengan menampilkan hasil karya modifikasi terbaik.

[Kustomfest] menghapus kesenjangan sosial pecinta motor

Indro Warkop

Direktur Kustomfest, Lulut Wahyudi, berharap ajang ini mampu membangun citra baik dari kalangan komunitas motor dan sanggup memperlihatkan betapa Indonesia kaya akan tangan-tangan terampil pemodifikasi.

"Dengan ini, bangsa Indonesia terlihat sebagai bangsa pembuat, bukan hanya bangsa pemakai. Dan atas persetujuan Sri Sultan Hamengkubuwono X, kota Yogyakarta mendapat salah satu julukan lagi, yakni Kota Kustomfest," kata Lulut, mengutip Motorexpert.com.

Komika ternama, Indro "Warkop", yang juga terkenal sebagai pecinta motor gede (moge), termasuk salah satu pendukung Kustomfest. Bahkan ia kerap hadir dalam acara tersebut.

"Di sini kita juga melihat bagaimana tak ada kasta atau kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin, semua rata, pecinta dan penikmat ajang modifikasi. Pendek kata, ajang ini menghapus kesenjangan sosial bagi pecinta motor," kata pemilik nama lengkap Indrodjojo Kusumonegoro ini saat diwawancara Beritagar.id pada Kustomfest 2015.

Gusno (kiri), pendiri Parjo yang menjadi media rangsang para pelaku UKM dan industri motor kustom
Gusno (kiri), pendiri Parjo yang menjadi media rangsang para pelaku UKM dan industri motor kustom Mustafa Iman / Beritagar.id

Ajang selanjutnya yang menjadi incaran para penggiat kustom motor adalah Parjo, yang merupakan agenda rutin tahunan yang digelar Gusno Production sejak 2012.

Agus Riyanto, Direktur Gusno Production, melihat tren motor kustom akan memiliki masa depan yang baik, dan akan banyak sekali acara yang mengangkat tema motor kustom sebagai nilai jual kreativitas para pelaku UKM.

"Kita cukup bangga karena Parjo selalu menjadi rujukan para pemotor untuk mencari beberapa komponen motor aliran kustom," kata Gusno, sapaan akrab Agus, Kamis (20/10).

Interaksi pengunjung dan pelapak di Parjo, lanjut Gusno, juga memercik hubungan emosional yang membuat keduanya terus terhubung usai acara. Pendek kata, Parjo menciptakan interaksi baru, komunitas baru, dan jaringan baru dalam kultur pencinta motor kustom.

Gusno menambahkan bahwa Parjo akan melebarkan sayap ke Yogyakarta dan Bandung.

Suryanation Motorland Full Movie

Ajang lain yang melibatkan kultur motor kustom adalah Suryanation Motorland, yang menginjak tahun ke-2 ini intensif melakukan road show di 5 kota.

Hadir di Medan, Palembang, Semarang, Makassar, dan Malang (big bang), penggagas Suryanation Motorland, Donny Ariyanto menyatakan mereka ingin untuk lebih mengenalkan industri Custom Culture ke pelosok Nusantara.

Acara lain yang unik adalah Mods vs Rockers yang diselenggarakan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI setiap 17 Agustus sejak 2014.

NVIOZONE Mods Vs Rockers 2016

Lalu ada Sekepal Aspal Indonesia Motoart Exhibiton (SAIME), yang pada tahun ini diselenggarakan pada Minggu (7/8), di Joglo Jeruk Purut Compund, Kemang, Jakarta Selatan.

1000 Kilometer - Trailer 1

Rizky Rosianto, penggagas SAIME mengatakan bahwa latar belakang kesamaan dan minat untuk mengekspresikan diri melalui motor dan budaya kustom yang dirangkai dengan rasa saling menghargai.

Selain kumpul-kumpul, pecinta budaya kustom juga tak lupa melakukan berbagai kegiatan sosial, seperti Ulah Adigung Project yang menjadi bagian dari SAIME.

Berawal dari keinginan untuk memberikan penghargaan kepada mantan pebalap nasional Tommy Manoch, Ulah Adigung lalu berkembang menjadi sebuah proyek sosial bersama para penggemar motor kustom itu.

Ulah Adigung Project - The Movie

Para motoris dan builder yang menggagas Ulah Adigung Project, adalah Heret Frasthio dari Elders Company, dan Ucup dari rumah modifikasi Lawless Jakarta.

"Semoga kampanye ini akan terus jalan dan mendapat respek yang positif," ujarHeret.

Proyek sosial lain dari gerakan ini adalah mendirikan panti asuhan yang di beri nama "Al Khusna" di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Dokumen Studio Motor

Kustom Kulture juga lalu membuka peluang bisnis bagi para pelakunya. Donny Ariyanto, misalnya, mengembangkan minat dan keahliannya membangun kendaraan kustom untuk mendirikan Studio Motor pada 2012.

Pria yang tadinya bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi ini memutuskan untuk banting setir dan keluar dari zona nyamannya.

"Sejak 2009 saya memang sudah tertarik dengan motor kustom. Baru sekedar tertarik. Hingga akhirnya karena panggilan jiwa, saya menekuni secara serius bisnis ini," katanya.

Pandangan Donny atas perkembangan dunia motor kustom di Indonesia cukup positif dan menjanjikan. Tak hanya motor dengan kapasitas mesin kecil, banyak pula para pemilik motor berkapasitas mesin besar yang ingin tunggangannya tampil beda dengan diubah bentuknya.

Modified Yamaha XS650 by STUDIO MOTOR

"Sudah menjadi gaya hidup kalo menurut saya, makanya kami menggarapnya juga nggak sembarangan. Mulai dari komponen, konsep, sampai finishing-nya harus benar-benar dikerjakan secara detil. Dan yang paling penting tak menghilangkan sisi kenyamanan si pemilik," ujar pria asli Jakarta yang juga panggagas Suryanation Motorland ini.

Tentunya banyak ragam basis konsep yang menjadi rujukan Donny, diantaranya Cafe Racer, Jap Style, dan Scrambler. Namun ia tak pernah membuat model yang sama untuk para pelanggannya.

Walau industri motor kustom sedang bergelora, namun salah satu builder kawakan, Ignatius Hendra --akrab disapa Om Bingky--, pemilik cafe sekaligus rumah modifikasi Carburator Springs yang terletak di jalan Veteran 66, Jakarta Selatan, memiliki pandangan lain.

Bingky (kiri) dan garasi motor kustom miliknya (kanan), ia bangun lebih dari 15 tahun.
Bingky (kiri) dan garasi motor kustom miliknya (kanan), ia bangun lebih dari 15 tahun. Mustafa Iman / Beritagar.id

Baginya pemodifikasi di industri motor kustom memang banyak, namun hanya sedikit builder yang mampu merombak motor hingga tampak benar-benar baru.

"Gak semua pemodifikasi itu builder," kata Bingky kepada Beritagar.id, Jumat (21/10).

"Ke depannya gue yakin industri ini akan terus berkembang dan menciptakan bibit-bibit builder yang potensial. Untuk saat ini Jawa masih mendominasi builder potensial."

Lebih dari 15 tahun membangun industri ini, Bingky berpesan kepada para calon builder untuk terus mengasah kreativitas dan konsep yang inovatif.

Merangsang hasrat UKM

Gerai Kickstart Apparel dalam sebuah pameran.
Gerai Kickstart Apparel dalam sebuah pameran. Kickstart Apparel

Perkembangan Kustom Kulture juga menarik banyak penggiat usaha kecil dan menengah untuk ambil bagian. Para pengusaha muda mulai melihat ini sebagai sebuah peluang untuk memproduksi perangkat penunjang aktivitas berkendara para pencinta motor kustom.

Beberapa gerai fesyen dengan konsep kustom ala distro pun mulai menjamur.

Kickstart Apparel misalnya, gerai yang berada di wilayah Jalan Panjang, Jakarta Barat ini dibangun oleh Wisnu Adrianto (39), seorang pencinta motor kustom.

Disana para konsumen akan mendapatkan produk khas pemotor kustom berupa kaus, jaket, topi, dan kemeja, dengan desain gambar yang orisinal.

Gerai yang memulai ekspansinya sejak 2012 ini, diakui Noe -sapaan akrab Wisnu- merupakan perwujudan hasratnya kepada dunia motor kustom, yang ingin dijadikan sebagai sebuah bisnis yang serius.

"Sekarang ini bagaimana para pencinta motor pada umumnya dan pencinta motor kustom secara khusus, mengenal Kickstart," papar pria berdarah Sunda itu pada Beritagar.id, Kamis (20/10).

"Makanya gue selalu berusaha membuat ornamen yang terinspirasi dari pengendara motor kustom. Dan untuk melebarkan sayap, sebisa mungkin ikut dalam acara-acara yang mengangkat tema motor kustom."

Senada dengan Gusno dan dan Donny, Noe yang pernah menggarap desain gerai pamer Triumph dan Royal Enfield di Indonesia ini melihat industri motor kustom akan merangsang dan menciptakan banyak lapangan kerja baru.

Makin banyak kompetitor, makin merangsang ide dan inovasi dalam mendesain

Wisnu Adrianto

Noe mengaku, memutuskan cabut dari zona nyamannya saat bekerja di Triumph Indonesia dan kemudian membangun Kickstart Apparel memberikan kebanggan tersendiri baginya.

"Bangga banget bisa memulai semuanya dari nol, dan merasakan gejolak naik turunnya industri ini. Dengan makin banyaknya kompetitor, artinya kita semakin banyak kawan dan merangsang ide dan inovasi lain dalam mendisain apparel kustom," tuturnya.

Gerai lain yang cukup ternama di kalangan penggemar kustom adalah Good Wind, yang didirikan Bhimo, Hersan, dan Bayu, serta RAW Footwear karya Milfold Anderson dan Ringgit Juliana.

Our newest issue called "Gudcrus" available now 📷 @ibanooku

A photo posted by Good Wind Jakarta (@goodwind_jkt) on

Didirikan sejak 2012, RAW Footwear cukup dikenal dikalangan komunitas dan pemotor kustom, bahkan pelanggannya pun ada yang berasal dari Eropa, seperti Italia dan Inggris. Lokasi gerainya yang strategis terkadang menjadi tempat kongko komunitas motor.

"Sering komunitas motor yang kemari, sekedar lihat-lihat atau konsultasi model. Bahkan ada juga beberapa pesohor mampir," ungkap Milford yang lulusan Institut Kesenian Jakarta ini.

Handmade Shoes with RAW Footwear