Lokadata.ID

Mengenal reklamasi serta dampak positif-negatifnya

SPONSOR:  Rumah123.com
Ilustrasi reklamasi
Ilustrasi reklamasi rumah123.com

Dalam beberapa tahun terakhir, isu reklamasi menjadi perdebatan serius. Terutama di dua wilayah strategis yaitu Teluk Jakarta dan Teluk Benoa, Bali.

Pro dan kontra muncul karena reklamasi dinilai dapat merusak lingkungan serta mencemari kehidupan biota laut. Di sisi lain, reklamasi dianggap memiliki peran positif terhadap kehidupan masyarakat, seperti yang terjadi di beberapa negara.

Lantas, seperti apa definisi reklamasi di Indonesia? Dilansir dari Rumah123.com, Ketua Persatuan Insinyur Indonesia, Wisnu Suharto menyatakan bahwa reklamasi adalah suatu upaya pemanfaatan kawasan atau lahan yang relatif tidak berguna atau masih kosong dan berair menjadi lahan yang dikeringkan dan berguna bagi banyak orang.

Kesimpulannya, reklamasi mengubah wilayah perairan pantai menjadi daratan dengan cara mengubah permukaan tanah yang rendah menjadi lebih tinggi.

Jika merunut peraturan resmi, Undang-Undang (UU) No. 27 tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil mendefinisikan reklamasi sebagai kegiatan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan yang ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi melalui pengerukan, pengeringan lahan atau drainase.

Intinya, reklamasi bertujuan mengubah wilayah daratan rendah yang berair menjadi wilayah untuk kegiatan ekonomi strategis. Umumnya, wilayah reklamasi dimanfaatkan untuk pemukiman, aktivitas komersial maupun kebutuhan logistik yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Dampak positif dari reklamasi adalah terciptanya lahan baru bagi sebuah kota atau negara untuk pemekaran wilayah, tata daerah pantai, pengembangan wisata dan lain-lain.

Berdasarkan faktor ekonomi, reklamasi bisa membantu meningkatkan kualitas dan taraf hidup ekonomi masyarakat pesisir pantai, dan menambah lahan produktif.

Sedangkan, berdasarkan pendekatan lingkungan, reklamasi dapat mencegah erosi berkelanjutan dan membantu meningkatkan habitat perairan.

Hanya saja, reklamasi memiliki dampak negatif yang justru merusak alam dan biota laut, seperti pencemaran laut, berpotensi mengakibatkan sedimentasi tanah dan laut, perubahan hidro-oseanografi, kerusakan habitat dan ekosistem laut, potensi pencemaran udara, akses masyarakat ke pantai menjadi terbatas serta peningkatan keruhnya air bersih maupun air laut.

Negara yang sukses melakukan reklamasi

Meski mengundang perdebatan dan kontroversi, ada beberapa negara yang sukses menjalankan program reklamasi sebagai usaha berkelanjutan.

Pertama adalah Singapura. Negara terkecil di semenanjung Asia Tenggara ini merupakan salah satu wilayah yang terus memperluas wilayahnya melalui pendekatan reklamasi.

Singapura bertujuan untuk menambah lahan-lahan produktif yang bersifat mendapatkan keuntungan maksimal. Dengan adanya reklamasi, Singapura telah memiliki masterplan jangka panjang hingga 50 tahun mendatang.

Belanda juga terbilang sukses melakukan reklamasi, bahkan memiliki sistem drainase irigasi yang sangat canggih. Sebab, sebagian wilayah negara ini berada di bawah permukaan laut. Contoh, Bandara Schiphol yang terletak di 4,5 meter di bawah permukaan laut.

Saking suksesnya sistem drainase air yang bagus dan pembuatan dinding raksasa, sistem reklamasi yang dilakukan di Belanda akan diadaptasi di negara lain.

Negara lain yang menerapkan reklamasi adalah Uni Emirat Arab, tepatnya di Palm Island. Pulau buatan yang terletak di kota Dubai itu diciptakan oleh Sheikh Mohammed Rashid Al Maktoum. Ia bertujuan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di semenanjung Arab.

Dengan adanya Palm Island, luas wilayah daratan di Uni Emirat Arab bertambah 250 kilometer persegi.

Tak kalah sukses, Korea Selatan juga melakukan reklamasi daratan Song Do di semenanjung timur laut Korea. Wilayah reklamasi tersebut memiliki luas keseluruhan 38 ribu hektar yang terdiri dari tiga zona; zona resor, bandara Internasional Incheon, dan kawasan industri.

Keberhasilan reklamasi di Korea Selatan dibuktikan dengan kesuksesan Bandara Internasional Incheon sebagai salah satu lalu lintas udara strategis di dunia.

Untuk tujuan yang serupa, Jepang juga pernah melakukan reklamasi di prefektur Kyoto. Tujuan reklamasi seluas 10 kilometer persegi tersebut adalah menunjang kebutuhan logistik laut dan perluasan Bandara Internasional Kansai.

Bila disimpulkan, daratan reklamasi juga bisa diterapkan sebagai sistem berkelanjutan misalnya tempat hunian yang memiliki keasrian alam yang lebih baik. Bagi Anda yang sedang mencari hunian impian dengan nuansa alam, dapat mengunjungi tautan ini.