Lokadata.ID

Menjawab kekhawatiran nihilnya kasus korona di Indonesia

Ilustrasi masyarakat Indonesia di Stasiun Besar Bogor, Jawa Barat, Minggu (9/6/2019).
Ilustrasi masyarakat Indonesia di Stasiun Besar Bogor, Jawa Barat, Minggu (9/6/2019). Arif Firmansyah / Antara Foto

Jumlah kematian akibat virus Covid-19 alias korona mencapai 1.383 di seluruh dunia. Sementara itu, di Indonesia belum ada laporan pasien positif terjangkit penyakit yang menyebar secara masif tersebut.

Setelah sempat ragu akan nihilnya kasus di Indonesia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya mengakui, Indonesia telah mengambil langkah konkret dalam menghadapi virus tersebut.

Kementerian Kesehatan dan sejumlah mitra di Indonesia juga telah memiliki alat tes yang diperlukan untuk melakukan tes khusus guna mendeteksi infeksi virus korona dengan cepat.

“Seperti dilaporkan oleh Departemen Kesehatan semua sampel yang dikumpulkan dan diuji telah mengembalikan hasil negative pada 12 Februari 2020,” jelas representatif WHO di Indonesia, Dr N. Paranietharan saat dihubungi Kompas.com, Kamis (12/2/2020).

Sebelumnya, kekhawatiran itu muncul setelah The Sydney Morning Herald pekan lalu mengatakan Indonesia belum memiliki alat tes khusus yang diperlukan untuk mendeteksi kasus positif virus korona dengan cepat.

Lalu, ada juga beberapa studi yang belum melalui proses pemeriksaan oleh sesama peneliti, tapi terlanjur dikutip dalam banyak laporan media yang menyebutkan Indonesia gagal mendeteksi adanya korona.

Ditambah lagi soal potensi yang cukup besar, mengingat jumlah wisatawan Tiongkok yang datang menyentuh angka dua juta jiwa.

Dr N. Paranietharan pun sempat khawatir karena Indonesia belum melaporkan satu pun kasus virus korona yang terkonfirmasi.

Sementara itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Wiendra Waworuntu, mengatakan bahwa Indonesia telah belajar dari pengalaman sebelumnya dalam menangani wabah, termasuk wabah Sindrom Pernapasan Akut (SARS) 2002-2003.

Berdasarkan data WHO, selama epidemi SARS yang menewaskan 774 orang di 17 negara, Indonesia hanya mencatat dua kasus.

Mengapa belum ditemukan kasus virus korona baru di Indonesia?

Sementara itu, banyak yang menerka, iklim tropis di Indonesia menghambat perkembangan virus, atau sistem kekebalan Indonesia berperan; namun hal ini masih perlu penelitian lebih lanjut.

Vivi Setiawaty, kepala pusat penelitian biomedis di Balitbangkes mengatakan, masih terlalu dini untuk menentukan karakteristik virus. Menurutnya, walaupun virus tidak akan aktif pada suhu antara 50 dan 70 derajat Celcius, tetapi kasus korona telah dikonfirmasi di negara dengan iklim serupa.

Apalagi negara tetangga seperti Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina telah menemukan kasus virus korona. Filipina bahkan telah mencatat kasus kematian pertama akibat virus korona di luar negara Tiongkok.

Kepala lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute, Amin Soebandrio mengatakan memang betul bahwa virus korona pada umumnya peka pada suhu yang lebih hangat dan tidak tahan terlalu lama di permukaan yang kering. Tetapi informasi tersebut berdasarkan sifat virus korona yang lain, bukan spesifik virus Covid-19.

Sehingga menurutnya belum bisa dipastikan apakah perkembangan virus Covid-19 terhambat oleh iklim yang lebih hangat. "Kita berharap seperti itu, tapi jangan membuat kita jadi lengah karena menganggap cuaca atau iklim akan melindungi kita," ungkap Amin pada BBCIndonesia, Rabu (12/02/2020).

Ia juga mengatakan, belum ada bukti spesifik yang menunjukkan adanya keunikan dalam sistem imun warga Indonesia dalam menangkal virus korona. "Saat ini kita hanya berharap masyarakat punya kekebalan atau host (inang) yang tidak disukai oleh si virus," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono, menyebutkan terdapat tiga faktor yang mempengaruhi penularan penyakit, yaitu agen, virus itu sendiri, serta inang dan lingkungan.

Anung mengatakan dua faktor terakhir masih menimbulkan banyak pertanyaan yang belum terjawab dalam upaya untuk memahami, secara ilmiah, mengapa Indonesia belum mencatat kasus apa pun.

"Ketika kita berbicara tentang inang, sistem kekebalan terhadap Covid-19 berbeda dari satu orang ke orang lain, satu etnis ke yang lain. Inilah yang akan kita pelajari lebih lanjut, apakah faktor-faktor ini menyebabkan tidak ada kasus ditemukan di Indonesia, "kata Anung.

Balitbangkes sebagai satu-satunya lembaga yang berwenang melakukan pengujian virus Covid-19, mengatakan pada hari Kamis (13/02/2020) telah memeriksa 77 kasus; 71 kasus dinyatakan negatif, sedangkan dua lainnya masih dalam pemeriksaan.