Lokadata.ID

Heboh produk Nestle yang tak sesuai standar kesehatan

Ilustrasi logo Nestle.
Ilustrasi logo Nestle. Dennis Diatel / Shutterstock

Laporan Financial Times tentang dokumen internal Nestle, yang menyatakan sekitar 60 persen produk mereka tidak sehat, menghebohkan masyarakat. Isu sensitif ini juga berembus kencang di sini karena banyak produk makanan asal Swiss itu beredar.

Maklum saja, di Indonesia terdapat 516 produk Nestle yang terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mulai dari makanan, minuman, susu formula bayi hingga bumbu penyedap.

Dokumen Nestle tersebut mengungkap hanya 37 persen dari produk perusahaan mendapat peringkat di atas 3,5 dalam sistem peringkat kesehatan Australia. Sistem peringkat itu menilai produk makanan dengan memberi angka maksimal 5. Sementara, 3,5 merupakan ambang batas produk makanan yang sesuai dengan standar kesehatan.

Nestle Indonesia menyatakan bahwa analisis yang dimuat dalam laporan tersebut hanya mencakup sekitar setengah dari portofolio penjualan global Nestle. Tidak termasuk di dalamnya produk gizi bayi dan anak, gizi khusus, makanan hewan peliharaan, juga kopi.

“Jika dilihat dari keseluruhan portofolio produk kami berdasarkan total penjualan global, kurang dari 30 persen tidak memenuhi standar 'kesehatan' eksternal yang ketat," tulis Nestle dalam pernyataan resmi yang diterima Lokadata, Selasa (8/6/2021)

Produk yang tak memenuhi standar kesehatan itu didominasi produk-produk indulgent (memanjakan), seperti cokelat dan es krim, yang "bisa dikonsumsi dalam jumlah cukup sebagai bagian dari pola makan sehat, seimbang, dan menyenangkan," tulis Nestle.

Selama tujuh tahun terakhir, Nestle telah mengurangi kandungan gula dan natrium dalam produknya hingga sekitar 14 persen sampai 15 persen, dan berjanji akan terus membuat produknya lebih sehat.

Badan POM menyatakan telah mengevaluasi aspek keamanan, mutu, gizi dan label termasuk pencantuman informasi nilai gizi dalam memberikan Nomor Izin Edar (NIE) produk pangan olahan tak terkecuali produk Nestle yang beredar di Indonesia.

Direktur Corporate Affairs Nestle Indonesia Debora R. Tjandrakusuma mengatakan, pada 2020 Nestle melakukan reformulasi produk dengan mengurangi kadar gula hingga 28 persen. “Kadang konsumen kami masih komplain juga karena kurang manis,” ujarnya, Selasa (8/6).

Pada 2020, perusahaan ini juga mengklaim telah memperkaya nutrisi 4,5 miliar sajian produknya.

Ahli gizi klinis dr Inge Permadhi saat dihubungi Lokadata, Selasa (8/6/2021) pun menyatakan Badan POM memiliki aturan ketat dan menguji produk dengan saksama sebelum bisa beredar di Indonesia.

“Mereka punya andil besar melindungi masyarakat. Tentu ini harus didukung produsen dengan tidak membohongi konsumen. Tidak semua masyarakat bisa memahami informasi nilai gizi dalam kemasan produk,” ujar Inge.

Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) menyarankan BPOM melakukan investigasi terhadap produk makanan yang beredar. Jika produk yang beredar tidak sesuai regulasi teknis, maka harus dikenakan sanksi dan produknya harus ditarik.

Saham Nestle

Pergerakan harga saham Nestlé S.A di bursa Swiss cukup fluktuatif. Namun, sejak kabar ini merebak (31/5), harga saham Nestle S.A malah terus menanjak naik, dari 110,70 CHF (akhir Mei) menjadi 113,92 CHF atau naik 2,9 persen pada 9 Juni 2021.

Selama periode itu, harga saham perusahaan ini hanya sekali "terpeleset" dari 112,90 CHF menjadi 112,82 CHF atau turun 0,07 persen pada 7 Juni.

Belum diketahui, apakah kabar tentang kesehatan makanan Nestle berpengaruh pada penjualan produknya di Indonesia. “Kami masih mengases dampak itu karena kejadiannya baru hari Minggu (6/6),” kata Debora dari Nestle Indonesia.

Nestle beroperasi di 186 negara dengan memasarkan lebih dari 2.000 merek. Di Indonesia, Nestle memiliki anak perusahaan yaitu Nestle Indonesia, yang didirikan sejak 1971.

Mayoritas saham (lebih dari 90 persen) Nestle Indonesia dikuasai oleh perusahaan induk Nestle SA, yang berpusat di Vevey, Swiss.