Lokadata.ID

Merayu itu berat, biar Dilan saja

Aktris pemeran Milea, Vanessa Precilla (kiri) dan pemeran Nandan, Debo Ardyos (kanan) menandatangani poster film pada acara "Meet and Greet Film Dillan 1990" di Hotel Arista Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (30/1/2018)
Aktris pemeran Milea, Vanessa Precilla (kiri) dan pemeran Nandan, Debo Ardyos (kanan) menandatangani poster film pada acara "Meet and Greet Film Dillan 1990" di Hotel Arista Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (30/1/2018) Feny Selly / Antara Foto
Peringatan: Beberapa detail dalam artikel ini bisa jadi merupakan spoiler.

Dilan (Iqbaal Ramadhan) dengan pede melimpah di atas motor lawas CB 100, menghampiri anak baru di sekolahnya, Milea (Vanesha Priscilla), yang sedang berjalan kaki ke sekolah usai turun dari angkutan umum.

Tanpa basa-basi berarti, jajaka Bandung itu langsung merayu si mojang berdarah Minang-Sunda dengan ramalan pertemuan mereka di kantin siang harinya yang ternyata tak terbukti. Milea yang bahkan tak tahu nama laki-laki itu pun bengong.

Cuplikan adegan tersebut muncul dalam film Dilan 1990 (2018), diangkat dari novel karya Pidi Baiq dan dikemas unyu khas remaja oleh Pidi dan sutradara Fajar Bustomi.

Kejutan Dilan untuk Milea tak hanya sekali. Rayuannya datang bertubi-tubi dan menghantui emosi lewat ramalan, buaian, ajakan, ungkapan perhatian serta perasaan. Dua pertiga obrolan Dilan, selalu diawali bujuk rayu yang membuat Milea tersipu.

Kalau total durasi 35 kalimat rayuan Dilan dihitung, lamanya adalah 7 menit 38 detik. Sekali merayu, Dilan membutuhkan rata-rata 12 detik. Beberapa rayuan butuh waktu lebih lama, seperti kalimat magis "Jangan rindu, berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja", yang diucapkan dalam 14 detik.

Buaian Dilan lainnya yang butuh waktu lebih lama adalah saat ngotot mengantar Milea pulang naik angkutan umum dan bertutur, "Aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore." Kalimat itu sontak membuat Milea lagi-lagi bengong dan kebingungan, sembari pipinya merah merona.

Tak ayal, Dilan cocok bergelar si Raja Gombal. Bak balapan geng motor, Dilan belum berhenti sampai garis finis untuk mengejar Milea. Dia ogah kalah dari tiga pesaingnya, teman sekelas Milea bernama Nandan, Beni yang saat itu masih menjadi pacar Milea, dan guru les privat Milea yakni Kang Adi.

Studi dari DD Henningsen dari Universitas Northern Illinois, Amerika Serikat dan dua koleganya (2008) berjudul Why do we flirt? Flirting Motivations and Sex Differences in Working and Social Contexts mengidentifikasi enam alasan mengapa orang merayu.

Di antaranya tertarik dengan lawan jenis, meningkatkan keintiman dalam hubungan, hiburan, mengeksplorasi potensi hubungan dengan gebetan, melambungkan harga diri dan untuk membujuk seseorang melakukan sesuatu.

Tim Lokadata Beritagar.id mengamati bujuk rayu dalam film cinta remaja tiga generasi, Dilan 1990 (2018), Ada Apa dengan Cinta (2002), dan Gita Cinta dari SMA (1979).

Dalam ketiga film, rayuan tiga pasangan dapat ditafsirkan sebagai bentuk ketertarikan dengan lawan jenis dan mengeksplorasi potensi hubungan dengan gebetan. Dua motif tersebut kentara dalam Dilan 1990, membuatnya bernuansa positif dan ceria.

Soal rayuan, Dilan lebih jempolan dibandingkan Galih (Rano Karno) dalam Gita Cinta dari SMA, apalagi Rangga (Nicholas Saputra) dalam film Ada Apa dengan Cinta.

Rayuan Galih ke Ratna (Yessy Gusman) sebanyak sepertiga dari rayuan Dilan ke Milea, sementara Rangga hanya sepersepuluhnya. Meski gombalan Galih lebih banyak dibanding Rangga, ia tergolong pasif dibandingkan Ratna. Rayuan Ratna justru dua kali lipat dari Galih.

Dilan juga menyalurkan rayuannya lewat telepon umum di kawasan perumahan Margahayu Raya, Bandung, yang menjadi tempat "nongkrong" favorit saat malam. Telepon umum koin saat itu masih populer sejak diperkenalkan pada 1981.

Sembilan kali lewat telepon umum Dilan merayu Milea, termasuk ketika meramal perempuan itu akan menjadi pacarnya. Melalui teleponlah Dilan juga mengungkapkan kerinduannya sebanyak tiga kali.

Selain itu, panglima tempur geng motor ini juga mengirim surat rayuan untuk Milea sebanyak lima kali, isinya ramalan, ucapan ulang tahun dan mengungkapkan perasaan mencintai. "Aku ramal kamu akan jadi pacarku," rayu Dilan.

Rayuan Dilan pun tak kenal tempat. Di rumah (6 kali), jalan (16 kali), sekolah (8 kali), kafe (2 kali) dan angkutan umum (3 kali). Film lainnya hanya memiliki tiga hingga lima variasi tempat menggombal: sekolah, rumah, jalan, dan taman.

Misalnya Galih, yang menggoda Ratna di jalan saat berboncengan:

"Di suatu siang yang sunyi, setahun lalu. Panas matahari membakar badan. Tapi aku tak peduli. Terus mengayuh sepedaku. Tiba-tiba saja rantai sepedaku lepas. Di luar dugaanku, tiba-tiba seorang gadis cantik menghampiriku. Gadis itu ternyata murid baru, yang kebetulan sekelas denganku. Gadis itu pinjam daftar pelajaran lalu mengusap keringatku dengan sapu tangannya. Namanya, Ratna Suminar Sastrowardoyo."

Di lain waktu, saat keduanya berboncengan, Ratna balik menggoda Galih saat ditanya apakah tidak takut kehujanan: "Itu variasinya. Cinta tak kenal hujan. Aku tak takut lagi."

Dibandingkan dengan dua film lainnya, rayuan dalam film Ada Apa dengan Cinta (AADC) tak banyak. Karakter Rangga sangat berbeda dengan Dilan atau Galih. Intensitas dialog Rangga dan Cinta (Dian Sastrowardoyo) pun hampir sama dengan intensitas interaksi Cinta dengan gengnya, redaksi majalah dinding sekolah.

"Sore ini saya mau ke sana (toko buku di Kwitang). Kalau mau ikut ya silakan, kalau nggak juga nggak papa. Saya nggak ngajak kamu kok," ujar Rangga yang dibalas Cinta, "Saya juga nggak ngira kamu bakal ngajak nge-date."

Di pertengahan filmlah keduanya sedikit lebih terbuka soal perasaan. Cinta khawatir Rangga tak muncul di sekolah dan Cinta menghampirinya ke rumah. "Kenapa kesini? Kangen?" tanya Rangga di bibir pintu.

Emosi dalam percakapan

Hubungan Dilan dan Milea yang sama-sama anak tentara ini memunculkan nuansa positif sepanjang dialog dalam film dibandingkan dengan dua pasangan lainnya.

Bagaimana emosi mereka saat ketemu dan via telepon? Diagram di bawah menunjukkan relasi emosi ketiga pasangan dalam tiga film lintas generasi. Di ujung kiri atas, Anda dapat memilih film yang ingin dilihat, selanjutnya klik diagram batang salah satu aktor utama, bisa wanita atau pria untuk mengetahui respons keduanya saat berinteraksi.

Saat mengobrol, baik bertemu langsung maupun lewat telepon, Dilan lebih sering menunjukkan emosi positif seperti senang, percaya diri, antusias, tertawa, tersenyum dan tenang sebanyak 49 kali sementara Milea sebanyak 35 kali.

Emosi yang dominan adalah saat Dilan menggombal dengan penuh percaya diri (21 kali) dan disambut dengan rasa penasaran serta malu-malu dari Milea (16 kali).

Kalau Dilan senang menggoda (16 kali), Milea bakal dibuat bingung (3 kali), tertawa (3 kali) dan tersipu malu (3 kali).

Sebaliknya, bingungnya Milea justru membuat Dilan senang (2 kali) dan cuek (2 kali).

Kisah romansa panglima tempur geng motor dan bintang sekolah ini terbilang mujur lantaran direstui kedua orang tuanya. Tak seperti Galih dan Ratna yang harus mengalami pedihnya cinta terlarang.

Bapak dari Ratna yang berdarah Jawa tak sepakat anaknya menjalin kasih dengan lelaki Sunda dan sudah menjodohkan putrinya dengan insinyur keturunan ningrat. Dalam sebuah suratnya, Ratna bertutur: "Apa dayaku, aku hanya seorang wanita. Aku wanita yang mencintaimu hanya menemui jurang, aku dewasa dalam pelukanmu."

Lain waktu, kesedihan itu nampak saat keduanya akan berpisah. Galih berujar: "Aku telah berusaha menyelami cinta kita, kalau kita nekat mengikuti kemauan, jalan buntu akan menghadang."

Cinta terlarang ini membubuhkan emosi sendu, sedih dan cemas sebanyak 17 kali. Kalau Galih sedang sedih (14 kali), Ratna sering merespons balik sedih (12 kali).

Meski nuansa film ini sedikit suram, dalam beberapa adegan saat asmara mereka membara, Galih dan Ratna sering merayu satu sama lain. Sajak berjudul "Kepada R" ditorehkan Galih untuk tambatan hatinya.

Sekuntum senyum mengembang dalam aliran rasa. Rahasia apa yang diam dalam debaran.

Saat kau seperti kijang mas meloncat - loncat dihadapanku, ku simpan wujudmu dari sepi ke sepi. Ku toreh hatimu dengan pisau naluri. Diammu sendu, hangatmu rindu.

Jika sendu menyerbu film garapan sutradara Arizal yang rilis pada 1979 ini, Rangga dan Cinta dalam AADC bikin deg-deg ser bak roller coaster. Nuansa emosi positif, netral dan negatif merata sepanjang film yang disutradarai Rudy Soedjarwo ini.

Cinta kerap menunjukkan antusiasnya pada Rangga di awal film, yang dibalas dengan ketus oleh lelaki anak dari aktivis HAM pada era Orde Baru ini. Kalau Cinta lagi penasaran, Rangga malah cuek.

Sebaliknya, saat Rangga kerap bersedih dan merasa bersalah atas sikapnya yang terlampau ketus, Cinta balik ketus dan marah. Romansa pasangan ini bisa dibilang yang paling unik dibanding dua film lainnya. Rangga dan Cinta sama-sama gengsi menunjukkan perasaan mereka.

Bahkan, sosok Rangga sang pujangga ini pintar menyimpan emosi. Ia simpan rapat-rapat perasaannya hingga kejutan manis untuk Cinta yang diberikan sesaat sebelum ia terbang ke New York, mengikuti sang bapak yang pindah bekerja.

"Ketika tunas ini tumbuh, serupa tubuh yang mengakar. Setiap nafas yang terembus adalah kata. Angan, debur dan emosi bersatu dalam jubah berpautan. Tangan kita terikat, lidah kita menyatu... Karena kita adalah satu."

Gaya Rangga itu berkebalikan dengan Dilan yang agresif dan suka merayu. Bahkan di akhir film, ia dengan terang tanpa harus meminta izin Milea, menyatakan keduanya resmi berpacaran.

"Proklamasi. Hari ini, di Bandung, tanggal 22 Desember 1990, Dilan dan Milea, dengan penuh perasaan, telah resmi berpacaran. Hal-hal mengenai penyempurnaan dan kemesraan akan diselenggarakan dalam tempo yang selama-lamanya," tutup Dilan dengan manis.