Lokadata.ID

Miliarder AS bayar pajak nyaris nol, Jeff Bezos: Salahkan aturannya

Anggota Patriotic Millionaires mengadakan protes hari pengisian pajak federal di luar apartemen pendiri Amazon Jeff Bezos, yang menuntut agar ia membayar pajaknya di New York City, Amerika Serikat, Senin (17/5/2021).
Anggota Patriotic Millionaires mengadakan protes hari pengisian pajak federal di luar apartemen pendiri Amazon Jeff Bezos, yang menuntut agar ia membayar pajaknya di New York City, Amerika Serikat, Senin (17/5/2021). Brendan McDermid / ANTARA FOTO/REUTERS

Sebuah dokumen berisi kecilnya pajak penghasilan yang dibayarkan miliarder AS bocor. ProPublica mengklaim telah menemukan pengembalian pajak dari beberapa orang terkaya di dunia, termasuk Jeff Bezos, Elon Musk, Bill Gates, Mark Zuckeberg, Michael Bloomberg, dan Warren Buffett.

Berdasarkan data tersebut, ProPublica mengatakan bahwa 25 orang Amerika terkaya justru membayar pajak lebih sedikit dari kebanyakan pekerja AS. Miliarder yang masuk jajaran teratas daftar orang terkaya Forbes itu rata-rata hanya membayar pajak sebesar 15,8 persen dari pendapatan kotor yang disesuaikan.

Mengutip data Forbes, ProPublica mengatakan kekayaan 25 orang Amerika terkaya secara kolektif melonjak AS$401 miliar dari 2014 hingga 2018. Tetapi, mereka membayar pajak penghasilan hanya AS$13,6 miliar selama tahun-tahun.

Situs web tersebut menuduh Bezos dari Amazon tidak membayar pajak pada tahun 2007 dan 2011. Sementara Musk dari Tesla dituding tidak membayar pajak pada tahun 2018.

Jesse Eisinger, reporter senior dan editor di ProPublica, mengatakan soal permainan pajak itu dalam acara Today Programme, "Kami cukup heran karena Anda bisa mendapat [pajak] turun ke nol padahal Anda seorang multi-miliarder. Sebenarnya membayar nol pajak benar-benar membuat kami merasa sangat kaya. Sangat kaya. Orang dapat menghindari sistem dengan cara yang sepenuhnya legal,” katanya seperti dikutip BBC, Rabu (9/6/2021).

ProPublica mengatakan sedang menganalisis apa yang disebutnya "harta besar” data Internal Revenue Service (IRS), yang berisi rincian pajak para miliarder. Mereka berjanji akan merilis rincian lebih lanjut dalam beberapa minggu mendatang.

Belum ada pernyataan dari miliarder itu. BBC belum dapat mengkonfirmasi klaim media non-profit itu. Namun, dugaan kebocoran ini muncul tepat saat perdebatan tentang jumlah pajak yang dibayarkan oleh orang kaya dan ketidaksetaraan yang melebar berkembang luas di masyarakat.

"Mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk mendapat potongan, menemukan kredit, dan mengeksploitasi celah dalam sistem," kata Eisinger. Jadi, saat nilai kekayaan mereka tumbuh pesat melalui kepemilikan saham di perusahaan mereka, ternyata itu tidak dicatat sebagai pendapatan.

Menurut Eisinger, karena tidak menjual saham dan mengambil pendapatan apapun, mereka tidak dikenai pajak. "Mereka kemudian meminjam dari bank dengan tingkat bunga yang relatif rendah, hidup dari itu dan dapat menggunakan biaya bunga sebagai pengurang pendapatan mereka," katanya.

Situs web tersebut menulis, dengan menggunakan strategi pajak yang sah secara hukum, banyak orang superkaya yang dapat mengecilkan tagihan pajak federalnya. Sehingga, nilai pajak mereka menjadi nol atau nyaris nihil, meskipun kekayaan mereka melonjak selama beberapa tahun terakhir. Apalagi, seperti warga negara yang lain, para taipan itu bisa mengurangi tagihan pajak penghasilan mereka melalui sumbangan amal dan menarik uang dari pendapatan investasi dibanding pendapatan upah.

Nama-nama terkenal

Dilaporkan CNN, nama-nama terpandang di AS seperti Jeff Bezos, Michael Bloomberg, Warren Buffett, dan Elon Musk semuanya masuk ke IRS. Tapi tak satu pun dari mereka, dalam beberapa tahun, yang membayar pajak pendapatan federal secara memadai. Hal yang sama yang dilakukan oleh mantan Presiden Donald Trump.

Jeff Bezos dilaporkan memperoleh AS$99 miliar pada periode 2014 dan 2018. Tetapi penghasilan yang dilaporkannya, jauh lebih rendah, yakni hanya AS$4,22 miliar. Pajak yang dibayarkan pun hanya AS$ 973 juta.

Musk, manusia terkaya ketiga di muka Bumi, yang kekayaannya telah tumbuh miliaran dolar dalam beberapa tahun terakhir dan yang juga memiliki SpaceX, mengatakan kepada pemerintah bahwa dia tidak berhutang pajak penghasilan pada tahun 2018. Skandalnya adalah bahwa tindakan ini sepenuhnya legal.

Michael Bloomberg dan Warren Buffett, yang keduanya mendukung kenaikan tarif pajak untuk orang kaya, memiliki tagihan pajak penghasilan AS$0. Buffett, setidaknya, telah lama mengakui hal ini, dengan mengatakan bahwa dia membayar tarif pajak yang lebih rendah daripada sekretarisnya.

Sementara Bloomberg, mantan wali kota New York yang rincian pajaknya termasuk di antara dokumen ProPublica, mengatakan pengungkapan itu menimbulkan masalah privasi. Ia akan melayangkan gugatan untuk pembocoran itu.

Miliuner George Soros juga diduga membayar pajak minim. Kantornya belum menjawab permintaan komentar dari BBC, tetapi mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada ProPublica bahwa Soros tidak membayar pajak beberapa tahun karena kerugian investasi. Ia telah lama mendukung pajak yang lebih tinggi pada orang-orang terkaya Amerika.

“Kami memiliki catatan tentang ribuan individu terkaya, informasi pajak dan pengembalian pajak, yang mencakup lebih dari 15 tahun. Dan hampir semua nama populer seperti Warren Buffett, Bezos, Michael Bloomberg, Elon Musk. Daftarnya terus bertambah,” kata Eisenger dikutip NPR.

Sikap Gedung Putih

Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki mengingatkan kembali bahwa pengungkapan tidak sah atas informasi rahasia pemerintah adalah ilegal.

Juru bicara Departemen Keuangan Lily Adams mengatakan kepada Reuters bahwa masalah tersebut telah dirujuk ke FBI, jaksa federal dan dua pengawas internal Departemen Keuangan, "yang semuanya memiliki otoritas independen untuk menyelidiki."

Sementara itu Komisaris IRS AS, Charles Rettig, mengatakan tidak dapat berbicara apa pun sehubungan dengan pembayar pajak tertentu. “Saya dapat mengonfirmasi bahwa ada penyelidikan, sehubungan dengan tuduhan bahwa sumber informasi dalam artikel itu berasal dari Internal Revenue Service.”

Presiden AS Joe Biden seperti dilaporkan ABC News, sebenarnya telah berencana menaikkan pajak pada orang Amerika terkaya sebagai bagian dari misi untuk meningkatkan kesetaraan.

Proposal baru Biden mencakup tambahan AS$80 miliar selama 10 tahun untuk meningkatkan audit IRS terhadap individu dan perusahaan berpenghasilan tinggi, dengan tujuan untuk memulihkan sekitar AS$700 miliar.

Rencana pajak Biden mencakup langkah-langkah untuk menghentikan perusahaan menyembunyikan keuntungan di negara-negara dengan tarif pajak rendah. Setiap tahun, AS kehilangan antara AS$40 miliar -AS$120 miliar dari penghindaran pajak luar negeri.

Akhir pekan lalu, negara demokrasi kaya G7, termasuk Amerika Serikat, sepakat untuk mendukung pengenaan pajak minimum pada perusahaan global setidaknya 15 persen. Hal ini untuk mencegah perusahaan multinasional menghindari pajak dengan menyembunyikan keuntungan di negara-negara dengan tarif rendah.

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip DW April lalu, Jeff Bezos mengatakan ia mendukung rencana Biden untuk memungut pajak tinggi demi pendanaan infrastruktur. Mengenai tudingan penggelapan pajak Amazon, ia mengatakan bahwa perusahaannya membayar sesuai aturan yang berlaku. “Kalau kemudian jadi terlalu kecil, silakan salahkan aturannya.”