Lokadata.ID

Minimarket menjamur, tapi toko kelontong dan pasar tradisional tak mati

Ilustrasi perdagangan eceran di Indonesia, salah satu penopang sektor perekonomian.
Ilustrasi perdagangan eceran di Indonesia, salah satu penopang sektor perekonomian. Tito Sigilipoe / Lokadata.id

Tanpa perdagangan, hampir mustahil kita bisa hidup -- kecuali jika kita sangat kaya, atau sangat miskin. Lima tahun lalu, Andy George, warga Minneapolis, Amerika Serikat, mencoba membuat sandwich isi ayam yang semua bahannya, dia usahakan sendiri.

George mulai dengan menyemai, memanen, dan menggiling gandum untuk membuat roti; menimba air laut untuk bikin garam; tanam timun untuk acar; menyemai tomat, lettuce dan paprika sebagai sayur pelengkap; memerah susu sapi untuk diolah jadi keju; memanen madu; bahkan menyembelih ayam sendiri.

Anda boleh tebak, berapa lama kira-kira waktu dan berapa banyak dana yang dihabiskan George untuk membuat satu sandwich sederhana? Jangan kaget: youtuber ini memerlukan waktu enam bulan dan ongkos AS $1.500, atau sekitar Rp20 juta.

George ingin menunjukkan, setangkup roti isi yang biasa Anda beli dari kedai fastfood, harganya mungkin hanya Rp40.000, sesungguhnya merupakan rangkaian dari puluhan, barangkali juga ratusan, rantai pasok yang sebagian besar disatukan oleh “perdagangan”.

Syukurlah kita masih bisa membeli sekerat tempe goreng yang harganya mungkin hanya Rp2.000, tapi kedelainya dikapalkan dari Brasil, bawang putihnya diangkut puluhan ribu kilometer dari China, dan minyak sawitnya ditanam petani Sumatra. Bayangkan jika untuk makan sepiring nasi rames, Anda harus menyemai padi, menanam kangkung, cabai, memijahkan gurami, serta mengolah terasi sendiri.

Sulit dibantah, perdagangan membuat hidup jadi lebih mudah. Selain itu, transaksi jual-beli juga membuat alokasi sumberdaya lebih optimal. Lahan-lahan subur akan ditanami (tidak lagi ditelantarkan), karena hasil panennya bisa dijual. Perdagangan juga menyuburkan kreasi, inovasi dan terutama menyerap banyak tenaga kerja.

Pelbagai studi membuktikan, aktivitas perdagangan berjalan sejajar dengan peningkatan kesejahteraan. Data Bank Dunia menunjukkan, selama sepuluh tahun terakhir, perdagangan menyumbang 52 persen sampai 61 persen total produk domestik bruto (PDB) dunia. Bahkan, beberapa negara seperti Luxemburg, Singapura, Hongkong atau Malta, hampir menggantungkan seluruh perekonomiannya pada sektor ini.

Di Indonesia, sektor perdagangan belum melesat pesat seperti di negara berkembang yang lain. Sektor ini baru menyumbang 13 persen PDB, setara dengan sumbangan sektor pertanian, tapi sudah menjadi sumber nafkah bagi 27 juta pekerja (data 2015).

Namun, peran sektor perdagangan dalam perekonomian Indonesia diperkirakan akan terus tumbuh seiring perkembangan mobilitas barang, sistem logistik, dan berbagai aturan yang memungkinkan investor asing menguasai saham perusahaan retail. Dalam Global Retail Development Index (RDGI) 2019, lembaga konsultan global AT Kerney menempatkan Indonesia dalam lima teratas negara layak investasi sektor perdagangan setelah China, India, Malaysia, dan Ghana.

Perkembangan teknologi digital sepuluh tahun terakhir memutar mesin perdagangan bergerak lebih cepat melalui penjualan online. Kini, semua orang bisa jadi pedagang tanpa harus membuka toko secara fisik.

Konsumen juga berkesempatan membeli barang langsung ke produsen, tanpa melalui distributor atau pengecer. Bahkan, pembeli bisa bertransaksi antarnegara tanpa melalui importir. Pertumbuhan perdagangan online memang mulai mengancam kelangsungan bisnis toko-toko retail, tapi sekaligus juga membuat sektor ini semakin efisien.

Musti diakui, selain membawa berkah, perdagangan juga jadi musibah, bagi kelompok tertentu. Mereka yang tak efisien, tak produktif dan tak kompeten akan terlempar dari persaingan – tapi karena itu pula, kita bisa menikmati barang yang lebih murah, dan berkualitas.

Ilustrasi tua muda hingga anak-anak berbelanja di minimarket
Ilustrasi tua muda hingga anak-anak berbelanja di minimarket Freepik.com / Freepik.com

Jumlah pasar tradisional tak seluruhnya melorot

Salah satu nyawa dari perekonomian, khususnya perdagangan, adalah subsektor eceran (retail). Begitu Anda membuka dompet untuk membeli sesuatu, Anda telah menekan tombol rantai produksi yang panjang. Stok barang yang Anda beli akan menyusut dari rak minimarket. Penyusutan ini akan menjadi sinyal yang mengkomando produksi ke pabrik, yang kemudian diikuti dengan pembelian bahan baku.

Dalam derajat tertentu, perdagangan barang (terutama barang tidak esensial/non-pangan), juga menunjukkan keyakinan orang pada perekonomian. Anda akan membeli jeans atau lemari es, jika Anda yakin dengan masa depan dan keamanan keuangan Anda. Karena itu, pertumbuhan perdagangan eceran dianggap sebagai salah satu "thermometer” dalam perekonomian.

Untuk merekam pertumbuhan dan dinamika retail di Indonesia, Lokadata.id menyisir 514 kota/kabupaten di tanah air. Melalui data Potensi Desa BPS dari tahun 2014 – 2018, kami menjaring wilayah yang kehidupan perekonomiannya gemerlap oleh sektor perdagangan.

Ini merupakan bagian dari ikhtiar Lokadata.id menemukan kota-kota pilihan, yang berpotensi menjadi pusat pertumbuhan di masa depan.

Kami menetapkan 25 kota/kabupaten yang sektor perdagangan menyumbang paling kurang 25 persen dari produk domestik regional bruto (PDRB). Seperti diduga, sebagian besar dari wilayah ini merupakan “kota”, hanya satu yang berupa kabupaten, yaitu Kabupaten Bireun, di Aceh.

Perdagangan di Kota Sukabumi menyumbang 41 persen PDRB. Ini merupakan kontribusi terbesar sektor perdagangan terhadap PDRB kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Urutan kedua Kota Bukittinggi (33 persen PDRB), disusul Kota Cirebon (32 persen).

Dari daftar tersebut, ada beberapa petunjuk menarik. Misalnya, dalam empat tahun terakhir (2014-2018), tak semua kota mengalami penurunan jumlah pasar tradisional, sedangkan jumlah minimarket dan toko kelontong, sebagian besar terus meningkat. Ada delapan dari 25 daerah yang jumlah pasar tradisionalnya meningkat (beberapa dalam laju yang pesat), dan hanya lima kota yang minimarketnya menyusut, yakni Sukabumi, Pekanbaru, Kota Jambi, Gunungsitoli dan Banjar.

Peningkatan terbesar jumlah pasar tradisional terjadi di Sungai Penuh. Kota kecil dengan penduduk 89.000 jiwa (PDRB Rp4,4 triliun) di Provinsi Jambi ini jumlah pasarnya berlipat empat kali, dari enam pasar (tahun 2014) menjadi 23 pasar (2018), per 100.000 penduduk. Pertumbuhan pasar tradisional yang lain terjadi di Kota Jambi (kota besar, penduduk 596.000 jiwa, PDRB Rp31,3 triliun), yang melonjak hampir tiga kali lipat.

Medan (jumlah penduduk 2,3 juta jiwa, PDRB Rp148 triliun) juga membuat catatan yang mengejutkan. Selama 2014 – 2018, jumlah pasar tradisional di kota metropolitan Sumatra Utara ini juga meningkat dari empat menjadi sembilan pasar per 100.000 penduduk.

Perkembangan fasilitas perdagangan eceran 2014-2018.
Perkembangan fasilitas perdagangan eceran 2014-2018. Lokadata.id / Lokadata.id

Minimarket menjamur, tapi tak selamanya membunuh

Sementara itu, minimarket menjamur bukan hanya di kota metropolitan dengan PDRB puluhan/ratusan triliun, seperti Surabaya, Medan dan Bandung, tapi juga menelusup masuk hingga ke kota kecil seperti Kota Solok, Sungai Penuh, Palopo dan Sibolga. Kota metropolitan didefinisikan sebagai kota dengan jumlah penduduk di atas satu juta jiwa, sedangkan kota kecil dengan penduduk di bawah 100.000 jiwa,

Rekor kepadatan minimarket dipegang Kota Solok (penduduk 69.000 jiwa, PDRB Rp2,7 triliun), di Sumatra Barat, dengan 49 minimarket per 100.000 penduduk. Kota Bukittinggi (128.000 jiwa, PDRB Rp5,8 triliun), juga di Sumbar, menempati posisi kedua dengan 34 minimarket, disusul Bandung (kota metropolitan, penduduk 2,5 juta jiwa, PDRB Rp185 triliun), dengan 32 minimarket per 100.000 penduduk.

Dari sisi jumlah, minimarket tumbuh paling pesat di kota-kota kecil dan sedang. Di Palopo (penduduk 180.000 jiwa, PDRB Rp5,1 triliun) jumlah minimarket melonjak hampir 2,5 kali lipat, disusul Kota Sibolga (kota kecil, 87.000 jiwa, PDRB Rp3,3 triliun) naik dua kali lipat, dan Mojokerto (128.000 jiwa, PDRB Rp4,7 triliun) yang tumbuh dari 17 menjadi 29 minimarket per 100.000 penduduk.

Apakah pesatnya penetrasi minimarket membunuh toko kelontong? Mungkin saja. Tapi data Pondes BPS 2014 – 2018 setidaknya menunjukkan, pertumbuhan minimarket justru kerap diikuti dengan kenaikan jumlah toko kelontong. Di Palopo, misalnya, pertumbuhan minimarket diimbangi kenaikan toko kelontong dengan laju yang setara.

Di Sibolga, penetrasi minimarket juga dibarengi dengan pertumbuhan jumlah toko kelontong, dengan laju jauh lebih cepat: sampai empat kali lipat. Di kota besar seperti Surabaya dan Cirebon, pertumbuhan minimarket juga diimbangi kenaikan jumlah toko kelontong. Hanya di Mojokerto, perkembangan pesat minimarket disertai dengan penurunan kepadatan toko kelontong.