Lokadata.ID
Nanik Soelistiawati: Saya gak mau jemawa saat pandemi
Dokumen pribadi Dokpri/Nanik Soelistiawati

Nanik Soelistiawati: Saya gak mau jemawa saat pandemi

Ia membatasi produksi makanan asin dan terus cari cara agar pegawainya tetap sehat dengan menerapkan protokol ketat.

Berbulan-bulan ia mengunjungi tempat parkir masjid dan gereja tiap akhir pekan. Hanya untuk menyelipkan brosur pisang goreng ke wiper mobil dan jok motor. Yang terjadi selanjutnya adalah keajaiban: usahanya menjelma jadi jajanan legendaris Ibu Kota.

"Anda pikir saya muncul gitu aja dengan pisang goreng yang diejek gosong ini. Ha-ha,” ujar Nanik Soelistiawati, pemilik usaha Pisang Goreng Madu Bu Nanik ini--menceritakan perjuangannya dulu.

Sekilas, tampilan hitam pisang miliknya memang terlihat tak menarik. Awal kemunculannya pun sering diejek dan diabaikan. Bahkan jarang sekali orang mau mencicipi ketika Nanik menjajakannya di gerobak pinggir jalan.

Namun, berkat pisang hitam itu, kini Nanik jadi terkenal. Usahanya berkembang dan berkali-kali mendapat penghargaan sebagai jajanan sore favorit dari perusahaan teknologi jasa ojek. “Ini adalah rejeki pisang hitam manis saya,” kata perempuan berusia 65 ini kepada Heru Triyono saat wawancara via Zoom pada Kamis siang (9/10/2020).

Bisa dibilang, Nanik adalah ratu pisang goreng saat ini. Imajinasinya tak pernah berhenti untuk berinovasi dan berekspansi. Ia bereksperimen dengan ubi, cempedak dan makanan asin lainnya, seperti tahu atau nasi bakar.

Selama pandemi, strategi bisnisnya diuji. Ia merampingkan pegawainya yang dulu mencapai 70-an orang. Tapi, menu pisang gorengnya tetap menjadi salah satu menu yang paling banyak dibeli di GoFood dan GrabFood.

Berikut tanya jawabnya:

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi

Sebenarnya bagaimana kondisi bisnis Anda di tengah pandemi yang berkepanjangan ini?
Omzet tentu ndak sama dengan biasanya. Kira-kira ada penurunan hampir 40 persen. Soalnya enggak semua menu kita bikin.

Kita hanya produksi beberapa menu saja yang benar-benar jadi favorit pembeli. Seperti pisang, cempedak dan ubi.

Menu lain seperti nasi bakar?
Baru saja dibikin lagi. Sebelumnya sih enggak. Itu juga hanya dua varian, biasanya ada lima varian.

Intinya, yang asin-asin itu enggak diproduksi dulu. Kayak tahu tempur atau martabak granat.

Omzet saat situasi sedang normal berapa memangnya?
Saya tidak bisa membagi soal itu. Maaf. Saya tidak mau sombong atau apa.

Apakah produksi menu yang terbatas ini karena menurunnya permintaan pembeli?
Bukan itu. Kalau menu kita diproduksi semua, antriannya panjang dan berjubel-jubel di toko. Bikin macet jalanan juga. Kan kita harus ada jarak saat pandemi begini.

Cara berjualan menu kita pun diubah. Ada sistem paket. Enggak bisa beli satuan. Jadi cepat transaksinya dan tidak antri.

Dulu kan bisa tuh beli risol satu, pisang lima dan sebagainya. Kalau sekarang ya harus paket. Paket pisang lima, 10 atau 20.

Nah, bagaimana mengontrol antrean pembeli yang ramai, terutama ojek online
Ya buat jarak dan wajib pakai masker. Masuk toko pun kita tes suhu badan dan harus memakai hand sanitizer.

Karena sudah ada menu paket tadi, ojol pun tidak ngantri. Karena proses pembelian berlangsung cepat.

Strategi paket menu dan produksi terbatas tadi memengaruhi cash flow secara signifikan?
Ada pengaruhnya. Tapi boleh dibilang masih lumayan karena penjualan kita syukurnya masih bagus.

Yang utama pada saat ini ya kesehatan. Makanya saya benar-benar ngawasin dan mengatur agar istirahat karyawan itu cukup.

Mereka juga melakukan rapid test dengan serum sebulan sekali. Ini untuk jaga-jaga.

Karyawan ada yang dirumahkan?
Karena menu yang dibuat terbatas, ya kita rumahkan dulu sementara yang DW (daily worker). Mereka kita kasih insentif.

Kita juga enggak bikin menu yang asin. Sehingga memakai pegawai yang inti saja. Tidak banyak seperti sebelumnya, di mana ada 78 pekerja di sini.

Bukankah ‘Pisang Goreng Madu Bu Nanik’ termasuk menu paling laku di GoFood dan GrabFood saat pandemi—sehingga butuh banyak tenaga untuk produksi?
Iya. Tapi yang penting sekarang kan bukan cari uang, tapi cari kesehatan. Kita ini sangat ketat terhadap protokol.

Karyawan juga wajib pakai masker, face shield, dan melewati bilik steril. Kita benar-benar hidup sehat sekali.

Apakah masih bisa menghabiskan lima peti pisang raja atau setara 50 kilogram dalam sehari?
Kalau pisang tidak begitu terpengaruh. Karena itu favorit di sini. Enggak drop banget lah, meski ada pengurangan jumlah.

Kali ini kan memang kita menjual hanya pisangnya. Sehingga harus menjaga mutu dan kualitasnya.

Tingkat kematangannya harus seperti apa pisang itu?
Intinya, rasa manis itu harus dari pisangnya. Bukan dari gula. Kita kan gak pakai pewarna atau pengawet lho. Hanya tepung dan madu.

Madunya pun enggak terlalu banyak, karena manisnya itu murni keluar dari air pisangnya. Untuk mendapatkan manis itu, ya harus tua pisangnya.

Pasokan pisang tidak terganggu saat pandemi?
Itu yang terus kita jaga. Karena dalam berbisnis ya harus jaga mutu. Kalau pisangnya tidak berkualitas, ya kita tidak pakai.

Selain mutu, kita juga harus ikuti perkembangan zaman. Misalnya dengan ikut ojol. Itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan bisnis ini.

Bermitra dengan ojol itu adalah inisiatif Anda?
Saya ini orang kuno dan gaptek. Dua anak saya yang sekolah di luar negeri membantu bisnis ini setelah lulus.

Mereka yang mengusulkan untuk bermitra dengan Gojek awalnya, sekitar 2015.

Ya. Anak-anak berkolaborasi dengan saya. Saya di bagian dapur ciptakan menu-menu, mereka ngurusin manajemen.

Kemitraan itu langsung mendongrak penjualan?
Pada awalnya belum. Satu hari paling cuma satu dua yang pesan. Kemudian ya lama-lama meningkat.

Saat ini jumlah pemesanan itu mencapai ribuan ya dalam sehari?
Pokoknya 60 persen penjualan itu datang dari aplikasi ojek online. Kalau saya bilang jumlahnya berapa, nanti Anda tahu omzetnya ha-ha.

Saya gak mau jemawa saat pandemi begini.

Ya, untuk luar Jawa, kami bermitra juga dengan Paxel (startup logistik berbasis teknologi), yang bisa mengirim pisang goreng di hari yang sama.

Ini butuh waktu 12 tahun untuk akhirnya kita berani ekspansi ke luar daerah. Termasuk ke luar negeri seperti Singapura dan Hongkong.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi

Apakah menjalankan bisnis di tengah pandemi ada dalam bayangan Anda yang sudah mulai usaha kuliner sejak 1994?
Dari awal usaha katering sampai bisnis pisang goreng (2007), saya gak pernah bayangkan ada pandemi ini. Tapi kita jadi belajar kan, bahwa kesehatan itu sangat penting.

Ini yang kita utamakan, di samping tetap bekerja keras—di situasi sulit ini. Saya bilang itu ke anak-anak dan pegawai.

Dua anak Anda memang disiapkan untuk masuk manajemen usaha Anda?
Enggak. Mereka sekolah di luar negeri ya sesuai keinginan mereka.

Ya, memang suka ada sindiran. Sekolah jauh-jauh, ujungnya cuma jualan pisang goreng. Itu jadi tantangan untuk mereka.

Saya juga bilang ke mereka, mending jual pisang sendiri, daripada diperintah orang dan diatur waktu kerjanya. Ya kan.

Saat memulai usaha katering itu mereka juga sudah terlibat?
Kalau katering mereka angkat tangan. Mereka mau membesarkan pisang goreng saja sama toko. Dan, tidak mudah lho membesarkan pisang goreng ini. Penuh cerita.

Saya itu awalnya ikut dari bazzar ke bazzar. Selalu bawa kartu nama untuk diberikan ke orang. Saya pernah ketemu artis Tika Panggabean di kampus Trisakti.

Dia saya kasih pisang gratis untuk mencoba dan besok-besoknya asisten dia langsung pesan. Saya senang.

Itu cara promosi Anda?
Iya. Yang penting orang coba dulu. Kalau promosi di televisi dan radio kan biayanya besar. Enggak kuat saya.

Biasanya pada Sabtu dan Minggu saya bikin brosur. Kemudian saya sebarkan brosur itu dengan naik motor ke masjid, gereja dan saya selipkan ke wiper mobil. Itu sekitar tahun 2007.

Tampilan pisang goreng gosong ini memang sejak awal ya?
Nah, memang banyak yang meragukan awalnya. Bahkan saat saya jualan pakai gerobak di pinggir jalan, susah sekali menjualnya.

Jarang ada yang mau cicipin. Selalu bilang, ah pisang gorengnya gosong. Lalu pergi.

Tapi, pada akhirnya, semua itu terjawab. Yang mencicipi, walau sedikit, akhirnya menyebar rasa pisang buatan saya itu dari mulut ke mulut.

Secara bertahap, orang-orang pada pesan. Kemudian mulai ramai tahun 2017-2018, ketika saya mendapat tiga medali untuk kategori favorit jajanan sore dari salah satu ojol.

Sebenarnya Anda menyadari bahwa penampilan gosong itu enggak bagus ya?
Saya tahu itu. Makanya moto kita adalah si hitam manis kan. He-he. Sejak 2007 sampai sekarang ya tampilannya enggak berubah.

Kalau sayanya memang berubah ya jadi keriput sana-sini. Pisangnya ya enggak, tetap hitam manis selamanya. Ha-ha.

Anda masih ingat momen pertama kali masak pisang goreng madu ini?
Sebenarnya mulai iseng goreng pisang itu pada tahun 1994, ketika masih menggeluti bisnis katering. Dulu sih ibu saya sering gorengin pisang sisaan dari rumah makannya di Jawa Timur. Enak.

Resep pisang goreng ini dari ibu Anda?
Oh enggak. Ibu saya itu senangnya masak masakan Jawa Timur. Kalau bapak, suka masak chinese food. Jarang masak makanan kecil begitu.

Pertama kali bikin goreng pisang memang sudah pakai pisang raja?
Iya. Raja itu saya utamakan. Memang susah memilihnya. Kalau salah, bisa-bisa dapat pisang yang sepet.

Tapi kalau dapat yang tua, manisnya manis sekali. Kalau untuk keluarga sih biasanya saya goreng pisang ulin atau kepok.

Kenapa enggak pakai pisang nangka atau tanduk, bukankah itu juga manis?
Pisang nangka itu ada asamnya, sama seperti tanduk. Kita enggak bisa pakai itu. Kalau menurut saya, pisang raja adalah yang paling enak.

Ragamnya juga banyak. Ada raja ketan, raja bulu dan yang baru itu adalah raja medan. Gede-gede pisangnya. Bagus.

Bagaimana Anda melihat persaingan bisnis ini. Bahkan ada yang penampilannya mirip pisang goreng Anda?
Iya. Dulu itu saingannya dengan pisang goreng Kalimantan. Tapi saat ini banyak sekali yang menjual pisang goreng madu.

Bahkan memakai foto saya segala. Saya keberatan.

Rejeki kan di tangan Tuhan ya. Rasa kan pasti berbeda meski bahannya sama. Itu tergantung pengolahan juga.

Oke. Memangnya Anda memakai madu apa sehingga rasanya jadi enak?
Kalau itu rahasia. Ha-ha.