Lokadata.ID

Neraca perdagangan Agustus surplus AS$2,33 miliar

Ilustrasi  ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo, Banda Aceh. (19/1/2019)
Ilustrasi ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo, Banda Aceh. (19/1/2019) Ampelsa / ANTARA FOTO

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Agustus 2020 surplus AS$2,33 miliar, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar AS$3,26 miliar.

Surplus diperoleh dari posisi nilai ekspor AS$13,07 miliar, sedangkan impor AS$10,74 miliar selama Agustus 2020. BPS juga melaporkan ekspor Agustus 2020 turun 4,62 persen dibandingkan Juli 2020.

Hal yang sama juga terjadi pada nilai ekspor YoY, mengalami penurunan 8,36 persen dibanding Agustus 2019. Hal ini dipicu penurunan ekspor migas dan nonmigas secara tahunan masing-masing 27,45 persen dan 7,16 persen.

Secara bulanan, kinerja ekspor mengalami penurunan di seluruh sektor. Sektor migas turun sebesar 9,94 persen, pertanian minus 2,37 persen, industri pengolahan turun 4,91 persen, serta sektor pertambangan dan lainnya turun 0,28 persen secara bulanan.

“Dari struktur ekspor menurut struktur, 95,32 persen disumbang dari ekspor nonmigas,” ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam siaran pers, Selasa (15/8/2020).

Ekspor nonmigas turun dipengaruhi komoditas logam mulia, minyak nabati, mineral besi dan baja serta alas kaki. Suhariyanto merinci ekspor pertanian turun didorong obat aromatik, rempah-rempah, tembakau, kopi, mutiara dan kepiting. Sedangkan industri pengolahan negatif karena beberapa komoditas seperti logam dasar mulia, kelapa sawit dan sepatu olahraga.Untuk pertambangan, komoditas yang turun seperti batu bara dan biji besi.

“Posisi Januari sampai Agustus 2020 total ekspor Indonesia AS$103,16 miliar, turun 6,51 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Permintaan berbagai negara yang lemah dan aktivitas ekonomi yang belum berjalan normal secara kumulatif menyebabkan penurunan itu,” ujar Suhariyanto.

Impor Indonesia sepanjang Agustus 2020 mencapai AS$10,74 miliar atau naik 2,65 persen dari Juli 2020. Kenaikan terjadi karena ada pertumbuhan impor nonmigas dan migas masing-masing 2,65 persen dan 3,01 persen. Namun, impor secara tahunan dilaporkan turun 24,19 persen yang disumbangkan oleh penurunan dari impor migas dan nonmigas.

Secara bulanan, nilai impor naik untuk barang konsumsi sebesar 7,31 persen, bahan baku/penolong sebesar 5,00 persen. Sementara, impor barang modal turun 8,81 persen secara bulanan.

Suhariyanto menyebutkan barang konsumsi mengalami kenaikan yang didorong oleh impor anggur dari China, susu dari Selandia Baru, dan raw sugar dari India. Kenaikan impor bahan baku dipengaruhi oleh emas dari Hong Kong, kedelai dari Brasil, besi dan baja dari Ukraina, dan part transmition untuk komunikasi dari China. Sementara impor barang modal yang mengalami penurunan terutama dari Vietnam.

Adapun, secara keseluruhan nilai impor sepanjang Januari-Agustus 2020 sebesar AS$92,11 miliar atau turun 18,06 persen dari AS$112,41 miliar secara tahunan.

Tren surplus berlanjut, impor lesu

Sebelumnya, berdasarkan konsensus Bloomberg, ekonom memprediksi neraca dagang pada Agustus surplus sebesar AS$2,10 miliar dengan estimasi bawah AS$1,6 miliar dan atas AS$2,73 miliar.

Bila dibandingkan dengan Juni, ekspor Juli tercatat naik 14,33 persen. Namun, secara tahunan ekspor mengalami penurunan 9,90 persen. Adapun nilai impor turun 2,73 persen dari bulan sebelumnya, atau anjlok 32,55 persen secara tahunan.

Kepala Ekonom BCA David Sumual memperkirakan surplus neraca dagang akan berlanjut. “Surplus neraca dagang masih berlanjut. Impor masih rendah karena turunnya aktivitas ekonomi. Ekspor masih terbantu peningkatan harga komoditas seperti CPO dan mineral,” ujar David kepada Lokadata.id. Senin (14/9/2020).

Harga komoditas ekspor cenderung mengalami kenaikan, seperti crude palm oil (CPO) yang secara bulanan naik 10,03 persen, dan karet yang mengalami kenaikan harga hingga 22,63 persen pada Agustus 2020.

Impor juga diperkirakan masih lesu karena industri masih belum ekspansif. Aktivitas manufaktur mencatat ekspansi pada Agustus, terlihat dari Purchasing Managers' Index (PMI) yang berada di 50,8. Capaian ini meningkat dibandingkan catatan pada Juli yang sebesar 46,9, dan pertama kalinya naik ke ambang batas netral 50,0 sejak Februari.

“Namun IHS Markit mengungkapkan bahwa inventori perusahaan berkurang, menunjukkan mereka memilih untuk belum mendatangkan bahan baku baru yang berarti pengusaha masih pesimistis memandang prospek permintaan ke depan. Sepertinya impor bahan baku, yang terkontraksi 13,3 persen secara tahunan pada Juli, masih akan negatif," ujar Ekonom Mirae Asset, Anthony Kevin, dikutip dari cnbcindonesia.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan surplus pada Agustus 2020 jauh lebih besar dibandingkan neraca perdagangan Agustus 2019 yang mengalami surplus hanya AS$92,6 juta. “Kita tentunya berharap ekspor semakin membaik sehingga surplus meningkat dan perekonomian bisa pulih kembali,” ujarnya.