Lokadata.ID

Normal baru menjelang, kapasitas kamar ICU dan uji PCR masih minim

Petugas medis berada di ruangan laboratorium saat peresmian alat deteksi Real Time-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) di Laboratorium Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Aceh  di Desa Siron, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Kamis (16/4/2020).
Petugas medis berada di ruangan laboratorium saat peresmian alat deteksi Real Time-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) di Laboratorium Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Aceh di Desa Siron, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Kamis (16/4/2020). Ampelsa / ANTARA FOTO

Pemerintah menegaskan tidak ada persiapan khusus di bidang kesehatan untuk menyambut hidup normal baru (new normal) di tengah pandemi Covid-19.

Juru Bicara Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyebut, persiapan untuk memulai normal baru harus menjadi tanggung jawab masyarakat. Dia menyebut pemerintah akan konsisten menjaga ketersediaan tempat tidur di rumah sakit dan kapasitas pemeriksaan swab, terlepas dari ada atau tidaknya normal baru.

“Kita tidak kemudian mengharuskan new normal itu rumah sakitnya tambah banyak, enggak seperti itu. New normal itu kehidupan masyarakat. Ini sesuatu yang beda. Kalau pemeriksaan PCR dalam rangka pandemi Covid-19 itu terus kami tingkatkan,” kata Yurianto kepada Lokadata.id, Kamis (21/5/2020).

Menurut Yurianto, masyarakat harus tetap produktif dan menjalankan protokol kesehatan seperti rutin cuci tangan, menggunakan masker, jaga jarak, serta hindari kerumunan. Hal ini yang disebutnya perlu untuk menghadapi normal baru, alih-alih meningkatkan kapasitas tempat tidur rumah sakit.

Dia mengklaim, tingkat hunian tempat tidur (bed occupancy ratio) rumah sakit secara nasional saat ini masih terkendali. Persentasenya 30 persen dari jumlah tempat tidur tersedia. Karena itu, pemerintah belum berencana menambah lagi kapasitas ruang tidur di rumah sakit.

Mengenai kapasitas uji Polymerase Chain Reaction (PCR), Yurianto menyebut, pemerintah tengah berupaya untuk memenuhi target pemeriksaan 10 ribu spesimen per hari. Dia mengakui hingga kini laju pemeriksaan setiap harinya masih fluktuatif.

“Orang yang diperiksa adanya 10 ribu ya itu karena kita mampu. Kalau misalnya orang yang diperiksa adanya cuman 9 ribu, terus apa iya kami mencari sisanya? Kami tidak memaknai perintah Presiden 10 ribu itu pakai angka. Tetapi Presiden katakan lakukan pemeriksaan secara masif. Sebisa-bisanya tidak ada lagi orang yang menunggu untuk diperiksa,” ujarnya.

Pernyataan berbeda disampaikan Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio. Dia menyebut, Eijkman tengah berupaya meningkatkan kapasitas uji PCR dari rata-rata 400 tes/hari menjadi 1000 tes/hari.

“Kami sedang menyiapkan alat baru untuk meningkatkan menjadi 1000 test per hari. Insya Allah 3 minggu ke depan sudah beroperasi,” kata Amin kepada Lokadata.id.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga Kamis (21/5) sudah ada 160.374 orang yang menjalani pemeriksaan PCR. Jumlah spesimen yang diuji mencapai 219.975 buah.

Bila dirinci, kapasitas rata-rata uji PCR Indonesia sejak kasus Covid-19 pertama ditemukan 2 Maret lalu adalah 2.000 orang/hari, atau 2.749 spesimen/hari. Angka ini masih jauh dari harapan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar uji PCR bisa dilakukan hingga 10 ribu spesimen per hari.

Kapasitas faskes

Pernyataan Pemerintah ihwal tidak adanya persiapan khusus jelang fase normal baru cukup mengherankan. Alasannya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat menyebut bahwa berbagai praktik yang telah berjalan seperti deteksi, uji, isolasi, perawatan, dan penelusuran kontak harus ditingkatkan dalam transisi menuju normal baru.

Pentingnya peningkatan kapasitas pemeriksaan Covid-19 dan layanan kesehatan juga diamini Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman. Menurut Dicky, idealnya rasio pemeriksaan Covid-19 yang ideal berada pada angka 2.000 orang per 1 juta penduduk. Dia juga mengingatkan urgensi peningkatan kualitas pelacakan kontak sebelum normal baru dimulai.

“Yang harus ditingkatkan adalah kualitas dan kuantitas testing Covid-19. Selain lebih tersebar di banyak lokasi, juga lebih mudah diakses, lebih cepat hasilnya, dan bisa lebih banyak menerima sampel. Kemudian tracing ditingkatkan juga kualitasnya dengan target di atas 70 persen,” ujar Dicky kepada Lokadata.id.

Jika melihat data Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan 2018, hingga 2 tahun lalu jumlah tempat tidur Intensive Care Unit (ICU) RS di Indonesia mencapai 7.990 unit. Kapasitas ini jauh di atas angka penderita Covid-19 saat ini yang sudah mencapai 20.162 orang.

Jumlah tempat tidur ruang insentif di Rumah Sakit seluruh Indonesia 2018.
Jumlah tempat tidur ruang insentif di Rumah Sakit seluruh Indonesia 2018. Kementerian Kesehatan / sirs.yankes.kemkes.go.id

Ditilik lebih jauh, rasio tempat tidur ICU di berbagai RS pada lima daerah pemilik pasien Covid-19 terbanyak tak ada yang melampaui 5 persen dari total kapasitas seluruh RS.

Di DKI Jakarta misalnya, berdasarkan data yang sama ada 23.660 tempat tidur di seluruh RS per 2018. Akan tetapi, jumlah tempat tidur ICU-nya hanya sebanyak 650 atau 2,74 persen dari total kapasitas.

Kemudian, total tempat tidur di RS se-Jawa Timur mencapai 44.108. Sedangkan jumlah tempat tidur ICU sebanyak 1.058 (2,39 persen dari total kapasitas RS).

Kondisi tak jauh berbeda ditemukan di Jawa Barat. Per 2018, ada 43.083 tempat tidur yang dimiliki provinsi ini. Akan tetapi, jumlah kasur ICU-nya hanya 925 (2,14 persen kapasitas RS).

Di Jawa Tengah, jumlah tempat tidur pada seluruh RS mencapai 40.893. Kemudian, ada 1.085 (2,65 persen total kapasitas RS) tempat tidur ICU yang tersedia.

Terakhir, ada 14.280 kasur yang tersedia di seluruh RS pada Sulawesi Selatan. Sementara keberadaan tempat tidur ICU hanya sebanyak 440 buah atau 3,08 persen dari total kapasitas RS.

Ruang ICU memegang peranan penting sebagai tempat rujukan ketika kondisi pasien memburuk. Sebabnya, di ruang itu terdapat peralatan-peralatan canggih seperti monitor, selang makanan, dan ventilator untuk membantu pasien bernapas.

Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Persahabatan Dr. Erlina Burhan mengatakan, secara teori 5 persen dari pasien positif Covid-19 membutuhkan ventilator mekanik. “Untuk datanya (jumlah pasien positif Covid-19 yang dirawat di ICU dan ketersediaan ruang ICU) saya nggak punya, tetapi secara teori 5 persen yang dirawat, itu dalam kondisi kritis sehingga membutuhkan ventilator mekanik,” kata Erlina.