Lokadata.ID

Objek wisata Bali kembali sambut wisatawan nusantara

Pedagang menawarkan dagangannya kepada wisatawan di objek wisata Pantai Kuta, Badung, Bali, Selasa (16/7/2019).
Pedagang menawarkan dagangannya kepada wisatawan di objek wisata Pantai Kuta, Badung, Bali, Selasa (16/7/2019). Fikri Yusuf / ANTARA FOTO

Pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA402, yang mengangkut penumpang dari Jakarta menjadi saksi bersejarah pembukaan kembali pariwisata Bali. Penerbangan perdana pasca diperbolehkannya turis nusantara berkunjung ke Pulau Dewata, pada Jum'at, 31 Juli 2020 menerima penyambutan khusus.

General Manager Commercial PT Angkasa Pura I (Persero), Rahmat Adil Indrawan, Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, dan Komandan lanud I Gusti Ngurah Rai, Kolonel Pnb Radar Soeharsono, menanti wisatawan yang tiba dengan kalungan bunga dan suvenir khas Bali sebagai tanda syukur.

Ini menjadi momen perdana Bali membuka pintu masuknya bagi turis nusantara, setelah lebih dari 3 bulan, sejak 18 Maret ditutup akibat pandemi korona. Namun, sedikit berbeda dengan biasanya, pelancong domestik yang tiba wajib mengikuti protokol kesehatan, dan pendataan khusus.

Gubernur Bali, I Wayan Koster sebelumnya menyampaikan, ada 2 syarat khusus bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Bali. Pertama, mereka wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR (Polymerase Chain Reaction), atau minimum hasil non-reaktif rapid test dari lnstansi berwenang.

Kedua, pelaku usaha akomodasi pariwisata di Bali wajib memastikan setiap wisatawan mengisi Aplikasi LOVEBALI, guna mendata pengunjung yang datang ke setiap objek wisata, demi mengantisipasi risiko penularan virus korona.

Prosedur bagi ini berfungsi sebagai strategi promosi, sekaligus upaya untuk memberikan rasa nyaman bagi wisatawan.

"Ini justru memberikan jaminan serta untuk meminimalisir dan menekan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi, baik bagi warga Bali maupun wisatawan. Selain itu, ketika diberlakukan aturan, itu juga akan memberikan gambaran bagi wisatawan bahwa di Bali ini nyaman dan aman," ujar Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati.

Salah satu objek wisata yang sudah kembali membuka usahanya adalah The Nusa Dua Bali. PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero)/ Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), selaku BUMN pengembang dan pengelola destinasi pariwisata The Nusa Dua, Bali dan The Mandalika, NTB, secara resmi membuka kembali lokasinya bagi wisatawan.

Direktur Utama ITDC, Abdulbar M. Mansoer, mengatakan, The Nusa Dua, Bali secara resmi telah bisa menerima kunjungan wisatawan karena terpilih sebagai pilot project destinasi CHSE (Cleanliness, Health, and Environmental Sustainability) dari Pemerintah, sebagai sertifikasi tatanan kehidupan era baru untuk kawasan wisata.

Sepeti dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Lokadata.id, untuk memastikan pelaksanaan adaptasi kebiasaan baru, ITDC akan menerapkan crowd management dengan membatasi jumlah pengunjung di suatu lokasi maksimal 25 orang, dan menerapkan Queue and Interaction Management guna mencegah penumpukan pengunjung.

ITDC juga menggunakan sistem cashless (non tunai) berupa penggunaan sistem QRIS untuk transaksi wisatawan di seluruh area The Nusa Dua, sehingga mengurangi interaksi melalui sentuhan. Selain menggunakan QRIS, pengunjung dapat menggunakan debit dan kartu kredit semua Bank, E – Wallet, E – Money semua bank, dan Online Channel untuk bertransaksi.

Belum semua tempat wisata buka

Nantinya, seluruh tempat wisata di Bali harus mengikuti protokol tersebut agar dapat beroperasi kembali. Walaupun sudah membuka pintu bagi turis dalam negeri, akan tetapi bioskop, kolam renang umum dan tempat hiburan malam di Bali masih belum dibuka.

Menurut I Gede Ricky Sukarta, selaku Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, belum semua sektor ini siap untuk dibuka kembali.

Gede Sukarta mengambil gambaran dari Kabupaten Badung, di mana wilayah ini ia sebut sebagai 'barometer' karena memiliki industri wisata perhotelan, villa, homestay, dan restoran terbesar di Bali sekitar 3.425 unit.

"Dari sekian itu, 10 persen belum kita verifikasi. Karena ketika dia siap untuk diverifikasi, mereka harus melakukan self-assessment," kata Gede Sukarta seperti dikutip dari BBC News Indonesia.

Sebagai orang yang ditunjuk menjadi tim verifikasi oleh pemerintah, dirinya menegaskan, setelah sektor pariwisata diverifikasi, kemudian akan mendapat sertifikat sebagai tiket untuk bisa membuka kembali usahanya.

Potensi devisa hilang

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mengaku sektor pariwisata kehilangan pendapatan Rp9,7 triliun per bulan akibat pandemi korona. Sehingga, selama Maret - Juli totalnya mencapai Rp48,5 triliun.

"Ya benar," kata Kepala Dinas Pariwisata Bali, Putu Astawa mengamini potensi kehilangan devisa dari sektor tersebut.

Putu mengatakan, pihaknya tak mengalokasikan anggaran untuk insentif bagi pelaku usaha wisata di Bali, bahkan untuk biaya sertifikasi industri penginapan. "Kita nggak punya anggaran untuk sertifikasi ini. Betul-betul gotong royong," ungkapnya.

Ia juga belum bisa memastikan waktu yang pasti mengenai sektor pariwisata kembali normal dan hanya mengatakan, 'kita ingin segera bangkit'.

Sementara itu, I Ketut Ardana, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASITA), mengungkapkan, kerugian sektor pariwisata yang ditaksir Pemprov Bali masuk akal.

Khusus sektor biro perjalanan wisata di Bali, potensi kehilangan pendapatan diperkirakan Rp5 triliun hingga akhir tahun. Namun, pihaknya optimistis pembukaan kembali akses wisata di Bali dapat menggerakan roda perekonomian masyarakat.

Ia memperkirakan, pertengahan tahun depan, dengan syarat vaksin sudah ditemukan atau pemerintah dapat meyakinkan calon wisatawan bahwa Bali sudah siap dengan protokol kesehatan.

"Karena ini kan memakan waktu. Calon wisatawan masih berpikir, kemudian biro perjalanan juga masih menyiapkan diri untuk menerima pesanan, melakukan persiapan-persiapan, menangani perjalanan wisatawannya ke destinasi," kata Ketut.

Sekitar 60-70 persen roda ekonomi Bali selama ini digerakkan industri pariwisata. Namun, pandemi korona telah memukul sektor yang seperempatnya menyumbang devisa nasional.