Lokadata.ID

Outlook lapangan kerja: Wartawan, design grafis, dan operator mesin laris

Pekerja melakukan aktivitas kerja produksi miniatur di industri pembuatan miniatur mobil di PT. Wanho Industries Indonesia, Banyuputih, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Kamis (10/6/2021).
Pekerja melakukan aktivitas kerja produksi miniatur di industri pembuatan miniatur mobil di PT. Wanho Industries Indonesia, Banyuputih, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Kamis (10/6/2021). Harviyan Perdana Putra / ANTARA FOTO

Pekerjaan dengan tingkat permintaan tinggi (prospek cerah) masih akan lebih banyak datang dari perusahaan dengan nilai tambah rendah, dengan syarat pendidikan menengah.

Menurut survei yang digelar Bank Dunia bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), profesi seperti wartawan, design grafis, tenaga pemasaran, entry data, dan operator mesin akan sangat laris diperebutkan pasar, setidaknya hingga dua sampai tiga tahun ke depan.

Sementara itu, tingkat permintaan pada profesi arsitek, insinyur sipil, dan manajer keuangan yang biasanya bekerja pada perusahaan dengan nilai tambah tinggi dan syarat pendidikan tinggi, masih akan lemah (prospek redup).

Ini terungkap dalam Outlook Lapangan Pekerjaan Indonesia 2020 yang diterbitkan oleh Bank Dunia dan Bappenas. Tantangan ke depan, menurut Outlook ini, tidak hanya soal bagaimana meningkatkan kapasitas pekerja, tapi juga menciptakan lapangan kerja yang berkualitas dan bernilai tambah tinggi.

Outlook ini dibuat untuk jangka pendek, yaitu dalam dua sampai tiga tahun ke depan. Ada 3.839 perusahaan yang disurvei dalam laporan yang dipublikasikan 25 Mei 2021 ini.

Perusahaan yang disurvei meliputi perusahaan jasa bernilai tambah tinggi, seperti di sektor teknologi informasi, transportasi dan logistik, serta perusahaan jasa bernilai tambah rendah seperti pariwisata dan ekonomi kreatif

Survei juga menyasar perusahaan manufaktur di sektor tekstil, makanan minuman, dan elektronik. Perusahaan yang disurvei berskala mikro, kecil, menengah, hingga perusahaan besar. Cakupan wilayah survei meliputi Jawa, Bali, Sumatera Utara, Banten dan Sulawesi Selatan.

Laporan ini mengumpulkan informasi tentang kondisi pasar kerja untuk memetakan jenis pekerjaan yang memiliki prospek cerah hingga redup di Indonesia. Yang dimaksud memiliki prospek cerah adalah pekerjaan dengan permintaan yang tinggi yang ditunjukkan oleh minat merekrut pekerjanya.

Sebaliknya, yang dimaksud pekerjaan yang berprospek redup adalah pekerjaan yang permintaannya menyusut atau bahkan tidak ada permintaan sama sekali, serta tidak ada upaya perekrutan pekerja setahun terakhir.

Yang cerah dan yang redup

Masalah dengan prospek cerah yang ditunjukkan perusahaan dengan pekerjaan bernilai tambah rendah dan berkualifikasi rendah adalah soal upah yang juga rendah. Jumlahnya dalam survei ini lumayan besar.

Hampir seperempat pekerjaan atau 9 dari 42 pekerjaan berkategori cerah merupakan pekerjaan dengan nilai tambah rendah, berskala mikro dan kecil, yang membutuhkan tingkat pendidikan minimum dan upah yang rendah. Jenis-jenis pekerjaan itu antara lain agen penjual, tenaga kebersihan, kurir, serta pengemudi mobil, dan taksi.

Kategori lainnya adalah perusahaan di level tengah: perusahaan yang masuk kategori cerah dengan kebutuhan akan tenaga kerja berpendidikan menengah ke atas, minimum setingkat SMA. Upahnya pada umumnya cukup untuk memenuhi konsumsi kelas menengah. Jumlah kelompok ini yang paling besar, yakni 18 dari 42 pekerjaan.

Beberapa jenis pekerjaan yang masuk dalam kelompok tengah ini adalah wartawan, profesional pemasaran dan iklan, teknisi mesin dan komputer, supervisor konstruksi, sekretaris, petugas entri data, dan teknisi servis pendingin ruangan.

Hanya 7 dari 42 pekerjaan berkategori cerah yang membutuhkan pendidikan tinggi seperti analis keuangan, arsitek, serta ahli kesehatan dan kebersihan lingkungan kerja.

Adapun pekerjaan berkategori redup seperti pimpinan organisasi, manajer hotel, serta ahli fisika dan astronomi. Pekerja-pekerja yang termasuk kategori redup, dalam analisis laporan ini, perlu selalu meningkatkan keterampilan maupun mempelajari keterampilan baru.

Gambaran tenaga kerja Indonesia

Laporan Bank Dunia dan Bappenas itu menilai, Indonesia saat ini sedang dalam transformasi struktural yang berlangsung cepat. Sehingga dinamika pasar kerja tidak cukup hanya seputar memenuhi permintaan atau kapasitas tenaga kerja, tetapi juga dari sisi penawaran atau lapangan kerja yang disediakan.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia (CORE) Mohammad Faisal setuju dengan situasi yang ditulis dalam laporan tersebut.Dia mengutip data Bank Dunia yang menunjukkan, ada peningkatan jumlah pengangguran di bawah usia 30 tahun dan mereka datang dari kalangan yang berpendidikan tinggi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan struktur angkatan kerja surplus di kelompok berpendidikan menengah. Tetapi ada peningkatan pengangguran di kelompok lulusan sekolah menengah dan lulusan universitas di 2020 dibandingkan 10 tahun sebelumnya.

Penyebab meningkatnya tingkat pengangguran muda dan berpendidikan itu, menurut Faisal, karena skill atau kualitas yang dimiliki para lulusan ini belum mampu menjawab kebutuhan industri. Selain itu, para lulusan muda dan berpendidikan tinggi ini memilih menunggu hingga mendapatkan pekerjaan yang mapan dan formal.

Dengan demikian, kata Faisal, strategi penciptaan lapangan kerja harus didesain untuk menampung penduduk usia muda dan berpendidikan tinggi. Dia menambahkan, strategi tersebut bukan hanya kewenangan Kementerian Ketenagakerjaan saja, melainkan juga melibatkan sektor lain seperti investasi, dan perdagangan yang terintegrasi.

“Perlu dilihat juga apakah investasi yang masuk ke Indonesia bisa menambah lapangan kerja? karena kan tujuan investasi menarik lapangan kerja,” kata Peraih gelar PhD dalam Political Economy and Governance, Universitas Queensland, Australia ini.