logo-lokadata
Para pelayan kemanusiaan di Lombok
Relawan-relawan yang bertugas di beberapa titik pengungsian di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), 18 Agustus 2018. Ronna Nirmala/Beritagar.id

Para pelayan kemanusiaan di Lombok

Datang tak dijemput, pulang pun tak perlu diantar. Mereka bergerak atas nama solidaritas kemanusiaan.

Reza Adesta (29) baru beberapa jam menginjakkan kakinya di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), saat gempa berkekuatan 7 Skala Richter (SR) kembali mengguncang, Minggu (19/8/2018).

Gempa datang sekitar empat menit sebelum tengah malam waktu Indonesia Tengah. Guncangan dengan kekuatan 7 SR itu adalah yang kedua, setelah warga Lombok mulai “melupakan” gempa sama yang terjadi tepat dua minggu sebelumnya.

Gue lagi makan ayam taliwang cuy, tiba-tiba goyang semua. Spontan gue lari ke luar,” kata Reza, di pelataran Hotel Aston Inn Mataram, Lombok. Menurut rencana, Reza dan delapan kawannya bakal menetap di hotel dengan tujuh lantai itu untuk tiga malam ke depan.

Sebelum malam itu, beberapa sudut di dinding Aston sudah retak akibat guncangan-guncangan pendahulunya. Namun, inspeksi yang dilakukan tim Universitas Gadjah Mada (UGM) pascagempa 5 Agustus 2018 menyimpulkan Aston masih aman untuk disinggahi.

“Kamar gue di lantai 5. Gak kebayang sih, kedatangan gue disambut gempa,” sambung anak Jakarta kelahiran Bekasi itu.

Kedatangan Reza bukan untuk berlibur. Dia punya misi mulia. Bersama kawan-kawannya yang tergabung dalam tim “We Are Charity”, Reza bakal menyalurkan bantuan yang dikumpulkan dari beragam donatur untuk korban gempa di sana.

Target mereka adalah memberikan pemulihan trauma anak-anak di posko pengungsian Prapatan Sembalun Lawang, Lombok Timur, NTB.

Tak ayal, bantuan didominasi barang-barang seperti popok bayi, susu dan makanan bayi, makanan ringan, pakaian anak-anak dan bayi, hingga alat tulis dan mewarnai. Meski, ada juga bantuan berupa sembako, obat-obatan, vitamin, dan lainnya.

Menjadi sukarelawan bencana adalah pengalaman pertama bagi pekerja di salah satu televisi swasta ini. Itu pun tanpa niat. Reza sedang menyelesaikan pekerjaan lain di Bali ketika temannya mengajak untuk berangkat ke Lombok.

Gue deg-degan sekaligus penasaran sih, tapi feel-nya sudah berasa banget di malam pertama,” sambungnya dengan tawa getir.

Reza menjadi satu dari sekian banyak relawan yang hadir di Lombok, tanpa undangan dan paksaan.

Kehadiran mereka mudah terbaca. Pemandangan kardus-kardus besar bertuliskan “bantuan untuk Lombok” terpantau di beberapa sudut Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, saat Beritagar.id berangkat untuk meliput kondisi pascagempa di Lombok, Kamis (16/8/2018) pagi.

Di dalam pesawat menuju Lombok pun demikian. Beberapa baris kursi banyak diisi oleh mereka yang mengenakan rompi atau tanda pengenal khusus “relawan”.

Ada yang sudah tahu bakal berapa lama mereka berada di Lombok, tapi tak sedikit juga yang datang tanpa rencana kepulangan yang pasti.

Chandra Sembiring lebih gila. Dia datang ke Lombok bersama calon pengantin yang bakal dinikahinya kurang dari waktu sepekan lagi. Mereka tak pantang dengan tradisi "pingitan" pun ritual perawatan ratus yang kerap dilakukan pasangan lain.

Chandra yang punya latar belakang kedokteran lebih sibuk menyiapkan rumah sakit darurat di tenda, sementara Anggi, yang berprofesi sebagai sinematografer, asyik merekam beragam persoalan di pengungsian untuk bahan film selanjutnya.

"Urusan kawin sudah ada yang handle," kata Chandra di posko pengungsian , Jumat (17/8/2018).


Bagi Chandra, gelar dokter dan relawan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dirinya kerap hadir dalam beragam situasi genting, baik itu bencana maupun peperangan.

Bencana lokal seperti tsunami di Mentawai, Sumatra Barat (2011), perang Afghanistan (2014), hingga pelatihan medis alam liar (wilderness medicine) di Gunung Everest, Nepal (2016), menjadi bagian dari rekaman perjalanan hidup Chandra.

Chandra juga berhasil masuk sebagai salah satu perwakilan Indonesia di keanggotaan Medecins Sans Frontieres (MSF), organisasi nonprofit yang lebih santer dengan nama Doctors Without Borders.

Memiliki kesempatan untuk bergabung di MSF tak disia-siakan olehnya. Boleh dibilang, Chandra mencoba mencuri semua ilmu dan metode yang digunakan MSF saat melakukan penanggulangan pascabencana.

"MSF itu besar banget, sangat militan. Mereka bisa masuk ke wilayah-wilayah yang bahkan tidak dikover oleh PBB. Dan sistem yang mereka pakai setiap melakukan penanggulangan pascabencana, khususnya dalam bidang medis, itu gila. Keren," ceritanya.

Sementara bagi Anggi, turun di kejadian bencana adalah yang pertama. Anggi mengaku ingin melihat langsung pergerakan dari respons bencana yang ada saat ini.

"Itu jadi gol kita selanjutnya. Kita mau lihat apa saja yang harus dikelola. Pengennya nanti jadi dokumenter edukasi dengan pesan bagaimana menghadapi bencana. Semoga bisa membuka wawasan," sebutnya.

Di pengungsian, Anggi sempat melakukan pemutaran salah satu filmnya, "Tanah Surga Katanya". Film sederhana namun berhasil mengundang tawa pengungsi dengan pesan nasionalisme yang begitu kental.

"Lumayan, tadi lihat mereka ketawa-tawa. Paling tidak mereka punya semangat. Dan berani melanjutkan hidup tanpa harus meminta-minta," tutur Anggi.

Hadir dengan dua latar ilmu yang berbeda, Chandra dan Anggi akhirnya menggabungkan semangat mereka melalui KUN Humanity System, sebuah lembaga nirlaba yang berdiri November 2016.

Berbeda dengan lembaga nonprofit lain yang bergerak di bidang kemanusiaan, KUN lebih memprioritaskan visinya pada pembentukan karakter manusia yang lebih bermanfaat bagi sesamanya.

"KUN diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya Aku. Menjadikan kita manusia yang terbuka, sigap, cekatan, hangat, dan sebagainya. Menjadikan kita KUN," ungkap Chandra.


Modal ilmu

Jam menunjukkan sekitar pukul 03.00 WITA. Suara motor dari kejauhan lama-lama terdengar dekat di posko pengungsian Gangga, Lombok Utara.

Tiba-tiba terdengar "Assalamu'alaikum, permisi.. Dok..tolong dok.. Assalamu'alaikum..." Sekitar lima menit bunyi salam itu bergema hingga akhirnya ada yang menjawab "Iya, kenapa pak bisa dibantu?".

"Anak saya kejang-kejang," sambung suara itu.
"Anaknya di mana, pak?" jawab suara seorang perempuan.
"Di pengungsian," jawab lagi suara itu.

Tak lama bunyi motor dinyalakan terdengar lagi, dan sesaat bunyi itu makin menjauh dari pengungsian.

Pagi harinya, Preciella Chandra (25) bercerita bahwa dirinya lah yang merespons panggilan dini hari tadi. Dia juga berangkat ke pengungsian, berjarak sekitar 100 meter dari posko medis, untuk melihat kondisi si anak tadi.

Dalam diagnosanya, anak itu sepertinya memiliki riwayat epilepsi. Tapi sayang, sedari kecil tanda-tanda itu tidak pernah ditindaklanjuti oleh kedua orang tuanya.

"Ya sudah, tadi malam aku bawa untuk dirujuk ke posko medis yang lebih besar," ungkap dokter muda dengan panggilan sapaan Ika ini.

Itu adalah hari ke-enam Ika ada di Lombok. Ia berangkat bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Atlas Medical Pioneer (AMP). Ika baru satu setengah tahun lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung, Jawa Barat. Saat ini, Ika sedang melakukan praktik kerja di Bali.

Bersama enam rekannya dari organisasi yang sama, Ika masuk dalam tim dua, menggantikan tim pertama yang sudah pulang setelah bertugas lebih dari sepekan di posko yang sama.

Gerak Ika dan kawan-kawannya layaknya robot, tak punya lelah. Begitu cekatan. Setiap saat berpindah, entah itu menyisir dusun-dusun mencari pengungsi yang mengalami masalah kesehatan atau ke pengungsian untuk memberikan hiburan untuk anak-anak.

Selama di pengungsian, Ika banyak memberi pengobatan untuk penyakit-penyakit ringan seperti batuk, pilek, sesak napas, dan diare. Jika lebih serius dari itu, Ika bakal merujuknya kepada rekan dokter yang lebih senior.

"Aku sudah boleh praktik. Tapi memang belum lepas sendiri. Ada semacam supervisor yang bertanggung jawab atas kerja praktikku. Soal urutan ini memang agak rumit penjelasannya," sambung Ika.

Rudini (kanan) bersama anak-anak di pengungsian Lombok Timur. Dokter Ika (kanan) saat sedang mengobati pasien anak yang mengalami diare di Lombok Utara.
Rudini (kanan) bersama anak-anak di pengungsian Lombok Timur. Dokter Ika (kanan) saat sedang mengobati pasien anak yang mengalami diare di Lombok Utara. Ronna Nirmala / Beritagar.id

Pengalaman berbeda disampaikan Rudini (28). Pria asal Bandung, Jawa Barat, ini cuma punya modal nekat ketika memutuskan untuk berangkat ke Lombok bersama lima kawannya.

Berangkat pakai uang tabungan, katanya. Dia tak bawa bantuan. Modal utamanya hanya ilmu "gunung" yang dipunyanya sebagai anggota mapala alias mahasiswa pencinta alam.

"Datang saja ke pengungsian. Lihat apa yang bisa dibantu. Mungkin bakal pindah-pindah nginepnya, dari satu pengungsian ke pengungsian lain," ujar Rudini saat ditemui di posko pengungsian Wadon, Lombok Timur, Kamis (18/8/2018).

Meski tak bawa apa-apa, Rudini tak menyusahkan, malah sebaliknya. Di pengungsian Wadon itu, Rudini bersama kawan-kawannya memasangkan tali-tali outbound untuk tempat bermain anak-anak.

Usahanya berhasil. Anak-anak mengantre untuk bisa "diterjunkan" dari atas sebuah atap ke lapangan. Suara teriakan bercampur tepuk tangan meramaikan permainan itu.

"Lumayan juga, walau tangan kebas menahan tali. Anak-anaknya lumayan berat juga," kata Rudini sambil tertawa.


Bukan korban

Tan Shot Yen geregetan. Di Desa Sajang, Lombok Timur, banyak ibu-ibu yang tidak tahu bagaimana memberikan anak-anak balitanya makanan dengan nutrisi yang cukup.

"Di sini anak diberi nasi dengan garam, dan sama sekali ga pernah dengar soal makanan empat bintang apalagi pembagian protein. Mereka cuma pernah dikasih tahu kalo MPASI itu bubuk beras atau tepung susu," kata ahli nutrisi itu, Jumat (17/8/2018).

Tan memang sengaja datang satu hari sebelum perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Dia bersama Wahana Visi Indonesia punya misi untuk membuat acara-acara menarik namun penuh edukasi di pengungsian.

Salah satu acaranya adalah permainan merangkak dan lomba "Isi Piringku dan MPASI" untuk pengungsi.

Dalam permainan Isi Piringku misalnya, timnya akan membuat menu yang nanti komposisi nutrisinya harus ditebak oleh para ibu-ibu di pengungsian.

Isi Piringku menggambarkan keseimbangan setiap satu porsi makan setiap orang. Dalam permainan itu, Tan ingin menunjukkan bahwa idealnya satu piring itu terdiri dari 50 persen buah dan sayur, dan 50 persen sisanya adalah karbohidrat dan protein.

"Itu mereka tidak tahu loh. Gawat banget," celetuknya.

Tan mungkin tak akan pernah melupakan pengalamannya menjadi relawan di Lombok. Hari kelima ada di Sembalun, Lombok Timur, gempa berkekuatan besar datang.

Batu-batuan pada bukit tandus yang tepat berada di belakang tendanya berjatuhan, menimbulkan efek "hujan debu" dengan suara longsoran yang menyeramkan.

Rencananya untuk bertahan lebih lama di Sembalun pun diralat. Keesokan harinya, tim Tan memutuskan untuk melakukan evakuasi ke Mataram, demi menenangkan diri terlebih dahulu. Setelah dari Mataram, Tan bakal melanjutkan misinya di Tanjung, Lombok Utara.

Kendati begitu, Tan bakal tetap menyimpan banyak memori manis yang dialaminya selama berada di pengungsian.

"Kemarin saat koordinasi ingin masak apa, seorang ibu mengajak saya ke rumahnya 'Yuk, ke dapur saya yang sudah rata…' walaupun rasanya mau mewek, saya peluk pundaknya, 'Ibu sedang renovasi rumah kan?', dan dia ngakak," ceritanya mengingat salah satu memori itu.

(Kanan) Dr Tan Shot Yen saat menjelaskan Isi Piringku. (Kanan) Permainan merangkak di pengungsian Sembalun, Lombok Timur, Jumat (17/8/2018).
(Kanan) Dr Tan Shot Yen saat menjelaskan Isi Piringku. (Kanan) Permainan merangkak di pengungsian Sembalun, Lombok Timur, Jumat (17/8/2018). Istimewa / Dokumentasi Wahana Visi Indonesia

Tan pun berbagi pengalamannya dengan memberikan tip menjadi relawan di tempat bencana.

Pertama, relawan tidak sama dengan "jihad". Relawan juga kontributor, harus tahu program tanggap bencana apa yang bakal dilakukan.

Kedua, selalu berkoodirnasi dengan pemerintah daerah, dinas kesehatan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan bahkan Basarnas. Supaya tahu peta situasi, wilayah mana yang belum terjamah dan bantuan tidak menumpuk di satu tempat.

Ketiga, selalu bekerja dalam tim. Ini bukan aksi superhero. Keempat, hentikan bahasa "korban" gempa, karena mereka tak boleh jadi korban. Mereka adalah orang-orang yang terdampak. Mereka orang-orang kuat yang sedang menghadapi bencana, kita harus dukung mereka supaya bangkit.

Kelima, hentikan juga istilah "trauma healing", sebaliknya gunakan istilah "dukungan psikososial". Kalau cuma peluk-peluk, nyanyi-nyanyi tanpa ada evaluasi dan analisa, itu namanya pengalihan fokus sesaat.

Dan keenam, gempa itu tidak sama dengan banjir. Medannya pun tak sama. Jangan sampai ke sana gagah, balik pulang jadi pasien. Kasihan keluargamu. "Namanya pahlawan kesiangan gagal fokus".