logo-lokadata
Para penyintas Yogyakarta nan tak mudah menyerah
Gladi resik karya Agung Kurniawan yang berjudul "Gentayangan" di Ark Gallery, Yogyakarta, 2 September 2017. Anang Zakaria/Beritagar.id

Para penyintas Yogyakarta nan tak mudah menyerah

Para pemeran itu perempuan perkasa berdisiplin tinggi. Untuk mempersiapkan pementasan, mereka rutin berlatih seminggu dua kali sepanjang tiga bulan.

Mereka tak lagi belia. Tapi, di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 13 perempuan pemeran utama "Gejolak Makam Keramat" seolah menemu lagi darah mudanya.

"Energi yang tak terkatakan selama ini ternyata bisa muncul lewat naskah itu," kata sutradara, Irfanuddien Ghozali, melukiskan semangat para manula itu, Jumat (22/9).

"Gejolak Makam Keramat" (GMK) adalah pertunjukan teater simakan, semacam dramatic reading. Para pemeran utamanya perempuan korban prahara politik 1965. Mereka rata-rata berusia di atas 65 tahun.

Disutradarai Ghozali, seniman teater, dan Agung Kurniawan, seorang perupa, drama ini dipentaskan di depan 200-an penonton pada 13 Juli.

Naskah pementasan diadaptasi dari "Leng" (1985) karya Bambang Widoyo SP, sutradara dan penulis naskah teater Gapit.

Leng berkisah tentang korban pembangunan Orde Baru yang tergusur dan terpojok sampai kuburan. Memang, tak ada narasi orang-orang komunis di sana. Tapi, alur ceritanya ternyata mampu merefleksikan pengalaman kelam para perempuan penyintas dimaksud.

Ghozali mengulang penuturan seorang perempuan penyintas dalam satu latihan sebelum pementasan. Menurut perempuan itu, naskah GMK mewakili pengalaman traumatik mereka. "Sama-sama tergusur, sama-sama terpinggirkan," kata Ghozali.

Tragedi 1965 meninggalkan jejak traumatik luar biasa. Mereka yang selamat dari pembunuhan menjalani pemenjaraan bertahun-tahun tanpa proses peradilan. Keluar penjara bukan berarti bebas. Bahkan, diskriminasi sosial dan politik masih berlaku hingga saat ini.

Menurut Ghozali, keberadaan para perempuan itu sebagai manusia sejatinya telah mati dan terkubur dalam-dalam. Lewat pementasan teater ini, ia dan Agung ingin memunculkan dan menghargainya. "Teater itu sebenarnya medium yang bisa digunakan," katanya.

Pementasan Teater "Gejolak Makam Keramat" di PKKH, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 13 Juli.
Pementasan Teater "Gejolak Makam Keramat" di PKKH, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 13 Juli. Dok. Kiprah Perempuan / Dok. Kiprah Perempuan

Pementasan itu tak sekadar mempertontonkan pengalaman traumatik perempuan penyintas di atas panggung. Tempat pemenjaraan mereka dihadirkan lewat pembagian kursi penonton menjadi empat kelompok. Jefferson, Ambarawa, Bulu, dan Plantungan.

Jefferson, sebuah gedung di seberang pasar Kranggan Yogyakarta. Dulu, kata Sri Muhayati, seorang perempuan penyintas dan pemeran GMK, gedung itu menjadi tempat interogasi dan penyiksaan bagi orang-orang yang dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI). "Sekarang jadi gedung agen koran," katanya, Kamis (21/9).

Sri, 76 tahun, ditangkap pada suatu pagi November 1965. Polisi mengepung rumahnya dan mencari bapaknya, Muhadi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta dari Fraksi PKI yang ditangkap tentara malam sebelumnya. Gagal mendapat buruan, polisi meringkus Sri dan ibunya, Musriah.

Usia Sri ketika itu 21 tahun. Dia mahasiswi tingkat tiga Fakultas Kedokteran UGM. Lima hari ditahan di kantor polisi di Ngupasan, aktivis Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) itu dipindahkan ke kantor Corps Polisi Militer (CPM) di Gondolayu, lalu ke Benteng Vredeburg.

Pada 20 April 1966, pemenjaraannya dialihkan ke Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan. Ia bebas pada 1970 setelah diterungku di Ambarawa (Benteng Pendem Fort Willem) dan Bulu, Semarang. "Saya tak pernah di Jefferson," katanya.

Menengok kembali masa pemenjaraan lima tahun itu di usia tua, ia menganggapnya sebagai piknik belaka.

Adapun Plantungan, Kendal, Jawa Tengah, lokasi tersebut pernah menjadi penampungan penderita lepra. Usai peristiwa 1965, pemerintah menjadikannya sebagai kamp pengasingan bagi perempuan yang dituduh terlibat PKI. Sejak 8 Desember 1979, tempat itu tak lagi menjadi tempat penahanan.

Deborah Oni Ponirah, 69 tahun, seorang penyintas dan pemeran GMK, pernah dibuang ke Plantungan. Usianya baru 14 tahun ketika tentara menangkapnya pada 1965. Berikutnya, ia menghabiskan masa remaja di pengasingan.

Pementasan Teater "Gejolak Makam Keramat" di PKKH, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 13 Juli.
Pementasan Teater "Gejolak Makam Keramat" di PKKH, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 13 Juli. Dok. Kiprah Perempuan / Dok. Kiprah Perempuan

"14 tahun saya dipenjara," katanya, Sabtu (23/9). "Saya paling akhir pulang dan nutup pintu Plantungan."

Agung Kurniawan mengatakan, para pemeran itu perempuan perkasa berdisiplin tinggi. Untuk mempersiapkan pementasan, mereka rutin berlatih seminggu dua kali sepanjang tiga bulan. Hebatnya, tak sekali pun mereka datang terlambat.

"Mereka perempuan yang tak mudah menyerah," katanya di Ark Gallery, Yogyakarta, Sabtu (2/9) malam.

Malam itu Agung sedang menggelar gladi resik untuk karya seni yang dibuatnya, "Gentayangan". Karya menampilkan video pementasan GMK dalam bentuk seni instalasi. "Gentayangan" adalah metafora isu komunisme yang selalu diembuskan demi menakut-nakuti masyarakat.

Rencananya, karya itu akan dipamerkan di ajang Europalia di Bozar, Brussels, Belgia, pada Oktober.

Tak mudah menyerah, kalimat yang menjadi inspirasi bagi nama grup teater perempuan penyintas itu, Teater Tamara. Tamara kependekan dari "Tak Mudah Menyerah".

Tambah semangat, asam urat lewat

13 perempuan anggota teater Tamara berasal dari organisasi Kiprah Perempuan (Kiper). Lembaga ini berdiri pada 19 Maret 2006 sebagai wadah bagi keluarga korban peristiwa 1965, khususnya perempuan. "Jadi ini perkumpulan keluarga penyintas," kata Ketua Kiper, Pipit Ambarmirah, Sabtu (23/9).

Suasana latihan pementasan "Gejolak Makam Keramat" di Kedai Kebun, Yogyakarta, 10 Juli 2017.
Suasana latihan pementasan "Gejolak Makam Keramat" di Kedai Kebun, Yogyakarta, 10 Juli 2017. Dok. Kiprah Perempuan / Dok. Kiprah Perempuan

Perempuan 36 tahun itu puteri Oni Ponirah. Setelah keluar dari Kamp Plantungan, Oni menikah dengan Leo Mulyono, 72 tahun, eks tahanan politik di Pulau Buru. Leo ditangkap semasa kuliah tingkat dua di Akademi Seni Rupa Indonesia (kini ISI Yogyakarta) lantaran aktif di CGMI. Poster pementasan GMK lahir dari tangan Leo.

Pembentukan Kiper bermula dari "Temu Rindu Menggugat Senyap" yang digagas oleh Masyarakat Santri untuk Advokasi Rakyat (Syarikat) di pendopo Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI) Yogyakarta pada 2005. Acara itu merupakan ajang reuni para perempuan penyintas se-Jawa dan Bali.

Oni mengenang acara itu sebagai ajang reuni emosional. Tangis haru dan bahagia menyatu mewarnai acara reuni. Ia sendiri bisa kembali bertemu dengan rekan sepenjara dari berbagai daerah setelah 26 tahun keluar dari Plantungan. "Bisa ketemu teman sependeritaan rasanya senang gak karuan," katanya.

Dari sana lalu tercetus gagasan mewadahi pertemuan rutin. Mula-mula, Kiper beranggotakan 15 perempuan penyintas asal Yogyakarta. Kegiatan awal selain silaturahmi adalah memfasilitasi bantuan keuangan secara patungan untuk meringankan beban ekonomi perempuan penyintas.

Suasana latihan pementasan "Gejolak Makam Keramat" di Kedai Kebun, Yogyakarta, 10 Juli 2017.
Suasana latihan pementasan "Gejolak Makam Keramat" di Kedai Kebun, Yogyakarta, 10 Juli 2017. Dok. Kiprah Perempuan / Dok. Kiprah Perempuan

Pipit mengatakan saat ini anggotanya meluas hingga perempuan penyintas asal Sleman, Bantul, Kulonprogo, dan Gunungkidul. Mereka rutin bertemu dua bulan sekali. "Terakhir tanggal 17 September kemarin," katanya.

Pementasan GMK sebenarnya bukan kali pertama bagi ibu-ibu Kiper berkesenian. Dalam peluncuran buku "Menemukan Kembali Indonesia" di Perpustakaan Nasional Jakarta pada 2014, Kiper menyuguhkan pementasan drama.

Naskah drama itu ditulis dan disutradarai oleh anggota Kiper yang berlatar belakang pemain ketoprak. Dalam proses menyiapkan pementasan, tak sulit menemukan pemain. Banyak ibu-ibu Kiper memiliki pengalaman berkesenian. Sebelum dipenjarakan, mereka aktif sebagai penyanyi, anggota paduan suara, pemain ketoprak, perawit hingga penari.

Oni salah satunya. Sejak duduk di bangku Sekolah Rakyat (setingkat SD), perempuan kelahiran 1948 itu sudah piawai menyanyi dan membaca not balok. Tiap ada kegiatan di kampungnya--saat itu dia tinggal di Suryodiningratan, Yogyakarta--Oni selalu terlibat sebagai penari. Beragam tarian pernah dimainkan, termasuk tarian genjer-genjer yang dipentaskan dalam acara peringatan agustusan.

Belakangan ketika meletus peristiwa 1965, rutinitas berkesenian itu menjebloskannya ke penjara. "Saya baru lulus SMP waktu itu dan tak tahu menahu PKI," katanya.

Hasrat berkesenian para perempuan penyintas seolah menemukan muaranya di Kiper dan Teater Tamara. Mereka sekaligus menemukan semangat baru menjalani hidup.

Oni mengatakan diabetes dan asam urat mendera tubuh rentanya. Jangankan beraktivitas berat dalam waktu lama, untuk berjalan pun telapak kakinya terasa nyeri. "Tapi kalau sudah mau latihan sakit itu tak terasa lagi," katanya menceritakan pengalaman latihan pementasan GMK.

Pengalaman serupa juga dialami perempuan lain. Mereka bahkan ada yang rela mengayuh sepeda dan menumpang bus umum dari rumahnya di Bantul dan Kulonprogo ke tempat latihan di Kedai Kebun Yogyakarta.

Bagi Sri Muhayati, aktivitas berorganisasi dan berkesenian ini membuatnya lebih bahagia. "Otak bisa jalan badan jadi sehat," katanya. Satu hal yang membuatnya lebih berbahagia, yaitu saling membantu dan membangkitkan semangat hidup sesama.