Lokadata.ID

Pasar e-commerce terbesar Indonesia dari milenial

Menggunakan internet dan suka belanja online dimonopoli Milenial. Dari 47 juta milenial pengguna internet, sebanyak 17 persen atau sekitar 7,8 juta di antaranya suka belanja online.
Menggunakan internet dan suka belanja online dimonopoli Milenial. Dari 47 juta milenial pengguna internet, sebanyak 17 persen atau sekitar 7,8 juta di antaranya suka belanja online. Lokadata / Lokadata

Generasi milenial (kelahiran 1981-1996) dan generasi Z (kelahiran 1997 ke atas) identik dengan generasi yang tumbuh bersama dan bergelimang dengan teknologi. Sejak lahir, penemuan teknologi awal milenium ketiga seperti komputer, smartphone, hingga perangkat digital lain seolah menunggu mereka.

Generasi X (kelahiran tahun 1965-1980) dan generasi baby boomers (1946-1964) tak sepenuhnya merasakan hal itu. Saat milenial dan gen-Z tumbuh, secara tidak langsung terjadi transisi demografi dan transisi digital. Berkat kemajuan peradaban, banyak hal bisa dilakukan dengan mudah, mulai dari akses informasi hingga belanja di internet.

Majalah The Economist dalam artikel Youth, Inc (Desember 2000) menyebut para milenial dengan nada satir, mereka sudah menjadi tukang belanja yang tekun walau belum mencari nafkah. Tak heran jika generasi ini menjadi incaran pasar baru berbagai sektor dan produk, termasuk e-commerce.

Di Indonesia, secara populasi generasi Z adalah yang terbanyak. Jumlahnya mencapai 72,8 juta (27 persen) dari 267 juta penduduk Indonesia pada 2019. Sedangkan milenial mencapai 66,7 juta (25 persen), dan gen-X jumlahnya mencapai 21 persen dari total populasi.

Hasil pengolahan Lokadata.id atas Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2019 mengungkap, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 116 juta. Sekitar 13 persennya, atau 15 juta penduduk mengaku suka berbelanja menggunakan internet.

Menggunakan internet dan suka belanja online dimonopoli milenial. Dari 47 juta milenial pengguna internet, sebanyak 17 persen atau sekitar 7,8 juta di antaranya suka belanja online. Entah itu membeli kebutuhan barang atau jenis jasa.

Jumlah pengguna internet dari gen-Z sekitar 44 juta. Kira-kira 3,8 juta (9 persen) di antaranya suka belanja di internet. Sementara dari kalangan gen-X sekitar 21 juta pengguna, dengan 13 persen atau 2,8 juta pembelanja daring.

Wilayah-wilayah di mana milenial yang banyak berbelanja online.
Wilayah-wilayah di mana milenial yang banyak berbelanja online. Lokadata / Lokadata

Sedangkan dari segi wilayah, milenial yang paling banyak belanja di internet berada di Kota Yogyakarta. Jumlahnya mencapai 42 persen dari total pengguna internet di Kota Yogya, atau sekitar 48 ribu orang.

Kemudian Kabupaten Yahukimo sebanyak 39 persen, Kabupaten Sleman sekitar 34 persen, Kota Padang 31 persen, Kota Depok, Kota Madiun, Kota Bontang, Kota Salatiga, dan Kota Jakarta Selatan jumlahnya sama secara persentase yakni mencapai 31 persen milenial.

Ketua Umum Associate E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung mengakui kelompok pasar terbesar jual beli online di Indonesia dari kalangan milenial dan gen-Z. Menurutnya, terlepas dari penggolongan generasi, perebutan pasar online adalah mereka dengan usia produktif (15-65 tahun), di mana konsumsi dan pemenuhan kebutuhannya sedang tinggi.

Meski milenial dan gen-Z identik dengan internet dan digital, Ignatius mengingatkan, persaingan pangsa pasar itu bukan milik e-dagang semata, juga sektor-sektor lainnya, seperti perumahan, travel, hingga hiburan, dan banyak sektor lain.

“Sebenarnya ini bukan hanya e-commerce. Kelompok pembeli terbesar memang milenial dan gen-Z mulai tumbuh. Jadi nggak bisa dikatakan ini hanya untuk e-commerce,” kata Ignatius kepada Lokadata.id, Jumat (17/4/2020).

Lekatnya hubungan internet dan e-dagang saat ini karena memang karakternya bersifat online sejak muncul. Wajar dianggap terdepan dibandingkan dengan sektor lainnya. Apalagi dengan berkembangnya e-commerce saat ini yang sudah mulai menggarap sektor offline dengan menggandeng kios lapak hingga membuat toko offline sendiri secara fisik.

“Sebenarnya online dan offline kan cuma channel aja. Intinya orang berjualan dan membeli barang. Jadi semakin luas pilihan channel-nya semakin baik untuk kedua belah pihak,” ujar Ignatius.

Walau secara statistik angka itu melenakan atas jumlah dan lokasi jumlah pembeli online di Indonesia, medium informasi lain tidak bisa remehkan. Menurut Ignatius, postur pengguna internet di Indonesia belum merata karena profil penduduk Indonesia masih banyak mengakses media tradisional seperti televisi yang jumlahnya signifikan.