Lokadata.ID
Pembangkit stamina dari hutan Kalimantan
Serutan pasak bumi. Jessica Helena Wuysang/Beritagar.id

Pembangkit stamina dari hutan Kalimantan

Warga mengenalnya sebagai bidara. Akrab dengan bentuk dan khasiatnya, tapi baru tahu tentang nilainya yang tinggi.

"Assalamualaikum, Alias Nabi Kayu. Saya mohon ngambil kayu ini." Selarik salam itu diucapkan Kimleng sebelum memulai aktivitasnya. Sebuah tabik sekaligus permohonan berkat dalam bekerja.

"Boleh dilakukan, boleh juga tidak, tapi bagusnya bepinta (bertabik) biar ada berkatnya," kata lelaki 63 tahun itu, Sabtu (23/12/2017).

Setelah tabik diucap, seutas rantai kemudian dililitkan ke pangkal pohon tersebut bersama sebatang kayu. Kayu dan lilitan rantai berfungsi sebagai pengungkit atau dongkrak.

Kimleng pun perlahan mengangkat balok tersebut hingga pangkal pohon terangkat dan akarnya muncul ke permukaan. Bapak enam anak ini harus mengeluarkan segenap kekuatannya karena tidak mudah mendongkrak pohon tersebut hingga rebah ke tanah.

Kimleng kerap harus naik ke pengungkit dan mengenjotnya berulang-ulang agar pohon terangkat. Balok berukuran kecil pun digunakan sebagai bantalan untuk menguatkan daya ungkit.

Pohon yang dibongkar Kimleng ialah pasak bumi. Ia ingin mengambil bagian akarnya. Akar pasak bumi menghunjam kuat di tanah hingga kedalaman dua meter sehingga dibutuhkan tenaga ekstra dan teknik khusus untuk mencabutnya.

Sekitar sebulan sekali Kimleng memanen tumbuhan liar itu di hutan Bukit Penampean. Jarak tempuhnya sekitar satu jam dari kediamannya di Dusun Gunung Benua, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Kimleng naik-turun bukit untuk sampai ke lokasi tersebut. Warga Dayak Kanayatn ini biasa beranjak ke hutan sekitar pukul 7 pagi. Sebanyak 10-20 buah akar pasak bumi diboyong pulang setelah tiga jam berupaya.

Selain dibantu isteri atau anaknya, Kimleng sering pula hanya sendirian mencari pasak bumi di Bukit Penampean. "Bapak sih sudah biasa sehingga bisa dapat banyak, sedangkan aku cuma mampu mencabut satu pokok (pohon) jak," kata Kimju, 24 tahun, putra Kimleng.

Pemanen memang harus mempertimbangkan kemampuan fisik. Hanya pohon dengan akar yang sekiranya mudah dicabut saja yang dipanen. Untuk memastikan itu, mereka melihat perkembangan bonggol akar.

"Tanahnya digali dulu sampai kelihatan bonggol akar. Kalau besar, tidak jadi saya ambil karena tidak kuat mencabutnya," lanjut Kimju.


Kimleng memperlihatkan beberapa batang Pasak Bumi yang dijualnya di depan rumah di Dusun Gunung Benua, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat beberapa waktu lalu (foto kiri).

Seorang perempuan Dayak memperlihatkan sejumlah bungkusan berisi serutan Pasak Bumi yang dijualnya di Dusun Gunung Benua, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (foto kanan).
Kimleng memperlihatkan beberapa batang Pasak Bumi yang dijualnya di depan rumah di Dusun Gunung Benua, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat beberapa waktu lalu (foto kiri). Seorang perempuan Dayak memperlihatkan sejumlah bungkusan berisi serutan Pasak Bumi yang dijualnya di Dusun Gunung Benua, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (foto kanan). Jessica Helena Wuysang / Beritagar.id

Akar yang berharga

Pasak bumi yang dipanen Kimleng berada dalam satu hamparan dengan jarak antarpohon yang relatif berdekatan. Batangnya rata-rata berdiameter 10-15 sentimeter.

Agar bisa mengambil akarnya, Kimleng menggunakan balok sepanjang empat meter sebagai pendongkrak. Dia mengaku baru sekitar setahun ini mencari pasak bumi di hutan. Gara-garanya, ada seorang warga dari Pontianak menginginkan pasak bumi yang tumbuh liar di dekat rumahnya.

Warga tersebut mengaku membutuhkan akar pasak bumi untuk mengobati penyakit. Lama-kelamaan peminat lain pun bermunculan sehingga Kimleng memutuskan menjual tumbuhan bernama latin Eurycoma longifolia tersebut.

Dia menjual pasak bumi bersama sayuran dan buah lokal di lapak di depan rumahnya. Selain lapak Kimleng, pasak bumi tersedia di beberapa lapak di sepanjang jalan lintas Kalimantan tersebut.

Pasak bumi dijual dalam bentuk akar segar dengan panjang 0,5-1 meter. Harganya berkisar Rp25 ribu hingga Rp150 ribu per buah. Nilai jual tersebut bergantung kepada kondisi dan bentuk perakaran. Semakin akar itu panjang, besar, dan banyak, maka semakin mahal harganya.

Para pembeli kebanyakan berasal dari Pontianak dan wilayah di sekitarnya. "Kami sudah lama mengenal tumbuhan ini cuma baru tahu bahwa ada harganya," ujar Kimleng.

Warga setempat selama ini mengenal pasak bumi dengan nama bidara. Walaupun pamor tumbuhan lokal ini mulai menanjak, tidak mudah bagi Kimleng untuk menjualnya. Dia mengaku butuh waktu hingga sekitar sebulan untuk menghabiskan dagangannya.

Pencarian pasak bumi pun baru dilakukan kembali setelah yang lama hampir habis terjual. Kimleng juga mulai membudidayakan pasak bumi di kebun di belakang rumah. Bibitnya berasal dari anakan liar yang diambil dari hutan. Namun, beberapa bibit tersebut mati karena dimakan babi.

Kimleng berencana membudidayakan kembali pasak bumi dengan menggunakan polibag dan ditempatkan di lokasi yang aman dari gangguan ternaknya. "Entah kapan bisa diambil hasilnya (panen), yang penting tanam dulu," katanya.


Ramuan pasak bumi.
Ramuan pasak bumi. Jessica Helena Wuysang / Beritagar.id

Resep turun-temurun

Selain dijual, bidara atau pasak bumi dikonsumsi warga setempat. Mereka mencampurnya dengan minuman tradisional, yakni arak yang difermentasi dari beras. Beberapa ruas akar untuk setengah hingga sebotol arak berukuran sekitar 500 mililiter.

Tak ada yang tahu pasti kapan masyarakat di sana mulai meminum ramuan tersebut. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun. Biasanya hanya laki-laki saja yang meminumnya.

Kimleng rutin mengonsumsi ramuan tersebut saban sore. Ia menjadikannya sebagai suplemen untuk meningkatkan stamina atau mengembalikan kebugaran tubuh, selayaknya minuman berenergi.

Capai dan pegal setelah bekerja seharian pun lenyap. Begitu pula keluhan sakit pinggang hingga gejala hipertensi, bisa teratasi dengan mengonsumsi ramuan tersebut secara rutin.

"Orang bilang pasak bumi juga bisa untuk obat kuat, tapi tidak tahulah. Aku cuma merasa selama ini jarang sakit," katanya sambil terkekeh.

Ramuan serupa juga rutin dikonsumsi Mulyadi setiap malam. Dia merasakan khasiat yang sama. Saat bangun tidur tubuhnya terasa bugar. Namun, Mulyadi menghentikan kebiasaan itu sejak tiga tahun lalu.

Lelaki berusia 43 tahun ini mengalami gangguan pencernaan akut. Bukan lantaran pasak bumi, tapi efek dari arak sebagai pelarut ramuan."Tapi nanti saya mau coba lagi (mengonsumsi ramuan arak-pasak bumi)," ungkap Kepala Dusun Gunung Benua tersebut di kesempatan terpisah.


Kim Sung (21) memperlihatkan seulas rantai yang selalu digunakan Ayahnya, Kim Leng untuk mencabut akar Pasak Bumi di rumah mereka di Dusun Gunung Benua, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (foto kiri).

Iswansyah Mohan memperlihatkan botol berisi ramuan Pasak Bumi yang dijual di tokonya di kawasan PSP Pontianak, Kalimantan Barat (foto kanan atas). Serutan pasak bumi (kanan bawah).
Kim Sung (21) memperlihatkan seulas rantai yang selalu digunakan Ayahnya, Kim Leng untuk mencabut akar Pasak Bumi di rumah mereka di Dusun Gunung Benua, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (foto kiri). Iswansyah Mohan memperlihatkan botol berisi ramuan Pasak Bumi yang dijual di tokonya di kawasan PSP Pontianak, Kalimantan Barat (foto kanan atas). Serutan pasak bumi (kanan bawah). Jessica Helena Wuysang / Beritagar.id

Cara mengolah akar pasak bumi tak terlampau rumit. Akarnya dipotong menjadi beberapa ruas, bisa juga dicincang atau diserut, sesuai kebutuhan. Kemudian bahan itu dijemur selama sehari untuk menghilangkan getah dan mencegah jamur hingga akhirnya direndam di arak sekitar tiga hari.

Semakin lama direndam, ramuannya konon bakal semakin berkhasiat. Larutan arak yang semula bening berubah menjadi kemerahan setelah dimasukkan pasak bumi. Rasa pahit pada akar tumbuhan tersebut pun relatif berkurang.

Perendaman juga mampu mengawetkan pasak bumi sehingga bisa dipakai berulang kali dengan larutan arak yang baru. "Direndam dengan air biasa juga bisa tapi akarnya cepat lasang (busuk)," ujar Kimleng.

Mengonsumsi ramuan tradisional ini harus sesuai takaran. Volume minumannya maksimal setinggi dua ruas jari dari dasar gelas setiap hari. Jika lebih, efeknya bisa memabukkan hingga berhari-hari lamanya.

"Aku rutin meminumnya setiap 2-3 hari sekali saat bersantai bersama teman," kata Kimju. Anak kedua Kimleng ini bekerja di sebuah peternakan ayam di pinggiran Pontianak sejak lima bulan lalu. Dia pulang ke kampung halamannya untuk merayakan Natal bersama keluarga.

Kimju juga mengenalkan tradisi mengonsumsi ramuan pasak bumi kepada beberapa rekan kerjanya. Tidak hanya akar, daun pasak bumi juga dimanfaatkan sebagai obat oleh warga Gunung Benua dan sekitarnya.

Seduhan atau air rebusan daun tersebut diakui kemujarabannya secara turun-temurun untuk menyembuhkan diare."Mamak mencelornya (menyeduh) untuk mengobati sakit perutku sewaktu kecil," kenang Kimsung, 50, saudara bungsu Kimleng yang menetap di Dusun Bawas.