Lokadata.ID

Pemerintah targetkan 1 juta dosis vaksinasi per hari, ini faktanya

Petugas memeriksa kondisi kesehatan warga sebelum mendapat suntikan vaksin COVID-19 AstraZeneca saat vaksinasi untuk warga usia 18 tahun ke atas di GOR Pengadegan, Jakarta, Kamis (10/6/2021).
Petugas memeriksa kondisi kesehatan warga sebelum mendapat suntikan vaksin COVID-19 AstraZeneca saat vaksinasi untuk warga usia 18 tahun ke atas di GOR Pengadegan, Jakarta, Kamis (10/6/2021). Dhemas Reviyanto / ANTARA FOTO

Pemerintah menargetkan program vaksinasi nasional Covid-19 dapat mencapai 700 ribu dosis per hari pada Juni dan 1 juta dosis per hari pada Juli 2021. Namun lima bulan berjalan, pelaksanaan vaksinasi di Indonesia tercatat masih lambat dan jauh dari target tersebut.

Presiden Joko Widodo meminta seluruh pemerintah daerah untuk mendorong percepatan dan perluasan program vaksinasi Covid-19. Presiden berharap, laju penyuntikan vaksin Covid-19 dapat kembali dipercepat setelah melambat selama Ramadhan dan masa libur Lebaran,

Sebelumnya, pada awal Maret lalu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga telah menetapkan target pelaksanaan vaksinasi Covid-19 nasional. Budi menargetkan pada Maret-April vaksinasi mampu mencapai 500 ribu dosis per hari. Sehingga pada periode Juni-Juli, laju vaksinasi nasional akan berada di level 1 juta dosis per hari.

“Juni-Juli baru satu juta dosis karena ketersediaan vaksinnya di Juni-Juli baru bisa 25 juta sebulan. Sejuta sehari kan 30 juta sebulan. Sebelumnya kita tidak ada vaksinasi sebanyak itu," kata mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini, Rabu, (3/3/2021).

Akan tetapi, sudah lebih dari satu minggu sejak awal Juni kemarin, realisasi pemberian vaksin Covid-19 masih jauh dari target yang ditetapkan oleh pemerintah. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Rabu (9/6/2021), rata-rata laju vaksinasi harian Covid-19 sejak awal Juni kemarin (1-9/6/2021), hanya mencapai 348.281 dosis.

Capaian ini meningkat dibandingkan dengan periode yang sama pada akhir Mei kemarin (23-31/2021), yang baru 281.457 dosis per hari. Namun demikian, dalam data yang sama diketahui sejak awal pelaksanaan vaksinasi pada Januari kemarin, hanya tujuh kali pemberian dosis vaksin Covid-19 berada di atas 500 ribu per harinya.

Adapun pemberian dosis vaksinasi harian tertinggi pada Selasa (8/6/2021), yang mencapai 825.821 dosis. Sementara berdasarkan kelompok penerimanya, total penerima vaksin dosis pertama untuk kelompok petugas pelayanan publik baru 13,6 juta orang atau 78,62 persen dari target.

Sedangkan untuk penerima dua dosis vaksin sebanyak 7,6 juta orang atau sekitar 44,63 persen dari target. Sementara capaian penerimaan vaksin terendah dialami kelompok lanjut usia (lansia), dengan total pemberian vaksin dosis pertama sebanyak 3,7 juta orang dan kedua sebanyak 2,3 juta orang dari target sebanyak 21,5 juta lansia.

Sejumlah kendala

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengakui, terdapat sejumlah kendala yang menghambat program vaksinasi nasional.

Salah satunya, kata Nadia, adalah kasus embargo vaksin oleh sejumlah negara produsen pada periode Maret-Mei kemarin. Embargo itu telah berdampak pada ketersediaan vaksin dalam negeri. Akibatnya, pelaksanaan program vaksinasi nasional terhambat.

Khusus untuk kelompok lansia, menurut Nadia, kendala utama terletak pada kurangnya sosialisasi di kalangan lansia atau keluarganya. Selain itu, masih ada ketidakkepercayaan sebagian masyarakat terhadap tingkat keamanan vaksin yang digunakan.

"Kendala lainnya adalah masih banyak kabupaten/kota yang masih menyelesaikan vaksinasi terhadap petugas pelayanan publik. Sehingga banyak kelompok lansia yang belum mendapatkan vaksinasi," kata Siti Nadia kepada lokadata.id, Kamis (10/6/2021).

Untuk mengejar ketertinggalan ini, Kemenkes telah mempermudah proses vaksinasi untuk lansia. Beberapa di antaranya adalah menghapus proses pendaftaran, gimmick berupa vaksinasi bagi yang membawa dua lansia, hingga mendatangi langsung rumah lansia bersama petugas RT dan RW.

Ihwal target vaksinasi, Nadia menjelaskan, Kemenkes menargetkan setidaknya 90 persen dosis pertama vaksin Covid-19 dapat rampung diberikan kepada sasaran vaksinasi pada Desember mendatang. Total target penerima vaksinasi sebanyak 181.554.465 penduduk.

Nadia optimistik target tersebut dapat tercapai karena Indonesia sudah mendapatkan komitmen kedatangan vaksin sesuai dengan jumlah sasaran. Lebih lanjut, dia menambahkan, saat ini Indonesia sudah menerima 92,2 juta dosis, yang terdiri dari vaksin mentah (bulk) dan vaksin jadi.

Vaksin sebanyak itu terdiri dari 3 juta dosis vaksin jadi Sinovac, 6,7 juta dosis vaksin jadi AstraZeneca, 1 juta dosis vaksin jadi Sinopharm, dan 81,5 juta dosis vaksin Sinovac dalam bentuk bahan baku. Vaksin Sinopharm saat ini sudah digunakan dalam program vaksin Gotong Royong.

"Stok vaksin aman, saat ini kita masih punya 30-35 juta stok dan nanti akan datang lagi pada Juni dan Juli dari Sinovac dan AstraZeneca. Dengan begitu, kita akan terus meningkatkan jumlah vaksinasi sampai sesuai rencana 1 juta dosis per hari pada Juni dan Juli," katanya.

Kepala Divisi Ritel dan Pelayanan PT Bio Farma Mahsun Muhammad juga yakin bahwa target vaksinasi Covid-19 sebanyak 1 juta dosis per hari pada Juni atau Juli nanti dapat tercapai. "Asalkan ketersediaan, distribusi, dan pelaksanaan vaksinasi dapat berjalan sesuai yang direncanakan."

Mahsun juga memastikan bahwa stok vaksin Covid-19 masih cukup tersedia untuk memenuhi pelaksanaan program vaksinasi nasional maupun gotong royong. Saat ini, Bio Farma juga terus memproduksi vaksin Covid-19 dari bulk kiriman Sinovac dan AstraZeneca.

Ia menambahkan, pada pertengahan Juni ini pemerintah juga bakal mendatangkan lagi vaksin Sinopharm sebanyak 1 juta dosis yang akan dipakai untuk program vaksinasi gotong royong. Mahsun meyakini kecepatan pelaksanaan vaksinasi program dan vaksinasi gotong royong akan saling mendukung.

"Jumlah kumulatif dari program vaksinasi pemerintah dan vaksinasi gotong royong akan sangat membantu mencapai target 1 juta dosis per hari itu karena dua program ini dijalankan beriringan," katanya dalam sebuah diskusi virtual.

Perlu Sosialisasi

Epidemiolog asal Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menilai, perlu ada upaya khusus guna mengatasi lambatnya laju vaksinasi Covid-19, terlebih pada kelompok sasaran lansia. Sosialisasi harus lebih digencarkan.

Pemerintah daerah, menurut dia, perlu memahami secara utuh kendala vaksinasi lansia yang terjadi di daerahnya masing-masing. Sebab, kendala yang terjadi biasanya berkaitan dengan kebiasaan penduduk di daerah tersebut. Sehingga, penanganannya pun memerlukan pendekatan yang berbeda.

Dicky juga mengingatkan agar pemberian vaksin kepada lansia juga mempertimbangkan faktor kenyamanan para penerima. Hal ini penting untuk meningkatkan antusiasme serta kepercayaan masyarakat terhadap program vaksinasi.

Selain itu, petugas pelayanan vaksin juga harus ‘menjemput bola’ dengan melakukan kunjungan ke rumah-rumah lansia yang belum mengikuti vaksinasi. Dicky khawatir, minimnya partisipasi lansia disebabkan oleh tidak sampainya informasi atau keterbatasan akses dari yang bersangkutan.

“Bisa jadi mereka belum megikuti program vaksin karena terkendala akses akibat tidak ada anggota keluarga yang mengantarkan mereka ke lokasi vaksinasi,” katanya.

Tidak ketinggalan, pemerintah juga tetap harus memperbanyak penyampaian informasi perihal vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat. Informasi seputar keamanan vaksin, kehalalan vaksin, serta tingkat efikasi vaksin harus terus disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat.

“Yang juga harus diperkuat adalah komitmen pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memperluas serta mempercepat pelaksanaan vaksinasi, khususnya pada lansia yang masuk dalam kelompok rentan ini," katanya.