Lokadata.ID
Pemuji dan rezeki
Via Vallen dan Nella Kharisma bersama penggemarnya masing-masing. Indra Rosalia/Beritagar.id

Pemuji dan rezeki

Magnet media sosial mampu memutus jarak, bukan hanya kepada mereka menggemari, tapi juga rezeki Via Vallen dan Nella Kharisma

Ribuan orang bersorak. Beberapa yang tadinya hanya duduk-duduk di pinggir lapangan mendadak berdiri dan merangsek ke area panggung Alun-alun Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (12/8/2018). Rupanya, biduan yang ditunggu-tunggu telah tiba.

Nella Kharisma (23) berteriak melalui mikrofonnya, “Apa kabar Banyumas!”. Setelah berbasa-basi singkat, ia melantunkan lagu jagoan yang juga dipopulerkan Siti Badriah, “Lagi Syantik”.

Para penonton makin menggila. Ada yang berjoget seperti kesurupan. Sebagian memotret dan merekam video menggunakan kamera ponselnya. Ada juga beberapa yang minta digendong oleh temannya agar bisa melihat Nella secara lebih jelas.

Nella tampil dalam acara Aksi Sriwedari menyambut HUT ke-73 Republik Indonesia. Seperti lagu Project Pop berjudul “Dangdut is the Music of My Country”, dangdut adalah musik khas Nusantara. Sehingga tak salah kiranya jika konser dangdut disebut pesta rakyat.

Beragam jenis penonton; tua, muda, solo, berduaan, gerombolan; kompak bergoyang. Karena ini genre dangdut yang 'modern', gaya pakaian pun tak standar. Baju gombrong ala penyanyi hip-hop atau yang tampil macho dengan jaket motor hadir di barisan penonton.

Alas kaki juga tak masalah, mau sendal jepit atau yang berlabel jenama internasional, semua tak menghalangi gerak tubuh untuk mengikuti alunan irama yang dimainkan dari atas panggung.

Nella dan sejawat seangkatannya yang lain, seperti Via Vallen, adalah generasi teranyar pedangdut beraliran koplo.

Kendati berbaiat pada genre musik yang sering dicap kampungan dan seronok, tapi dandanan mereka tak mencerminkan itu. Mereka lebih memilih bergaya modis, kekinian, jauh dari kesan norak atau murahan.

Tengok saja penampilan Nella saat beraksi di Banyumas. Ia mengenakan kaus merah gelap berlengan pendek, rok dipadu stoking, dan sneakers berhak tinggi yang seluruhnya berwarna hitam. Rambut panjangnya dihiasi bando yang menyerupai telinga tokoh kartun Miki Tikus dari Disney.

Secara keseluruhan Nella lebih mirip penyanyi Jepang yang bergaya harajuku, daripada biduan dangdut yang kerap tampil dengan pakaian dan riasan serba menyala. Via dan Siti juga demikian. Ini jadi salah satu alasan mereka digilai oleh para penggemarnya.

Penggemar mereka garis keras. Penonton Nella di acara kemarin, juga datang dari beberapa kota di luar Banyumas, seperti Cilacap, Purwokerto, Purbalingga, Tegal, dan Brebes.

Ada juga Nella Lovers, sebutan bagi penggemar Nella, yang rela mengendarai sepeda motor sejauh 150 kilometer dari Cirebon, Jawa Barat. “Saya nungguin di sini sejak jam lima pagi,” ujar Lili, pemuja Nella asal Cirebon.

Vyanisty, istilah bagi pemuja Via, juga demikian. Tak sedikit dari penggemar Via yang tergabung dalam Grup Facebook Vyanisty Indonesia, menyematkan kalimat pengabdian seperti "SeVia Sehidup Sematy" pada profil mereka.

Salah satu magnet Via di telinga pendengarnya adalah perpaduan alunan rap dan gendang dangdut dalam lagu populernya, "Sayang".

“Sebelumnya saya tidak mengenal Via Vallen, karena saya tidak suka dangdut. Saya lebih suka aliran pop, R&B,” ujar Chintya, Vianisty asal Yogyakarta yang dihubungi Beritagar.id melalui pesan instan.

Di mata Chintya, Via mampu mengubah citra dangdut dari katrok menjadi dangdut modern. “Suaranya enggak terlalu ke dangdut dan musiknya juga beda dari dangdut biasanya, mungkin karena Via Vallen aliran musiknya dangdut pop koplo, jadi saya suka,” lanjut Chintya.

Maryam Anggraeni, penggemar Via Vallen lainnya juga setuju. “Saya suka suaranya, penampilannya juga, terus cara dia ke fans. Bagi dia, fans itu sudah kayak keluarga,” ujar perempuan yang mengaku menyukai Via Vallen sejak mendengar lagu “Hakikat Sebuah Cinta” pada 2015.


Faedah media sosial

Di zaman now, menjadi Vyanisty dan Nella Lovers tak perlu muslihat berlebih. Para pemuja bisa dengan mudah mengetahui gerak-gerik sang biduan tanpa harus bersusah payah menanti di pintu gerbang sebuah konser demi bisa mendapat foto atau sekadar memandang kagum dari kejauhan.

Media sosial mampu menjadi solusi dari jarak tersebut. Jika tak terlalu menyukai publikasi media, seperti yang disebut manajer Nella Kharisma kepada Beritagar.id, maka cukup menyebarkan lagu terbaru lewat YouTube. Dan, simsalabim, ratusan ribu penonton berhasil terjaring dalam hitungan hari.

Sedang bete menunggu pesawat yang delay, pamer sepatu baru endorse-an, tutorial riasan, trip ke luar negeri, persiapan manggung, bisa dibagikan si biduan dengan mudah di fitur Insta Story-nya Instagram.

Para biduan juga tak perlu repot-repot mencetak flyer, pun memasang iklan di media konvensional, untuk memberi tahu jadwal konser terbaru mereka. Tinggal unggah di Faceboook/Twitter/Instagram lalu beri tanda ke akun-akun milik basis penggemarnya, maka undangan itu akan langsung tersebar dengan sendirinya.

Bahkan, rekaman langsung konser juga bisa dibuat melalui fitur Live Facebook atau Instagram.

Si pemuja yang tak punya kesempatan untuk menonton langsung tinggal menyematkan komentar pada fitur-fitur itu. Syukur-syukur, si pujaan membalas atau paling tidak me-mention balik pesan si pemuja.

Daya rangsang media sosial berhasil melilit erat hubungan Nella Lovers dan Vyanisty dengan para biduannya. Jumlah pengikut dua biduan ini tak sedikit. Instagram Via berhasil unggul dengan 8 juta pengikut, sementara Nella punya 2,8 juta pengikut.

Dalam satu hari saja, sebuah foto Via memeluk boneka beruang yang diunggah akun resmi Via, @viavallen, berhasil meraup tanda suka hingga 500.000 kali dibarengi dengan lebih dari 3.000 komentar yang di antaranya berbunyi rayuan seperti, “Beautiful”, “Makin gemezz”, “SAYANGGGG”, “Ono aku kok meluk boneka dee deek”.

Maka tak berlebihan, ketika akun Instagram Via menghilang sesaat pada Jumat (10/8/2018) malam, para pemujanya ramai-ramai membanjiri unggahan akun khusus Vyanisty, @officialvyanisty, dengan beragam emosi kesedihan.

Unggahan agenda manggung Via Vallen dan Nella Kharisma di Instagram.
Unggahan agenda manggung Via Vallen dan Nella Kharisma di Instagram. @Viavallen dan @Nellakharisma / Beritagar.id

Selain besar di YouTube, Via dan Nella memang pintar memanfaatkan media sosial di zaman mereka, walau pamor keduanya sudah lebih dulu bergema dari panggung ke panggung.

Tembang “Sayang” dan “Jarang Goyang” yang dibawakan Via dan Nella dalam versi yang berbeda berhasil menggiring mereka ke ketenaran.

Via sedikit lebih beruntung. Penampilan kekinian biduan yang mendapat julukan “Ratu Pop Koplo” di Net 5.0, April 2018, berhasil mencuri perhatian banyak pihak.

Pendiri dan CEO Net Mediatama Televisi, Wishnutama, mengatakan salah satu pemicu Via didapuk sebagai musisi pembuka Asian Games 2018 lantaran Erick Thohir, Ketua Umum Inasgoc, melihat penampilan biduan ini di acara tersebut.

“Respons positif datang dari banyak kalangan. Bahkan Addie MS (komponis) secara personal memuji tayangan itu,” kata Wishnutama kepada Beritagar.id, Jumat (10/8/2018).

Via sudah pasti bangga. Tawaran manggung di ajang olahraga terbesar di Asia itu menjadi kesempatannya untuk menunjukkan bahwa dangdut koplo itu bukan musik kelas bawah. Via bahkan tak ragu mengklaim dangdut sebagai identitas nasional.

“Lewat ini (pembukaan Asian Games), kita ngenalin dangdut ke kancah yang lebih luas lagi. Karena dangdut milik Indonesia, bukan punya negara lain,” tutur Via ketika kami temui di sela-sela syuting “Mata Najwa” di Studio Trans7, Mampang, Jakarta Selatan, Rabu (1/8/2018).

Setelah lagu “Meraih Bintang” karya Pay/Rastamanis yang dibawakan biduan asal Surabaya ini berhasil menjadi official theme song Asian Games, tawaran manggung Via menumpuk. Lebih beragam, sambung Via merujuk tawaran-tawaran barunya itu.

Ramainya tawaran itu juga yang menumbuhkan kepercayaan diri biduan berusia 26 tahun ini. Via merasa naik kelas. Dalam pandangannya, orang-orang tak lagi memandang sebelah mata dirinya sebagai penyanyi yang sebelum-sebelumnya tenar hanya karena “goyangan” saja.

“Oooh ini Via Vallen,” ujar penyanyi dengan nama asli Maulidia Octavia ini saat menirukan pengakuan yang dimaksud.

Nella Kharisma, Via Vallen, dan Inul Daratista
Nella Kharisma, Via Vallen, dan Inul Daratista Indra Rosalia / Beritagar.id

Pola bisnis yang berbelok

Servis media sosial yang dimanfaatkan Via, Nella, dan sejawat seangkatannya ini tak ayal membuat Inul Daratista, biduan dangdut senior, menjadi cemburu.

Bukan hanya persoalan popularitas, para pesohor juga bisa mendapat pundi tambahan dari perusahaan-perusahaan yang rela membayar mereka demi produknya di-endorse mereka.

Inul bertolak ke masa saat dia mulai membangun popularitasnya dulu. “Dulu belum ada media sosial, adanya VCD bajakan,” keluh Inul, saat ditemui di Studio 5 Indosiar, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Rabu (8/8/2018) malam.

Jika masih ingat, Inul dulu harus melalui masa-masa gulat dengan pedangdut lebih senior, Rhoma Irama, gara-gara goyangan ngebor-nya. Kasus itu yang menurut Inul mengaburkan segudang prestasi yang sudah dibangunnya lebih dahulu.

Inul tak serta merta menyesali. Sebab, gempuran kabar hiburan (infotainment) tentang dirinya turut berkontribusi dalam melambungkan namanya. Meski Inul mengelak itu adalah sebuah sensasi.

“Saya memang diuntungkan oleh infotainment, tabloid, koran, dan sebagainya. Saya dulu kebetulan ngetop-nya karena ngebor, walaupun sebenarnya saya masih mengutamakan menyanyi,” kata Inul.

Sebaliknya, artis zaman sekarang—mengikuti istilah yang disebut Inul—tak perlu repot membuat sensasi untuk terkenal. Cukup rajin unggah foto cantik, penggemar juga sudah senang.

Inul bukan tak mau mengikuti jejak saat ini. Untuk diketahui, Inul juga memiliki akun Instagram yang cukup aktif, @inul.d, pengikutnya 6,8 juta dengan unggahan sedikitnya lima foto dan video per hari.

Menurut Inul, permainan bisnisnya bukan di situ. Inul sudah punya bisnis karaoke dan kontrak stripping Bintang Pantura 5 di Indosiar yang dirasa cukup menopang kebutuhannya.

“Nella dan Via itu diuntungkan oleh media sosial. Mereka bermain, memanfaatkan, dan mencari uangnya di situ. Dan itu benar-benar beruntung. Mereka terlahir dan sukses di zaman media sosial, di zaman now,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari dunia hiburan, Wishnutama melihat bisnis artis dan media sosial ini sebagai bagian dari perjalanan perubahan ekonomi digital. Namun, masa transisi ini belum mencapai puncaknya.

Para pemain bisnis digital masih memiliki segudang persoalan yang mungkin akan muncul ketika pola ini semakin mengetren. Salah satunya adalah sistem pembayaran digital yang payung hukumnya hingga saat ini masih menggantung.

Menggantungnya regulasi itu yang diprediksi Wishnutama akan memakan waktu lama sampai bisnis ini benar-benar stabil. “Saat ini bisnisnya bisa dikatakan belum jelas. Sekarang masih dalam gejolak perubahan,” katanya.

Via, Nella, dan sejawat seangkatannya belum perlu risau. Selagi regulasi itu dibuat, mereka masih boleh mengeksplorasi margin media sosial itu dengan berbagai cara.

Asalkan tetap memegang teguh pesan Inul; “Popularitas itu bakal berputar, jadi ojo dumeh, jangan sombong, jangan sok jadi superstar. Karena, generasi di bawahmu pasti akan mengejar”.