Lokadata.ID

Pengangguran muda berpendidikan naik, ancam bonus demografi?

Peserta  Job Matching Bursa Kerja Khusus (BKK) di SMK N 2 Yogyakarta,  (26/11/2020).
Peserta Job Matching Bursa Kerja Khusus (BKK) di SMK N 2 Yogyakarta, (26/11/2020). Hendra Nurdiyansyah / ANTARA FOTO

Tingkat pengangguran muda Indonesia menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. Data Bank Dunia 2020 menunjukkan, pengangguran berusia muda di Indonesia hampir menyentuh angka 20 persen. Sementara negara lain di Asia Tenggara seperti Filipina, Thailand, Vietnam, Singapura, dan Malaysia masih berada di bawah 15 persen.

Pengangguran usia 15-29 tahun meningkat, bahkan sebelum pandemi Covid-19.

“Publikasi World Bank itu mengambil data dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) sampai 2019 yang menunjukkan adanya peningkatan pengangguran di usia di bawah 30 tahun di Indonesia,” kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia (CORE) Mohammad Faisal kepada Lokadata.id, Rabu (5/5/2021).

Yang dimaksud pengangguran, kata lulusan PhD Political Economy and Governance Universitas Queensland, Australia ini ada beberapa indikator yaitu mereka yang masih mencari pekerjaan dan belum mendapat pekerjaan dalam satu bulan terakhir. Indikator lainnya adalah mereka yang bekerja kurang dari satu jam dalam seminggu.

Selain berusia muda, rupanya jumlah pengangguran berpendidikan tinggi juga naik. Berdasarkan publikasi World Bank 2020 tersebut, persentase tingkat pengangguran yang paling tinggi, pertama adalah dari mereka yang tingkat pendidikannya sekolah menengah. Kedua, dari mereka yang merupakan lulusan perguruan tinggi.

“Contohnya yang sekolah menengah itu di 2019 tingkat penganggurannya 8,9 persen. Di 2020 naik menjadi 11,3 persen,” kata Faisal. Begitu juga dengan tingkat pengangguran di perguruan tinggi yang naik dari 5,7 persen di 2019 menjadi 7,5 persen di 2020.

Mengancam potensi bonus demografi

Menurut mantan Programme Officer di The ASEAN-Australia Development Cooperation Program (AADCP) itu, data Bank Dunia ini menjadi alarm bagi pemerintah sebab hal itu bisa berdampak pada terancamnya potensi bonus demografi Indonesia.

Faisal menjelaskan bonus demografi tersebut sudah dimulai di 2020. Bonus demografi adalah penduduk usia muda dalam artian produktif lebih besar dibandingkan penduduk yang tidak produktif, sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Jadi jumlah rasio antara yang produktif dan tidak produktif itu rendah sehingga jika dilihat dari umur ini menjadi potensi besar untuk menggerakkan perekonomian sehingga pertumbuhan ekonomi bisa lebih cepat tercapai,” kata dia.

Namun, ketika penduduk berusia muda dalam jumlah banyak ini ternyata banyak yang menganggur maka berkurang kesempatan untuk menikmati bonus demografi itu. Selain itu, kondisi tersebut justru bisa menimbulkan persoalan sosial lainnya. Sementara bonus demografi ada batasnya yaitu 20 tahun. Setelah itu, penduduk yang berusia tidak produktif akan kembali meningkat. Sehingga, jika sekarang tidak dimanfaatkan dengan baik akan lebih susah menggerakkan perekonomian ke depannya.

Ia mengatakan penyebab meningkatnya tingkat pengangguran muda dan berpendidikan tinggi adalah karena jumlah penduduk lulusan SMA, SMK sampai perguruan tinggi banyak. Jumlah yang banyak ini tidak terserap karena skill atau kualitas yang mereka miliki belum menjawab kebutuhan industri. “Ada gap antara ekspektasi dunia usaha dengan realita yang ada pada tenaga kerja muda ini,” kata Faisal.

Kedua, terbatasnya ketersediaan lapangan kerja di sektor formal yang bisa menyerap lulusan berpendidikan tinggi ini. Para lulusan muda dan berpendidikan tinggi mencari pekerjaan yang mapan dan formal. Mereka memilih menunggu hingga mendapatkan pekerjaan yang setidaknya memenuhi standar minimal mereka. Berbeda dengan mereka yang lulusan Sekolah Dasar yang tidak memiliki ekspektasi tinggi untuk bekerja kantor dan bisa bekerja di sektor informal.

Dengan demikian, strategi penciptaan lapangan kerja harus didesain untuk menampung penduduk usia muda dan berpendidikan tinggi. Faisal mengatakan strategi tersebut bukan hanya kewenangan Kementerian Ketenagakerjaan saja, melainkan juga melibatkan sektor lain seperti investasi.

“Perlu dilihat juga apakah investasi yang masuk ke Indonesia bisa menambah lapangan kerja? karena kan tujuan investasi menarik lapangan kerja,” kata dia.

Dia juga berpendapat meningkatnya pengangguran muda, berpendidikan tinggi ini ada kaitannya dengan deindustrialisasi. Sebab yang banyak menyerap tenaga kerja adalah industri. Ketika produktivitas industri menurun maka penyerapan lapangan kerja juga turun.

Ini berbeda dengan sektor jasa di mana penyerapan tenaga kerja, sedikit dan sangat spesifik. “Sektor industri manufaktur kalau sekali bangun pabrik saja langsung bisa menyerap berapa puluh ribu orang tapi sekarang semakin ke sini lebih banyak industri padat modal dan teknologi yang tidak banyak mengandalkan tenaga kerja,” kata dia.

Berdasarkan catatan Faisal, deindustrialisasi di Indonesia sudah berlangsung belasan tahun terakhir. Hal ini ditunjukkan dari kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB) yang pada 2004 sebesar 28,4 persen dan di 2017 menjadi sebesar 23,29 persen.

Faisal menambahkan peningkatan pengangguran berusia muda dan berpendidikan tinggi ini sudah terjadi bahkan sebelum pandemi. Di masa pandemi Covid-19, timbul persoalan baru yaitu meningkatnya pengangguran berusia di atas 30 tahun yang relatif sudah mapan dan punya pengalaman kerja lama.

Mereka terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai dampak pandemi. Angka mereka membesar dari 20 persen menjadi 40 persen setelah 2020. Hal ini, membuat pemerintah harus berpikir ekstra keras untuk menciptakan lapangan kerja baru yang sesuai bagi para pekerja di usia tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2010 pengangguran usia 20-29 tahun mencapai 3,6 juta. Angka tersebut naik 20,1 persen menjadi 4,3 juta di 2020. Sementara pengangguran kelompok umur 30-39 tahun turun sebesar 26,7 persen.

Dari tingkat pendidikan, pengangguran paling banyak merupakan lulusan SLTA Umum, naik 23,9 persen di 2020 dibandingkan 10 tahun sebelumnya. Peningkatan pengangguran lulusan SMK juga naik cukup tinggi hingga 94,7 persen. Sementara, pengangguran yang merupakan lulusan perguruan tinggi naik 38 persen di 2020.