Lokadata.ID

Penggunaan kantong plastik turun di Jakarta, pasar rakyat masih tinggi

Pendongeng sekaligus seniman tutur Samsudin (kanan) melakukan aksi teatrikal dengan latar belakang tumpukan sampah plastik di Pantai Dadap, Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (6/5/2021). Aksi teatrikal dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia itu untuk mengkritisi pengelolaan sampah plastik di Indonesia.
Pendongeng sekaligus seniman tutur Samsudin (kanan) melakukan aksi teatrikal dengan latar belakang tumpukan sampah plastik di Pantai Dadap, Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (6/5/2021). Aksi teatrikal dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia itu untuk mengkritisi pengelolaan sampah plastik di Indonesia. Dedhez Anggara / ANTARA FOTO

Penggunaan kantong belanja plastik sekali pakai di DKI Jakarta turun 82 persen setelah enam bulan Peraturan Gubernur Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan diberlakukan. Kebijakan larangan penggunaan kantong plastik tersebut resmi diterapkan 1 Juli 2020.

Menurut Dinas Lingkungan Hidup, Provinsi DKI Jakarta, pengurangan 82 persen itu terdapat di tiga subjek hukum, yaitu pusat perbelanjaan, toko swalayan dan pasar rakyat. Berdasarkan tingkat kepatuhan, toko swalayan sudah mencapai 100 persen dan pusat perbelanjaan 95 persen. Pasar rakyat masih 50 persen.

Angka tersebut diperoleh berdasarkan hasil survei yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta bersama sejumlah komunitas seperti Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP), Aliansi Zero Waste Indonesia, Nexus 3, Divers Clean Action, Econusa. Survei dilakukan pada Desember 2020.

Kepala Seksi Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Rita Ningsih mengatakan akan terus mengawasi tiga subjek hukum tersebut. “Kami mengupayakan terus berkoordinasi dengan PD Pasar Jaya untuk terus mendorong agar Pergub Nomor 142 Tahun 2019 bisa diterapkan dengan baik di pasar,” katanya.

Selain itu, survei juga menunjukkan bahwa tingkat penggunaan sampah di tingkat rumah tangga juga turun 42 persen. Yang masuk dalam kelompok tingkat rumah tangga adalah warung, restoran, kafe yang berada di luar pusat perbelanjaan, serta belanja online dan jasa antar makanan.

Associate Director di Climate Policy Initiative sekaligus Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Tiza Mafira mengatakan, meskipun hasil survei menunjukkan pengurangan penggunaan plastik, pemerintah tetap perlu mengawasi dan menegakkan aturan tersebut.

Dalam meningkatkan pengawasan tersebut, Tiza berpendapat konsumen juga bisa berperan. “Masyarakat juga bisa melaporkan pelanggaran melalui aplikasi Jakarta Kini (JAKI) yang diinisasi Pemerintah Provinisi DKI Jakarta atau lewat twitter,” katanya kepada Lokadata.id, Kamis (5/8/2021).

Tiza menambahkan, dari hasil survei itu menunjukkan konsumen di toko swalayan sudah patuh dan rajin membawa tas guna ulang ketika berbelanja. “Mestinya, masyarakat yang ke pasar rakyat juga melakukan hal yang sama,” kata dia.


Jumlah sampah plastik terbesar kedua

Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta pada Juni 2021 menunjukkan sumber sampah di DKI Jakarta paling banyak berada di kawasan permukiman sebesar 61 persen, kawasan komersial 28 persen, dan fasilitas publik 11 persen. Sampah plastik merupakan yang terbesar kedua dengan 9 persen, di bawah sisa makanan sebesar 53 persen.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), selama 2017-2018, sumbangan plastik di Jakarta mencapai 12,4 persen, nomor dua terbanyak setelah sampah sisa makanan.

Pada awal Pergub 142/2019 ini diterapkan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta kala itu, Andono Warih mengakui ada beberapa pelaku usaha yang memiliki kendala dalam melaksanakan Pergub tersebut. Pengusaha yang keberatan waktu itu antara lain asosiasi pedagang pasar. Padahal, aturan ini menguntungkan pengusaha.

“Kebijakan ini justru mengurangi cost pelaku usaha untuk menyiapkan kantong belanja sekali pakai (kresek) dan konsumen dapat menggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan (KBRL) yang dapat digunakan berulang kali,” kata Andono kepada Lokadata.id, saat itu.

Dia menambahkan, “Kami memerlukan kebijakan untuk menangani masalah sampah plastik ini. Mengingat pengelolaan sampah plastik sudah menjadi masalah global tidak saja masalah lokal Indonesia," katanya.

Bahaya kantong plastik sekali pakai seperti dikutip dari website Diet Kantong Plastik antara lain memicu perubahan iklim karena sampah kantong plastik menghasilkan emisi karbon yang tinggi. Material kantong plastik berasal dari minyak bumi yang merupakan sumber daya alam tak terbarukan yang bisa menimbulkan pencemaran lingkungan.

Pencemaran lingkungan yang ditimbulkan dari pembuangan sampah kantong plastik yang sembarangan bisa mengakibatkan tersumbatnya selokan dan badan air, termakan oleh hewan hingga rusaknya ekosistem di sungai dan laut. Sampah kantong plastik juga terurai hingga ratusan tahun karena memiliki rantai karbon yang panjang.