Lokadata.ID

Sepeda listrik, darling baru masyarakat urban

Pekerja menata sepeda listrik Migo di Migo Station JK10116 di kawasan Setiabudi, Jakarta, Kamis (7/2/2019).
Pekerja menata sepeda listrik Migo di Migo Station JK10116 di kawasan Setiabudi, Jakarta, Kamis (7/2/2019). Dhemas Reviyanto / ANTARA FOTO

Bagi pesepeda sejati, yang menganggap sepeda sebagai alat olah raga, sepeda listrik adalah kepalsuan. Sepeda, yang harusnya digowes, yang mestinya bergerak hanya dengan kekuatan otot dan ayunan kaki, kok didorong pakai setrum. Apa bedanya dengan sepeda motor?

Namun bagi mereka yang menganggap sepeda sebagai alat transportasi, mereka yang memakai sepeda untuk menuju ke satu tempat dengan lebih nyaman, lebih cepat dan aman, sepeda listrik merupakan pilihan yang praktis.

Sempat dipandang remeh, sedikit dicibir karena dianggap akal-akalan, sepeda listrik kini sedang naik daun. Di mana-mana penjualannya naik berlipat-lipat. Seperti dikutip majalah The Economist, lembaga konsultansi Deloitte menyebut, populasi sepeda listrik telah mencapai 200 juta di seluruh dunia (data 2019), dan akan berlipat menjadi 300 juta, tiga tahun mendatang.

Laporan terbaru Kofederasi Industri Sepeda Eropa (Conebi) menyebut, populasi sepeda listrik yang aktif digunakan di Eropa, kini mencapai 20 juta unit. Tahun 2019, penjualan sepeda listrik di benua biru itu mencapai tiga juta unit atau naik 23 persen dari 2018. Sepeda listrik menyumbang 17 persen total penjualan sepeda di Eropa.

Survei Shimano, produsen onderdil sepeda ternama, terhadap 13.000 responden di 11 negara Eropa menunjukkan, satu dari empat warga Eropa kini telah memakai atau setidaknya akan membeli sepeda listrik tahun ini.

VanMoof, produsen sepeda Belanda yang dikenal sebagai "Tesla"-nya sepeda juga melaporkan lonjakan penjualan selama Februari - April tahun ini. Penjualan di Jerman, misalnya, meningkat 226 persen, di Belanda (naik 140 persen) dan Amerika Serikat (AS, 138 persen), dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

"Kami memiliki beberapa masalah dengan rantai pasokan pada Januari-Februari, ketika wabah korona mulai melanda Asia. Tapi masalahnya sekarang ada pada permintaan, bukan penawaran," kata Co-Founder Van Moof, Taco Carlier, Minggu (14/6/2020).

Cowboy, perusahaan sepeda listrik asal Belgia, juga mencatat kenaikan penjualan tiga kali lipat pada Januari-April dibanding periode yang sama 2019. Lompatan penjualan juga dinikmati pedagang sepeda AS Lectric eBikes yang melaporkan kenaikan sales sampai 140 persen sejak pertengahan Maret lalu.

Bahkan Brompton, merk Inggris yang sangat populer dengan produk sepeda lipat, kini juga mulai merasakan legitnya kue sepeda listrik. Sepeda yang dilengkapi dengan dinamo itu kini menyumbang 10 persen dari sales Brompton yang mencapai AS$56 juta, dan berharap kontribusinya akan terus meningkat menjadi 40 persen.

Bagi produsen, margin sepeda listrik lebih gendut dari pembuatan sepeda biasa. Giant, produsen sepeda Taiwan, misalnya, mengaku margin sepeda listrik mencapai 25 persen, lebih tinggi dari tingkat keuntungan produksi sepeda konvensional yang hanya 23 persen.

Baterai lebih ringan, tahan lama, dan terjangkau

Tingginya animo terhadap sepeda listrik terutama didorong oleh teknologi baterai yang semakin maju. Penemuan baterai Li (lithium-ion) membuat baterai listrik kini semakin ringan, ringkas, tahan lama, dan terjangkau.

Dulu, baterai sepeda dengan berat 10 kg hanya mampu menempuh beberapa kilometer perjalanan. Kini dengan berat yang lebih ringan, baterai lithium bisa menjangkau lebih dari 80 kilometer.

Dengan baterai yang lebih ringan dan ringkas, design sepeda listrik kini tak ada bedanya dengan sepeda konvensional. Baterai yang semakin tipis, cukup diselipkan di antara frame , atau "dibonceng" seperti jok penumpang di bagian belakang.

Sepeda listrik kini tidak hanya gembrot dan lamban, tidak hanya cocok untuk belanja ke warung atau makan angin keliling kompleks; tapi juga langsing, aerodinamis, dan cepat.

Dengan baterai berbentuk sel yang mudah di-recharge, sepeda listrik kini siap untuk melahap perjalanan sampai 100 kilometer lebih, baik ke kantor (tanpa harus keluar banyak keringat), atau berwisata menembus perbukitan. Yang dibutuhkan hanya perlu lebih banyak membawa sel baterai cadangan yang gampang dipasang, semudah mengganti baterai lampu senter.

Sepeda listrik mungkin tak pernah bisa menggantikan fungsi sepeda konvensional, tapi tambahan tenaga setrum pada pedal membuatnya mengatasi handicap sepeda ontel, yaitu hambatan jarak, kekuatan fisik dan perjalanan mendaki.

Pamor sepeda listrik semakin meroket sejak pandemi korona. Publik yang khawatir berdesak-desakan di kendaraan umum mencari pilihan alat transportasi yang lebih aman. Salah satu pilihannya adalah sepeda listrik.

Tentu saja sepeda listrik punya kelemahan. Yang pertama soal harga. Harga sepeda listrik dua sampai tiga kali lebih mahal dari sepeda konvensional sejenis. Selain itu, sepeda ini cukup berat (dengan tambahan bobot baterai). Yang paling ringan sekalipun bobotnya lebih berat dari sepeda konvensional.

Dan yang terakhir: baterainya perlu disetrum ulang. Dengan prasarana publik yang belum merata seperti di Indonesia, mencari tempat untuk men-charge baterai sepeda bisa sangat merepotkan.

Tren sepeda listrik di Indonesia

Di Indonesia, tren sepeda listrik mulai muncul dengan banyaknya pesepeda yang mengubah sepeda konvensionalnya menjadi sepeda listrik. Hal ini diakui oleh Petrikbike, bengkel modifikasi sepeda listrik.

"Tren saat ini kustom untuk mengubah sepeda biasa menjadi sepeda listrik," kata CEO Petrikbike, Adi Siswanto, kepada Tempo.co, Jumat (10/7).

Adi menyebut, sebelum masa pandemi korona, bengkelnya hanya menerima order belasan unit modifikasi. Kini, order meningkat hingga 20-30 unit.

Meski begitu, Adi menyebut, ledakan permintaan membuat stok sejumlah onderdil menipis. Pelbagai onderdil itu, seperti baterai dan dinamo untuk sepeda listrik saat ini masih impor dari Cina.

Hal senada turut diungkapkan penggagas komunitas pecinta sepeda listrik Wild Rabbits, Tjahyadi Kartono. Pendiri komunitas yang beranggotakan sekitar 200 orang dari DKI Jakarta ini mengakui, meningkatnya permintaan sepeda listrik di masa pandemi terlihat dari stok sejumlah onderdil, seperti mesin dan baterai yang ludes.

“Dari bengkel-bengkel sepeda yang saya ketahui di Jakarta, selama pandemi mereka bisa merakit sampai 10 sepeda listrik sehari. Padahal, sebelumnya mungkin hanya satu kali dalam seminggu. Sekarang dalam seminggu sampai nggak bisa libur karena terus ada permintaan. Barang mesin baru order belum sampai Jakarta saja sudah dibeli orang,” tutur Tjahyadi kepada Lokadata.id, Sabtu (1/8/2020).

Salah satu anggota komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik), Hendro juga mengakui adanya peningkatan permintaan sepeda listrik seperti SELIS SOI dan United Furion.

Peningkatan permintaan ini pun rupanya diikuti sepeda listrik yang tidak memiliki diler di Indonesia. "Bahkan sepeda yang tidak ada diler resmi pun juga banyak dicari seperti Xiaomi, Himo, dan Lankeleisi," ujar Hendro dikutip dari detik.com.

Bahkan, ada pengusaha sepeda dalam negeri yang berhasil memasarkan produknya ke luar negeri. Gede Sukarma Dijaya, pembuat e-bike asal Lombok, menyebut, kerap memasarkan sepeda listrik ke AS, Australia, dan Norwegia.

Menurut Gede, harga per unit sepeda listrik beragam, mulai dari Rp15 juta sampai Rp100 juta. Harga tersebut tergantung model dan spesifikasi.

Meningkatnya tren sepeda listrik ini memancing perhatian dari Pemerintah. Direktur Jenderal Industri, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier, mengatakan, pemerintah mendorong pengembangan sepeda listrik. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam berupa nikel untuk kebutuhan bahan baku baterainya.

"Kami akan optimalkan pabrik-pabrik baterai di dalam negeri ini untuk mengembangkan sepeda listrik. Inovasi menjadi penting, termasuk desain sepeda yang sesuai dengan tipe atau kebutuhan konsumen Indonesia," kata Taufiek, Minggu (12/7) sore, seperti dikutip dari Antara.

Pendiri komunitas Wild Rabbits, Tjahyadi Kartono, berpendapat menggunakan sepeda listrik lebih aman dan nyaman selama masa pandemi dibandingkan dengan sepeda konvensional.

“Karena sekarang kan harus pakai masker. Sedangkan kalau menggunakan (masker) itu kan menghirup CO2, jadinya kalau gowes ngga kuat kalau tidak pakai listrik. Sedangkan kalau tidak pakai masker takut terpapar korona, makanya kebanyakan lari ke listrik,” kata Tjahyadi.