Lokadata.ID

Penularan varian Covid-19 Delta secepat cacar air, ini penjelasannya

Tenaga kesehatan melakukan tes usap antigen dan Polymerase Chain Reaction (PCR) di Manado, Sulawesi Utara, Rabu (28/7/2021). Dinas kesehatan Kota Manado meningkatkan testing dan tracing kasus COVID-19 selama PPKM bagi warga yang tergolong Kontak Erat Resiko Tinggi (KERT), sebagai bagian dari upaya percepatan penemuan kasus terkonfirmasi positif COVID-19.
Tenaga kesehatan melakukan tes usap antigen dan Polymerase Chain Reaction (PCR) di Manado, Sulawesi Utara, Rabu (28/7/2021). Dinas kesehatan Kota Manado meningkatkan testing dan tracing kasus COVID-19 selama PPKM bagi warga yang tergolong Kontak Erat Resiko Tinggi (KERT), sebagai bagian dari upaya percepatan penemuan kasus terkonfirmasi positif COVID-19. Adwit B. Pramono / ANTARA FOTO

Penelitian terbaru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menyebutkan bahwa tingkat penularan varian Covid-19 Delta sangat cepat bahkan jika dibandingkan sejumlah penyakit lainnya. Varian Delta juga meningkatkan keparahan pasien Covid-19 –meski belum diketahui dampaknya terhadap kematian.

Temuan CDC Amerika Serikat ini terungkap dalam sebuah laporan internal yang dikutip The New York Times, Minggu (1/8/2021) lalu. Menurut CDC, varian Delta memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi dibanding MERS, SARS, Ebola, flu, dan cacar. Bahkan, CDC menyebut, mutasi Delta sama tingkat penyebarannya dengan cacar air.

“CDC sangat prihatin dengan data yang masuk bahwa varian Delta adalah ancaman yang sangat serius dan membutuhkan tindakan segera,” tulis CDC dalam laporan internalnya. Lembaga ini juga mengatakan bahwa adanya varian Delta telah mengubah “perang terhadap pandemi”.

Hasil temuan CDC tersebut berdasarkan data dari pelbagai penelitian, termasuk studi penularan Covid-19 di wilayah Princeton, Massachussets, Amerika Serikat. Studi ini dilakukan terhadap 822 jumlah pengidap Covid-19, 74 persen orang di antaranya telah mendapatkan vaksin.

Lembaga ini juga menyebut, varian Delta kemungkinan bisa menyebabkan risiko penyakit lebih parah, sehingga mereka yang terkena virus ini membutuhkan perawatan di rumah sakit. Tapi, kata CDC, vaksin Covid-19 masih sangat efektif untuk mencegah risiko perawatan di fasilitas layanan kesehatan dan kematian.

Waspada varian Delta
Waspada varian Delta Fadhlan Aulia / Lokadata.id

Pakar biologi Molekuler, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo mengatakan, temuan CDC tersebut sejalan dengan temuan angka reproduksi kasus mutasi tersebut. Dia menyebutkan, berdasarkan sebuah studi, tingkat reproduksi kasus varian Delta ada di kisaran 5-8 orang, lebih tinggi dibandingkan mutasi lainnya yang hanya 2-3 orang.

Angka reproduksi kasus ini menunjukkan potensi sebuah penyakit menular dari satu orang ke orang lainnya. Jika suatu penyakit memiliki angka reproduksi 1, artinya dari satu orang pengidap bisa menularkan ke satu orang lain. Jika angka reproduksi kasus mencapai 5, kemungkinan besar dia menularkan ke lima orang lain, dan seterusnya.

Ahmad menjelaskan, varian Delta juga terindikasi memiliki tingkat muatan virus (viral load) yang lebih tinggi pada pengidap Covid-19 dibanding mutasi lainnya. Kondisi ini, katanya, yang diduga menjadi penyebab penularan Delta lebih cepat karena seorang pengidapnya bisa menularkan muatan virus dalam jumlah yang banyak ke orang lain.

“Sekarang yang harus menjadi perhatian adalah kondisi penularan di dalam ruangan yang berisiko tinggi,” kata Ahmad kepada Lokadata.id, Rabu (4/8).

Peraih gelar PhD Moleculer Medicine University of Texas Health Science Center ini mengatakan, meski tingkat penularan Delta lebih tinggi, hingga saat ini belum diketahui apakah varian Delta juga meningkatkan risiko keparahan infeksi dan angka kematian. "Tingkat keparahan dari varian Delta ini diperkirakan masih sama dengan mutasi lain."

Menurut Ahmad, penyakit Covid-19 ini memiliki proporsi di mana 20 persen pengidapnya membutuhkan perawatan rumah sakit. Dia menyebut, dengan varian delta, proporsi orang yang membutuhkan perawatan tersebut sebetulnya masih sama.

“Cuma karena Delta menularnya lebih tinggi, 20 persen dari 1.000 orang pengidap sama 20 persen dari 10.000 kan beda. Penularan yang makin cepat membuat orang yang terdampak makin banyak. Beban rumah sakit juga meningkat,” kata peraih postdoctoral Fellow Department of Pathology Harvard Medical School ini.

Ahmad pun mengatakan, tak ada strategi khusus untuk membendung penularan varian Delta. Dia mengatakan, upaya antisipasi mutasi tersebut masih sama dengan yang lainnya yakni: jumlah tes, lacak, dan isolasi harus maksimal. Selain itu, masyarakat juga harus disiplin menerapkan protokol kesehatan.

“Varian Delta ini hanya memanfaatkan infrastruktur penanangan pandemi kita yang memang lemah,” kata pengajar pasca sarjana Universitas Yarsi ini. “Kalau kapasitas tes dan telusur kita itu tinggi, dan vaksinasi juga cepat serta cakupannya luas, kita nggak akan khawatir apa pun variannya".

Menyebar rata

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan, berdasarkan hasil pengurutan keseluruhan genom (whole genome sequencing/WGS) sudah banyak ditemukan sebaran varian Delta di Indonesia. Hal itu mengindikasikan bahwa efek varian Delta sedikit banyak mempengaruhi kondisi kasus Covid-19 nasional.

“Saat ini fokus pemerintah ialah melakukan pengendalian kasus secara nasional dengan tiga pilar pengendalian 3M, 3T, dan vaksinasi serta berusaha semaksimal mungkin mencegah varian baru untuk masuk, dengan mengendalikan mobilitas di dalam dan luar negeri,” kata Wiku kepada Lokadata.id.

Wiku yang juga Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) ini juga mengatakan, pemerintah juga akan menggencarkan upaya pengurutan keseluruhan genom untuk melacak sebaran varian Covid-19. Upaya ini, lanjutnya, juga dilakukan demi pengambilan kebijakan yang antisipatif dan tepat sasaran.

Kementerian Kesehatan sebelumnya mencatat, varian Delta telah menyebar hampir merata di berbagai wilayah Indonesia. Menurut Juru Bicara Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, varian Delta mendominasi 86 persen spesimen yang dimasukkan dalam pengurutan keseluruhan genom dalam 60 hari terakhir dan berasal dari 60 provinsi.

Nadia mengatakan, sejak awal tahun ini hingga Rabu (28/7) lalu, Indonesia telah melaporkan 3.651 hasil pengurutan keseluruhan genom ke basis data global. Dia berkata, dari ribuan spesimen yang diperiksa itu, tercatat ada tiga varian yang harus diwaspadai, antara lain: Alfa, Beta, dan Delta.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin juga mengatakan, pemerintah meminta seluruh pihak tetap waspada serta antisipatif terhadap persebaran varian Delta. Menurutnya, kewaspadaan tetap harus dijaga meski tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir ini terindikasi menurun.

“Bapak Presiden menekankan selain kita bersyukur, kita juga harus tetap waspada, karena memang virus ini sulit diduga, terjadi di mana-mana penyebarannya, di seluruh dunia,” kata Budi Gunadi dalam konferensi pers daring di Jakarta, Senin (2/8), seperti dikutip dari Antara.