Lokadata.ID

Perdagangan internasional lesu, pasar domestik jadi andalan

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (28/6/2019).
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (28/6/2019). Dhemas Reviyanto / ANTARA FOTO

Kegiatan ekspor-impor Indonesia dua bulan ke depan diprediksi terdampak lesunya perdagangan global, akibat pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Karena itu, pemerintah disarankan fokus memperluas pasar di dalam negeri sembari mencari alternatif negara tujuan ekspor.

Menurut Ekonom dari Universitas Indonesia Fithra Faisal, tantangan untuk menjaga pertumbuhan nilai ekspor mulai Maret cukup tinggi. Alasannya, pandemi Covid-19 mulai menjangkiti mayoritas negara sejak bulan ini.

“Memasuki Maret 2020 kasus Covid-19 ini mulai merebak. Nah, kita harus mewaspadai kinerja neraca perdagangan bulan Maret dan April nanti,” tutur Fithra kepada Lokadata.id, Selasa (24/3/2020).

Sejumlah negara tujuan ekspor non-tradisional yang dapat disasar pemerintah diantaranya ada pada kawasan Afrika, Amerika Latin, Asia Tengah, Eropa Timur, dan Timur Tengah.

Sejauh ini, ekspor Indonesia ke kawasan ini tidak lebih tinggi dibanding negara-negara tujuan utama. Pada Februari saja, negara tujuan ekspor tertinggi Indonesia masih didominasi pasar konvensional seperti Cina, Singapura, India, dan Malaysia.

Meski peluang memperluas pasar ekspor ke negara lain terbuka, namun Fithra menyebut hal ini akan menemui kendala baik dari dalam dan luar negeri.

Dari dalam negeri, tantangan muncul karena adanya gangguan produksi barang sejumlah industri akibat pandemi Covid-19. Produksi terganggu lantaran suplai bahan baku sejumlah industri cukup terganggu. Kemudian, banyak perusahaan yang juga sudah menerapkan metode kerja dari rumah (work from home).

Terganggunya suplai bahan baku untuk industri dalam negeri tercermin dari kinerja neraca dagang Februari. Saat itu, untuk pertama kalinya dalam 3 bulan terakhir, neraca dagang Indonesia surplus.

Nilai lebih perdagangan ini muncul karena adanya penurunan impor bahan baku/penolong dan barang modal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor kedua jenis barang ini pada Januari-Februari turun masing-masing 4,80 persen dan 10,64 persen dibanding tahun sebelumnya.

Khusus pada Februari, nilai impor bahan baku/penolong dan barang modal turun masing-masing 1,50 persen dan 16,44 persen secara tahunan.

Penurunan impor Februari, dibanding bulan sebelumnya, paling banyak terjadi di kendaraan dan bagiannya (turun 29,38 persen), barang golongan mesin dan perlengkapan elektrik (-28,14 persen), bahan kimia organik (-19,97 persen), plastik dan barang dari plastik (-19,87 persen), serta barang golongan mesin dan peralatan mekanis.

Fokus di dalam negeri

Meski menantang, Indonesia dianggap masih memiliki potensi untuk mengisi ceruk pasar ekspor sebagai substitusi Cina.

Fithra menyebut ada sejumlah industri yang bisa dimaksimalkan untuk mengisi pasar-pasar ekspor tersebut. Diantaranya yakni industri tekstil, logam, elektronik, karet, mesin, dan komoditas unggulan seperti Crude Palm Oil (CPO).

Pada kesempatan terpisah, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus memandang pemerintah lebih baik fokus memperluas pangsa pasar dalam negeri alih-alih mengincar ekspor barang substitusi dari Cina. Dia menganggap potensi penyerapan barang-barang di dalam negeri cukup besar.

“Dari hasil penjualan tersebut bisa untung dan terbantu, hanya pemerintah harus memberikan pengamanan pasar dalam negeri,” kata Heri kepada Lokadata.

Pendapat Heri senada dengan Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kementerian Koordinator Perekonomian, Bambang Adi Winarso. Menurutnya, pemerintah saat ini masih fokus dalam penanganan Covid-19 dan pemberian stimulus ekonomi, alih-alih memikirkan penetrasi ekspor substitusi barang dari CIna ke sejumlah negara.

“Kegiatan ekspor kan juga agak terganggu khususnya di negara tujuan ekspor yang juga menghadapi pandemi Covid-19. Kita perlu mengamankan kondisi dalam negeri terlebih dahulu,” tutur Bambang kepada Lokadata.id, Rabu(25/03/2020).