Lokadata.ID

Perkembangan vaksin Covid-19 di Indonesia dan negara lain

Pekerja mengemas dan memberikan label vaksin di Laboratorium Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa (10/3/2020).
Pekerja mengemas dan memberikan label vaksin di Laboratorium Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa (10/3/2020). M Agung Rajasa / Antara Foto

Berbagai langkah penanganan Corona Virus Disease (Covid-19) terus dilakukan. Selain dengan melakukan rapid test di beberapa wilayah, Indonesia dan beberapa negara lain juga serius memproduksi vaksin.

Sebelum berangkat ke perkembangan pembuatan vaksin, tidak ada salahnya jika memahami lebih dalam apa makna vaksin dalam penanganan penyakit.

Mengutip alodokter.com, vaksin adalah produk yang diberikan melalui suntikan, oral, atau pun semprot untuk menghasilkan kekebalan terhadap penyakit tertentu.

Lalu, bagaimana perkembangan vaksin Covid-19?

Di Indonesia, pemerintah sudah menunjuk konsorsium pembuatan vaksin ini. Konsorsium ini dipimpin Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. "Kami masih dalam tahap konsolidasi untuk membangun konsorsium vaksin," kata Kepala Lembaga Eijkman, Amin Soebandrio saat ditemui Lokadata.id, Rabu (18/3/2020).

Konsorsium itu, kata Amin, akan melibatkan industri – khususnya PT Bio Farma (Persero), hingga perguruan tinggi. Dia juga bilang, tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan negara lain.

"Misalnya Amerika Serikat yang sudah mulai uji coba klinis. Ini salah satu pilihan. Mau mulai dari nol, atau ambil di tengah yang sedang dikembangkan negara lain lalu beli lisensinya. Pilihan ini memang lebih cepat," imbuh Amin.

Amin Soebandrio: penyembuh utama Covid-19 adalah daya tahan tubuh

Soal pembuatan vaksin, Amin menyebut, Eijkman pernah terlibat dalam forum vaksin nasional. Beberapa di antaranya vaksin hepatitis, dengue, malaria.

"Saat ini masih tahap penelitian awal dan belum ada yang bisa dipublish," ujar Head of Corporate Communications Bio Farma, Iwan Setiawan dikutip pikiran-rakyat.com, Senin (23/3/2020).

Vaksin Covid-19 di beberapa negara

Di beberapa negara yang terpapar Covid-19, pembuatan vaksin juga sudah mulai berlangsung. Di Cina, misalnya. Pembuatan vaksin Covid-19 yang dikembangkan CanSino Biologics bekerja sama dengan militer Cina, telah dilakukan uji coba ke 108 sukarelawan.

Uji coba itu berlangsung di Wuhan, wilayah yang pertama kali terpapar Covid-19. Hasilnya, beberapa dari relawan mengalami efek samping, mulai dari meningkatnya suhu tubuh, diare.

Di Amerika Serikat, pengembangan vaksin Covid-19 dilakukan Milken Institute. Para ahil lembaga penelitian itu memperkirakan waktu hingga 18 bulan untuk menyempurnakan vaksin.

Milken Institute mencatat saat ini terdapat 60 metode perawatan dan 43 vaksin dalam pengembangan. "Gagasan di sini adalah agar pasien melihat bahwa ada banyak pekerjaan yang sedang dilakukan. Ada ribuan peneliti di seluruh dunia berlomba secepat mungkin untuk mencoba mendapatkan pengobatan atau vaksin yang bisa dilepas ke pasar," ujarnya dikutip CNNIndonesia.com.

Sementara, Jerman mengembangkan vaksin melalui Dievini Hopp BioTech. Ini adalah sebuah perusahaan induk yang dijalankan oleh seorang miliarder sekaligus pendiri SAP, Dietmar Hopp.

Dievini Hopp BioTech menyampaikan, vaksin Covid-19 akan tersedia pada musim gugur atau sekitar September sampai ke akhir November. "Itu pun jika semuanya berjalan sesuai jadwal," kata Dievini BioTech kepada surat kabar Frankfurter Allgemeine Sonntagszeitung yang dilansir Detik.com, Minggu (22/3/2020).

Ilmuwan Duke-NUS Medical School Singapura juga ikut mengembangkan vaksin Covid-19. Bedanya, para ilmuwan Singapura mengevaluasi vaksin potensial yang disediakan Arcturus Therapeutics – sebuah perusahaan bioteknologi Amerika.

Dilansir Suara.com, Ooi Eng Eong, wakil direktur program penyakit menular Duke-NUS Medical School menyampaikan, waktu yang diperlukan lebih singkat dibandingkan yang biasanya diperlukan untuk pengujian berdasarkan respons manusia. "Anda bisa tahu dari cara gen berubah, gen apa yang dihidupkan, apa yang dimatikan," kata Ooi.

Upaya lain juga diumumkan Anges Inc. Bersama Universitas Osaka di Jepang, perusahaan itu telah merampungkan vaksin berbasis DNA dan segera mengujinya pada hewan di laboratorium.

Vaksin berbasis DNA dibuat dengan memanfaatkan virus tidak aktif. Vaksin jenis ini bisa diproduksi lebih cepat dibandingkan yang berbasis protein, demikian tercantum dalam pernyataan resmi Anges Inc yang dikutip Kompas.id, Selasa (24/3/2020).

Selain dengan Universitas Osaka, pengembangan vaksin itu juga melibatkan Takara Bio Co dan Daicel. Takara akan memproduksi, sementara Daicel menyediakan teknologi transfer genetika.