Lokadata.ID

Pertumbuhan ekonomi Bali, Aceh, Papua Barat terendah, ini sebabnya

Foto udara suasana lengang kawasan wisata Pantai Legian di Badung, Bali, Senin (26/7/2021).
Foto udara suasana lengang kawasan wisata Pantai Legian di Badung, Bali, Senin (26/7/2021). Fikri Yusuf / ANTARA FOTO

Perekonomian nasional berhasil kembali tumbuh positif mencapai 7,07 persen pada kuartal kedua tahun ini. Indonesia juga resmi lepas dari masa suram ekonomi negatif selama empat kuartal berturut-turut. Tapi, bagaimana dengan progres pemulihan ekonomi daerah atau produk domestik regional bruto/PDRB?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, di tengah perekonomian nasional yang tumbuh tinggi secara tahunan, sebanyak 26 provinsi tercatat tumbuh lebih rendah. Dari jumlah tersebut, 3 provinsi mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat tipis bahkan ada satu yang menyusut atau terkontraksi.

Menurut catatan BPS, dua provinsi yang ekonominya tumbuh tipis serta di bawah angka nasional, adalah Bali hanya tumbuh 2,83 persen secara tahunan dan Aceh naik 2,56 persen. Sedangkan, perekonomian Papua Barat justru terkontraksi mencapai 2,39 persen

Data BPS yang lebih rinci menunjukkan, tipisnya pertumbuhan ekonomi sejumlah daerah tersebut, terutama Aceh dan Bali, disinyalir akibat laju konsumsi rumah tangganya yang rendah. Di kedua wilayah ini, konsumsi rumah tangga berkontribusi mencapai lebih dari 50 persen terhadap PDRB.

Data BPS Aceh menunjukkan, konsumsi rumah tangga di wilayah ini bahkan tumbuh tak sampai 1 persen, yakni hanya sekitar 0,14 persen. Sedangkan, BPS Bali mencatat, konsumsi rumah tangga provinsi ini hanya naik 1,78 persen secara tahunan.

Kondisi berbeda terjadi pada Papua Barat. Kontribusi konsumsi rumah tangga pada provinsi ini hanya mencapai 31,79 persen. Namun konsumsi rumah tangga Papua Barat berhasil tumbuh 5,07 persen secara tahunan – meski lebih rendah sedikit dari rata-rata nasional sebesar 5,93 persen.

Kontraksi ekonomi di Papua Barat ini agaknya disebabkan pertumbuhan ekspor yang menyusut 12,90 persen. Padahal, ekspor merupakan kelompok pengeluaran dengan kontribusi terbesar pada PDRB wilayah ini mencapai 36,66 persen.

Sektor andalan

Jika ditilik dari lapangan usaha, ekonomi Aceh pada kuartal kedua tahun ini bertumpu pada setidaknya dua sektor utama: pertanian, kehutanan, dan perikanan serta perdagangan besar dan eceran. Menurut catatan BPS Aceh, sektor pertanian di periode yang sama berkontribusi 30,77 persen dan perdagangan 15,02 persen terhadap total PDRB.

Data BPS Aceh memperlihatkan, selama kuartal kedua 2021, sektor pertanian hanya tumbuh 0,75 persen. Sementara, sektor perdagangan meningkat 1,24 persen. Dua sektor andalan lajn di wilayah ini yakni administrasi pemerintahan tumbuh 1,13 persen, sedangkan konstruksi malah minus 0,26 persen.

Data BPS Bali juga menunjukkan, pariwisata masih menjadi tulang punggung perekonomian wilayah ini. Sektor penyediaan akomodasi makan minum menyumbang sekitar 17,03 persen terhadap total PDRB dengan tumbuh 4,87 persen. Pertanian memiliki kontribusi terbanyak kedua namun hanya tumbuh 0,69 persen.

Menurut BPS Bali, ada sektor usaha lain yang berhasil tumbuh signifikan, di antaranya: administrasi pemerintahan 15,67 persen dan jasa kesehatan dan kegiatan sosial 9,20 persen. Akan tetapi, lapangan usaha ini bukan penyumbang terbanyak bagi pertumbuhan PDRB Bali.

Sementara untuk Papua Barat, menurut catatan BPS, hampir seperempat perekonomiannya disumbang oleh industri pengolahan. Sisanya, perekonomian wilayah ini banyak didorong oleh pertambangan dan penggalian 16,90 persen dan konstruksi 15,31 persen.

Menurut BPS Papua Barat, di periode yang sama, ketiga sektor usaha tersebut justru mencatatkan kontraksi. Sektor industri pengolahan minus cukup dalam 9,79 persen, pertambangan dan penggalian menyusut 5,10 persen, dan konstruksi turun tipis 0,01 persen.

Data BPS Papua Barat juga mencatat, kontraksi tiga sektor andalan itu disinyalir menjadi penyebab ekonomi wilayah ini minus – meski di saat bersamaan dua lapangan usaha lain berhasil tumbuh signifikan. Menurut BPS, sektor transportasi pergudangan tumbuh 13,18 persen dan pengadaan listrik gas 11,26 persen. Namun, kontribusi kedua lapangan usaha itu sangat kecil: bahkan tak sampai 3 persen.

Masih sulit pulih

Direktur Eksekutif Institute for Developments of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad mengatakan, secara umum pemulihan ekonomi yang relatif rendah di sejumlah wilayah itu akibat pengaruh sektor pertanian dan pariwisata. Kecuali, Papua Barat yang memiliki kisah berbeda karena kontraksi industri pengolahan serta pertambangan.

Tauhid menyebutkan, Aceh, misalnya, yang biasanya didorong oleh pertanian, selama kuartal kedua tahun ini tak tumbuh signifikan akibat perubahan waktu musim panen. Faktor lain yang mungkin menjadi penyebab pertanian melambat, katanya, akibat penurunan harga sejumlah komoditas tanaman pangan.

Menurut Tauhid, di saat sektor pertanian melambat, Aceh juga tidak mencatatkan pertumbuhan yang signifikan di lapangan usaha lain seperti industri pengolahan. Sementara untuk sektor perdagangan di wilayah ini, diperkirakan tumbuh tipis akibat dampak langsung pandemi Covid-19.

Namun demikian, kata doktor lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, pertumbuhan ekonomi Aceh yang sangat tipis juga diperkirakan lantaran pada kuartal kedua 2020 mereka tidak turun terlalu tajam. Menurut BPS Aceh, pada periode tersebut, wilayah ini hanya minus 1,60 persen – di saat ekonomi nasional turun 5,32 persen.

Tauhid menambahkan, untuk Bali, perbaikan ekonominya diperkirakan masih terbatas akibat industri pariwisata yang belum pulih ke kondisi normal sebelum pandemi Covid-19. Menurutnya, pariwisata belum pulih akibat masih adanya pembatasan sosial – meski beberapa kali sudah dilonggarkan.

Sedangkan untuk Papua Barat, penurunan ekonominya jelas diakibatkan kinerja sektor pengolahan dan pertambangan. Padahal, pertambangan khususnya merupakan sektor yang memiliki efek ganda pada sektor lainnya. Dia menambahkan, dengan efek ganda itu, jika pertambangan positif atau minus maka dampaknya langsung terasa ke total pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut.

Tauhid memperkirakan, ketiga wilayah ini kinerjanya akan melambat bahkan terpuruk seiring upaya pemerintah melaksanakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat atau level IV pada kuartal ketiga tahun ini. “Daerah-daerah ini agak berat ke depannya. Bahkan, bisa memburuk,” kata Tauhid kepada Lokadata.id, Senin (9/8/2021).