Lokadata.ID

Peternak rakyat keluhkan harga pakan, bagaimana kinerja peternak besar?

Sejumlah petugas BPOM Banten memeriksa daging ayam potong saat melakukan pengawasan makanan di Pasar Induk Rau Serang, Banten, (19/4/2021).
Sejumlah petugas BPOM Banten memeriksa daging ayam potong saat melakukan pengawasan makanan di Pasar Induk Rau Serang, Banten, (19/4/2021). Asep Fathulrahman / ANTARA FOTO

Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) mengadakan demo, Selasa (4/5/2021) meminta Kementerian Pertanian memperbaiki tata niaga unggas agar para peternak ayam mandiri tidak semakin terpuruk.

“Salah satunya harga sarana pokok produksi seperti pakan ternak tinggi sedangkan harga jual ayam broiler cenderung murah,” kata Ketua PPRN Alvino Antonio. Harga ayam broiler berada di kisaran Rp20.220-Rp21.000 sedangkan harga produksinya mencapai Rp22.000.

Alvino mencatat harga pakan di tingkat peternak mandiri saat ini Rp7.200-Rp7.600. Kenaikan harga tersebut mencapai 10-15 persen. “Salah satu alasan pabrik pakan menaikkan harga pakan karena harga jagung saat ini di atas Rp6.000,” katanya kepada Lokadata.id. Padahal, harga acuan jagung di tingkat petani paling tinggi Rp3.150 untuk kadar air 15 persen.

PPRN juga menuntut agar harga anak ayam usia sehari atau day old chicken (DOC) bisa turun dan ditetapkan di angka 20 persen dari harga jual ayam hidup. Harga DOC kini Rp7.500 per ekor, naik dari harga acuan pemerintah yang sebesar Rp5.500-Rp6.000.

Tuntutan lain adalah perusahaan pakan ternak tidak menaikkan harga. Selanjutnya, mereka juga meminta jaminan harga jual ayam hidup di atas HPP peternak mandiri yaitu minimal Rp20.000 per kilogram dan memastikan penyerapannya.

“Perusahaan integrasi dan afiliasinya dilarang menjual ayam hidup dan hasil budidaya 100 persen masuk RPHU (rumah potong hewan unggas),” kata Alvino.

Selama ini, peternak ayam mandiri tidak memiliki kemampuan untuk menjaga pendapatan mereka seperti perusahaan ternak besar atau agregator. Peternak ayam mandiri hanya membesarkan ayam dengan DOC dan pakan yang dibeli dari agregator.

Sementara, agregator bisa menjaga margin, menutup kerugian dengan usaha yang lain, seperti bisnis pakan dan DOC ketika segmen ternak merugi.

Kinerja perusahaan ternak besar

Meski perusahaan ternak ayam masih bisa menjaga margin, namun pandemi Covid-19 berdampak terhadap permintaan produk-produk perusahaan ternak. Hal ini tercermin dari kinerja keuangan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk.

Dalam laporan keuangan per 31 Desember 2020, perusahaan berkode emiten JPFA membukukan penurunan pendapatan 4,9 persen menjadi Rp36,96 triliun dari Rp38,87 triliun di 2019.

Jika dilihat per segmen penjualan bersih, hampir seluruh segmen penjualan mencatatkan penurunan kecuali peternakan komersial, budidaya perairan dan perdagangan.

Pendapatan terbesar Japfa disumbang peternakan komersial senilai Rp13,36 triliun, yang naik dari 2019 (Rp11,53 triliun). Pakan ternak menyumbang Rp10,83 triliun, turun dari capaian tahun sebelumnya (Rp13,53 triliun).

Kontraksi pendapatan menekan profitabilitas Japfa sebesar 48,1 persen menjadi Rp916,7 miliar dari Rp1,76 triliun di 2019.

Di 2020, Japfa memperkuat bisnis hilir mereka dengan mengakuisisi PT So Good Food dan PT So Good Food Manufacturing. Langkah ini dilakukan Japfa untuk memperbesar kapasitas fasilitas produksi daging olahan dan meningkatkan pemasaran dan penjualan produk olahan.

“So Good Food memiliki pengetahuan mendalam dan teknologi terdepan dalam pengolahan makanan dan pemasaran produk yang dibutuhkan perseroan,” kata Manajemen Japfa.

Perusahaan agregator lainnya yaitu, PT Malindo Feedmill Tbk. juga mencatatkan penurunan pendapatan sepanjang 2020. Untuk diketahui, Malindo menjalankan bisnis mulai dari ternak dan pembibitan ayam, peternakan komersial, sampai pengolahan makanan.

Berdasarkan laporan keuangan 31 Desember 2020, perusahaan berkode emiten MAIN itu mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp7 triliun turun 6,09 persen dari capaian di 2019.

Pendapatan segmen pakan ternak atau feedmill Malindo turun 9 persen menjadi Rp4,21 triliun sepanjang 2020. Kemudian pendapatan dari segmen pembibitan turun 9 persen menjadi Rp1,30 triliun.

Sementara, pendapatan dari segmen ayam pedaging naik 4 persen menjadi Rp1,28 triliun.Pendapatan segmen bisnis makanan Malindo tumbuh 23 persen menjadi Rp190 miliar.

Direktur Malindo, Lau Joo Hwa mengatakan permintaan daging ayam membaik sejak akhir 2020. Hal ini didukung pemasaran penjualan melalui internet dan media sosial. “Di tengah pandemi dan tekanan ekonomi, masyarakat lebih cenderung mengkonsumsi daging berprotein tinggi dengan harga lebih murah,” katanya.

Berdasarkan data Malindo, ayam pedaging memiliki kandungan protein sebesar 18,5 persen dan dijual dengan rata-rata harga Rp35.000 per kilogram.

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. sepanjang sembilan bulan pertama 2020 membukukan pendapatan senilai Rp43,2 triliun atau turun tipis 1,4 persen dibanding 2019.

Perusahaan berkode emiten CPIN ini mencatatkan penurunan penjualan pakan ternak hingga kuartal III/2020 menjadi Rp20,03 triliun, turun dari 2019 yang sebesar Rp21,13 triliun. Penjualan DOC juga turun.

Meski begitu, penjualan ayam pedaging Charoen Pokphand naik menjadi Ro13,18 triliun hingga kuartal III/2020, dari Rp12,63 triliun di 2019. Charoen Pokphand mencatatkan laba bersih Rp 2,28 triliun, turun dari sebelumnya yang mencapai Rp2,56 triliun.

Di 2020, Charoen Pokphand melakukan sejumlah langkah untuk memaksimalkan penjualan, salah satunya dengan mendorong penjualan melalui Prima Freshmarket.

Direktur Charoen Pokphand Indonesia Ferdiansyah Gunawan Tjoe mengatakan penjualan lini bisnis makanan olahan tumbuh 19,7 persen secara tahunan di semester I/2020. Untuk itu, pihaknya melakukan kerja sama dengan Grab dan mendorong pengiriman produk ke rumah-rumah.

“Penjualan produk ready meal atau makanan siap saji perseroan juga tumbuh signifikan,” kata dia.