Lokadata.ID
Pohon kaum lelaki di Tanah Karo
Sinar Ginting (66) menuangkan berbagai rempah- rempah dan daun obat-obatan yang diraciknya ke dalam kuali untuk dan dimasak untuk membuat minyak Gelanggang Pendekar Karo di Karo, Sumatra Utara. /

Pohon kaum lelaki di Tanah Karo

Bulung Besan atau Pasak Bumi berjuluk “pohonnya kaum lelaki". Ia ada dalam semua ramuan tradisional Karo, tetapi paling kesohor sebagai obat kuat.

"Kalau belum punya anak, suruh ke sini. Kita tidak buka cabang," kata Iwan Barus. Ia memang sedia ramuan yang konon bisa bikin tokcer. Sebotol ramuan (40 mililiter) dijual Rp30 ribu.

"Isinya bulung besan (daun), gegatan harimau (daun), sitarkal (lumut), dan rempah," katanya.

Pengujung Desember 2017, kami bertukar cakap dengan Barus di rumahnya, Desa Sibolangit, Kecamatan Sibolangit, Deliserdang, kira-kira 45 kilometer dari ibu kota Sumatera Utara, Medan.

Di rumahnya, Barus buka tempat berobat bernama "Tasina"--artinya inti, sari, atau santan. Lelaki itu sudah berusia 69, tetapi perawakannya kekar dan segar belaka. Ia mengklaim, minum ramuannya dengan teratur bisa bikin awet muda.

Adalah cerita kemujaraban bulung besan dalam urusan syahwat yang mengantarkan kami bertemu Barus. Bulung besan merupakan sebutan Suku Karo untuk pasak bumi atau eurycoma longifolia jack, yang sering dijuluki "pohonnya kaum lelaki".

Selain bulung besan, tanaman itu punya macam-macam nama di Sumut: Suku Melayu menyebutnya bidara pahit; Tongkat ali jadi namanya di Phakphak; Di Simalungun disebut horis kotala; Orang-orang Toba menamainya teungku ali; Suku Angkola dan Mandailing mengistilahkannya ampahan gunjo.

Menurut Barus, dalam soal keperkasaan di peraduan, bulung besan sekadar perangsang. Guna melengkapinya harus ada asupan ketahanan stamina, macam madu, kuning telur, dan kelapa muda.

Ia ibaratkan cara kerja bulung besan bercampur asupan itu serupa mesin mobil. "Kalau cuma diisi bensin tapi olinya tidak, sama dengan nol," katanya. Pun, kata Barus, bulung besan bagus pula untuk kesuburan perempuan.

"Tasina" juga sedia obat-obatan lain. Salah satunya adalah rica-rica--berbahan rempah--yang mujarab untuk mengobati diabetes dan gangguan ginjal. Itu merupakan ramuan Barus yang paling laku.

"Sampai orang Surabaya ada yang beli di sini," ujarnya, setengah berpromosi.

Ilmu meracik ramuan merupakan kemampuan turun-temurun (empat generasi) dalam keluarga Barus. Ia mengaku tak pernah berguru dari para pendahulunya. Seluruh pengetahuan soal ramuan didapatnya dari catatan di secarik kulit kayu.

Catatan itu juga didapat dengan pengalaman separuh mistis. Alkisah, pascamenikah, Barus mencoba pelbagai usaha tetapi selalu saja buntung.

Di tengah kebuntungan, Barus pergi ziarah dan kirim doa di makam ayahnya. Malamnya, ia mimpi ketemu mendiang ayahnya, yang memberitahu letak kulit kayu berisi catatan ramuan racikan leluhur mereka.

"Kayaknya sudah disiapkan buatku," ujar Barus, ihwal catatan itu.


Iwan Barus menunjukkan daun pohon Pasak Bumi atau Bulung Besan yang diambil dari ladangnya di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara. Iwan Barus merupakan salah satu pembuat ramuan obatan tradisional karo.
Iwan Barus menunjukkan daun pohon Pasak Bumi atau Bulung Besan yang diambil dari ladangnya di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara. Iwan Barus merupakan salah satu pembuat ramuan obatan tradisional karo. Andri Ginting / Beritagar.id

Sebelum bertemu Barus, kami sempat menjelajah Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit. Lima petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut ikut menemani penjelajahan itu.

Lepas satu jam keliling area seluas 29 hektare tersebut, kami menemukan dua batang bulung besan. Posisinya agak tertutup di antara rumpun rotan dan pohon-pohon tua nan bongsor. Kedua bulung besan itu punya tinggi sekitar 10 meter dengan diameter 2 sentimeter.

"Ini agak kurus, karena tidak dapat matahari. Untuk memastikan ini bulung besan, makan selembar daunnya, kalau pahit berarti benar," kata Sangep, salah satu petugas BBKSDA.

Begitu mengunyahnya, rasa pahit segera terasa. Kelenjar ludah seketika memproduksi lebih banyak cairan guna menetralkan pahit di mulut.

Penjelasan perihal bulung besan juga datang dari Suyono, Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan BBKSDA Sumut, yang turut memandu perjalanan kami.

Suyono mengatakan, bulung besan banyak ditemukan di hutan Sumatra dan Kalimantan.

Tanaman itu berakar tunggal. "Banyak orang ambil untuk masuk angin dan malaria. Bukan cuma untuk urusan laki-laki saja," kata Suyono. "Tapi kebanyakan ditebang sampai ke akar. Bikin langsung mati."

Biji bulung besan yang jatuh ke tanah sebenarnya berpotensi jadi tunas baru. Namun, hal itu jarang terjadi, sebab biji yang jatuh juga jadi makanan semut. Pun, proses tumbuhnya lambat dan harus berada di dataran tinggi nan kaya sinar matahari.

Ukuran pohon bulung besan terbesar kira-kira sepelukan orang dewasa. Pohon sebesar itu, kata Suyono, masih ada di Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumut.

Cerita tentang khasiatnya bikin bulung besan kian sulit ditemukan di Sumut. Pasalnya, banyak orang yang mencarinya hingga ke pelosok hutan.

Sinar Ginting (66), pembuat Minyak Gelanggang Pendekar Karo saat ditemui di rumahnya di Desa Serdang, Barusjahe, Karo, Sumatera Utara.
Sinar Ginting (66), pembuat Minyak Gelanggang Pendekar Karo saat ditemui di rumahnya di Desa Serdang, Barusjahe, Karo, Sumatera Utara. Andri Ginting / Beritagar.id

Dari Deliserdang, kami bertolak ke Berastagi, ibu kota Kabupaten Karo. Jarak antara kedua kota itu lebih kurang 30 kilometer.

Di Berastagi, kami dengar kisah tentang seorang parkemkem--sebutan lokal untuk pandai obat--yang piawai bikin ramuan keperkasaan. Kisah itu datang dari mulut, Jaya Surbakti (52), petugas parkir di Jalan Letjen Djamin Ginting, pusat kota Berastagi.

Jaya berkisah, rumah tangga seorang anaknya sempat terancam bubar lantaran tak beroleh keturunan selama enam tahun. Ia lantas membawa anaknya berobat pada Sinar Ginting, parkemkem masyur di Desa Serdang.

Lepas pakai ramuan Sinar, kata Jaya, penis anaknya jadi "bandal, berdiri terus, dan mau menikam saja". Singkat cerita, Jaya beroleh cucu.

Berbekal kisah itu, kami menuju ke rumah Sinar di Desa Serdang, Kecamatan Barusjahe, Karo.

Rumah Sinar beratap ijuk, dengan lantai penuh rempah-rempah dan dedaunan yang berserakan. Ada dua ruangan di rumah itu, salah satunya berfungsi sebagai dapur, dan bilik lain jadi tempat tidur sekaligus ruang tamu.

Parkemkem berusia 66 itu duduk beralas tikar dan mulai berkisah sambil mengisap sigaret. Menurut Sinar, kasus anak Jaya tak sesederhana soal stamina di atas peraduan, melainkan masalah perkakas kelaki-lakian yang enggan bangun.

Demi bikin bangun penis, kata Sinar, dibutuhkan minyak lintah dan terkal--lumut-lumutan yang biasa tumbuh di batang dan akar pohon-pohon tua.

"Bukan cuman bulung besan," katanya. "Tapi bulung besan, memang kupakai di semua ramuanku."

Itu bukan satu-satunya ramuan keperkasaan racikan Sinar. Satu ramuan lainnya bernama Gelanggang Pendekar Karo yang bisa diminum atau dioles.

Bila diminum bisa bikin prima di atas ranjang. Kalau dioles berkhasiat bikin panjang penis. Ramuan itu juga punya khasiat lain, termasuk obat urut

Agar prima di atas ranjang, Sinar sarankan dosis satu sendok makan Gelanggang Pendekar Karo, dan dicampur telur atau beberapa tawar (ramuan/obat) lain. "Minum dua kali dalam sebulan, selang setahun kelihatan hasilnya."

Pembuatan ramuan itu juga butuh ketelatenan. Mula-mula, ratusan daun--termasuk bulung besan--direbus bersama 70 akar tumbuh-tumbuhan. Setelahnya, campuran itu direndam minyak goreng dengan panas api kecil dari kayu bakar. Campuran itu mesti diaduk hingga menyatu selama 10 jam. Sepintas proses itu mirip cara bikin dodol.

Hasil akhirnya berupa minyak warna hijau. Biasanya, minyak itu dijual Rp300-400 ribu dalam kemasan jerigen ukuran 2-5 liter.

Konon, ramuan itu sudah bepergian ke beberapa negara. "Ada orang Prancis yang minta kirim 30 liter tiap bulan," ujar Sinar. "Bahan-bahannya rahasia, kalau mau berobat datang ke sini."

Satu sudut dalam sebuah toko obat (tawar) tradisional khas Karo, atau biasa disebut "Kemkem" di Pasar Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Satu sudut dalam sebuah toko obat (tawar) tradisional khas Karo, atau biasa disebut "Kemkem" di Pasar Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Andri Ginting / Beritagar.id

Kami sempat pula mampir ke Pasar Berastagi, Karo. Di pasar tradisional itu masih ada beberapa kemkem--gerai penjual ramuan tradisional.

Sekali bertanya pada seorang pedagang, kami diarahkan menuju satu gerai yang disebut-sebut sebagai "kemkem teramai di Pasar Berastagi".

Plang namanya bertuliskan "Kem-Kem. Berastagi No 1-2. Menjual segala macam rempah". Kami bertemu pemiliknya, Bru Tarigan, seorang perempuan paruh baya dengan dialek Karo nan kental.

Gerai itu menyediakan bulung besan kering, yang dijual per 10 gram seharga Rp20 ribu. Banyaknya sekitar 10-15 helai daun. Dengan kata lain, 1 kilogram bulung besan bisa mencapai Rp2 juta.

"Bisa lebih mahal, kalau barang terbatas," kata Bru Tarigan.

Bulung besan di Pasar Berastagi disuplai pengepul dari Kutacane, Aceh. Harga beli daun basah sekitar Rp300-500 ribu per kilo. Para pedagang di Pasar Berastagi memang hanya beli daun bulung besan--akar dan batang dianggap tak bermanfaat.

Biasanya, Bru Tarigan memborong bulung besan sebanyak 500 kilogram.

Ia mengaku bulung besan "cukup laku". Pasalnya, nyaris seluruh ramuan Karo mengandung bulung besan. Daun itu memang dipakai sebagai obat pelbagai penyakit, macam sesak napas, diare, dan malaria.

Alih-alih merekomendasikan bulung besan, Bru Tarigan mengajukan tawar mencibut untuk mendukung stamina lelaki. Ia memperkenalkan ramuan itu sebagai"viagra-nya orang Karo".

Namun, ia menolak buka rahasia pelbagai campuran dalam ramuan itu. Ia sekadar menunjukkan sebotol tawar mencibut berukuran 50 mililiter yang dijual seharga Rp75 ribu. Botol itu berisi cairan kental--seperti salep--warna hijau tua, dan beraroma khas jamu.

"Minum dua kali sehari, satu sendok teh sesudah makan. Minumnya bisa pakai telur atau teh manis. Pantangannya, minuman keras dan durian," katanya. "Mencibut artinya tupai. Jadi kayak tupai itulah punya laki-laki, liar."