Lokadata.ID

Ramadan 2021: Hasil penjualan takjil terasa lebih maknyus

Pedagang melayani pembeli makanan untuk berbuka puasa (takjil) di Jalan Dr. Susilo Bandar Lampung, Lampung, Kamis (15/4/2021).
Pedagang melayani pembeli makanan untuk berbuka puasa (takjil) di Jalan Dr. Susilo Bandar Lampung, Lampung, Kamis (15/4/2021). Ardiansyah / ANTARA FOTO

Kawasan Pasar Lama, Tangerang, sudah puluhan tahun terkenal sebagai kawasan kuliner dengan berbagai makanan enak. Banyak kedai di sana yang sudah berusia lebih dari 20-30 tahun dan masih eksis sampai sekarang. Suasana agak berbeda pada saat Ramadan: kawasan itu seketika berubah menjadi pusat takjil atau makanan untuk buka puasa.

Pantauan Lokadata.id, Senin (3/5) sore, kawasan tersebut tampak dipadati pemburu takjil. Meski ramai pengunjung, keramaian hanya ada di beberapa titik. Sedangkan para pedagang baru mulai berjualan sekitar pukul 16.00 WIB. Takjil yang dijajakan di Pasar Lama cukup bervariasi, mulai dari kolak, aneka es, gorengan, hingga onde-onde.

Selain itu, ada penjaja makanan yang juga menyediakan beragam makanan berat seperti nasi goreng, mie goreng, dan soto. “Tergolong ramai dibanding puasa tahun lalu. Tetapi masih kalah dengan sebelum pandemi. (Sebelum pandemi) jualan takjil selalu ramai,” kata Dwi Ika, salah seorang penjual takjil kepada Lokadata.id (3/5/2021).

Dwi Ika yang sudah lima tahun berjualan takjil di sana menambahkan takjil yang paling laris adalah es buah yang satu gelasnya dijual Rp10.000 dan jus buah yang harganya Rp15.000-Rp20.000. Per harinya, Dwi bisa menjual 150 gelas per hari. Dari deretan pedagang takjil di Pasar Lama, tampak hanya Dwi yang menjual aneka es hingga kolak.

Perempuan 44 tahun ini juga mengatakan bahwa pengunjung Ramadan tahun ini lebih ramai ketimbang tahun lalu. “Mau gimana lagi kami butuh uang (sehingga tetap berjualan). Yang penting tetap pakai masker, malah sampai dobel, dan sarung tangan. Minuman seperti es blewah juga di-press tutup plastik sejak dari rumah,” kata dia.

Maharani, penjual aneka gorengan dan jajanan pasar di Pasar Lama juga mengatakan penjualan Ramadan ini jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu. “Penjualan di Ramadan tahun ini laku keras dibandingkan tahun lalu. Tapi sebelum pandemi jualan takjil jauh lebih ramai karena sering ada pesanan untuk buka bersama,” katanya.

Perempuan 38 tahun yang sudah berjualan takjil sejak tujuh tahun lalu ini mengatakan aneka gorengan yang dijualnya merupakan makanan paling laris. Satu gorengan dijual dengan harga Rp3.000. Sedangkan jajanan pasar yang ramai diburu adalah pastel dan lemper yang dijual per satuan dengan harga Rp5.000.

Senada dengan Dwi Ika, Maharani mengatakan dalam kondisi ramai seperti Ramadan tahun ini tidak masalah bagi dia dan juga para pembeli. “Yang penting penjual dan pembeli wajib pakai masker,” kata dia.

Salah satu pengunjung Pasar Lama, Tangerang, Fikri Pratama kerap membeli takjil di kawasan tersebut karena lokasinya yang dekat dari rumah. “Biasanya menghabiskan sampai Rp30.000 saat membeli takjil. Karena takjil ini juga titipan keluarga,” kata laki-laki berusia 18 tahun ini.

Fikri mengatakan dia sempat khawatir jika suasana di Pasar Lama terlalu ramai dan padat. “Tapi mau bagaimana lagi, kami kan puasa, jadi perlu cari asupan untuk buka puasa. Yang penting tetap pakai masker,” kata dia.

Nur Adila mengatakan, sudah sejak lama dia kerap mengunjungi kawasan kuliner Pasar Lama, Tangerang, selama Ramadan karena ragam kuliner yang ditawarkan di sana. “Banyak variasi. Bisa menghabiskan uang Rp10.000-Rp25.000 saat membeli takjil,” kata perempuan berusia 22 tahun ini.

Dia menambahkan, tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19 ketika mengunjungi pasar, yaitu dengan tetap mengenakan masker dan membawa hand sanitizer.

Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat juga menjadi salah satu tempat yang sering dikunjungi masyarakat untuk membeli takjil. Setiap menjelang jam buka puasa, pengunjung memadati jalan tersebut untuk membeli aneka takjil seperti es buah, kolak dan gorengan.

Para pedagang biasanya sudah menggelar lapaknya sejak pukul 15.00 WIB. Tampak para pedagang berjualan memenuhi sepanjang pinggir Jalan Panjang. Seluruh pedagang terlihat mengenakan masker, meski ada beberapa yang maskernya melorot sampai ke dagu.

Endang, salah satu penjual takjil musiman di Jalan Panjang mengatakan, dia bisa mendapat Rp1 juta per hari dari berjualan kolak seharga Rp10.000 per gelas. “Itu kalau dagangan habis semua. Saya bisa bawa sekitar 130 gelas per hari. Ramadan kali ini biasanya habis sih,” kata perempuan yang sehari-harinya berjualan es kemasan ini.

Berbeda dengan tahun lalu, omset penjulalan tahun ini lebih baik karena pedagang kembali diizinkan berjualan dengan menerapkan protokol kesehatan. Penjualan Ramadan kali ini, kata Endang lebih baik dibandingkan tahun lalu yang sering kali kurang dari Rp1 juta per hari.

Diperbolehkan

Dari segi izin, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta Arifin mengatakan tidak ada larangan aktivitas ekonomi di masa pembatasan aktivitas masyarakat. Dia menambahkan pedagang takjil tidak dilarang berdagang di dalam gedung, pasar, maupun di pinggir jalan.

“Tetapi harus diperhatikan, kalau di gedung pengelola gedung harus membatasi jumlah orang yang belanja. Jarak juga harus diatur sehingga meminimalisasi potensi terjadinya kasus,” kata Arifin.

Namun, dia mengingatkan masyarakat untuk tidak berjualan takjil di sembarang tempat seperti mengokupasi trotoar sehingga menimbulkan kemacetan di ruas jalan. “Selama mengikuti ketentuan, prokes dipatuhi, diperbolehkan. Kalau tidak diperbolehkan pasti tempatnya masuk kategori yang tidak diperbolehkan,” katanya.

Ramadan tahun ini memang berbeda dengan tahun lalu. Asosiasi Pedagang Kaki lima Indonesia (APKLI) menyatakan omset pedangang takjil pada 2020 turun drastis sebesar 70-90 persen. “Kondisi ini berlangsung semenjak penetapan Covid-19 sebagai kondisi darurat bencana non-alam Maret 2020,” kata Ketua Umum APKLI Ali Mahsun.

Puasa tahun lalu, Pemprov DKI Jakarta melalui Satpol PP DKI Jakarta juga tidak melarang pedagang berjualan takjil selama Ramadan. Hanya saja lokasi yang diizinkan terbatas seperti pasar dan kios, sedangkan trotoar, badan jalan, taman tidak boleh untuk berdagang. Izin berjualan itu diatur dalam Pergub Nomor 33 Tahun 2020 yang menjadi landasan hukum pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta.