Lokadata.ID

Rasio tes anjlok, komitmen pemerintah dipertanyakan

Petugas mengambil sampel lendir hidung untuk pemeriksaan tes cepat (rapid test) Antigen Covid-19 massal secara gratis di Terminal Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (16/2/2021).
Petugas mengambil sampel lendir hidung untuk pemeriksaan tes cepat (rapid test) Antigen Covid-19 massal secara gratis di Terminal Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (16/2/2021). Yulius Satria Wijaya / ANTARA FOTO

Jumlah pertambahan pasien virus korona harian tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda penurunan. Jika pada Selasa (9/2) tercatat 8.700 penderita baru, turun menjadi 6.462 pada Senin (15/2/2021).

Angka kasus virus korona pada minggu tersebut cukup terlihat menurun secara signifikan dibandingkan pekan sebelumnya. Pada pekan 2-8 Februari 2021, kasus Covid-19 kerap di atas 10.000 kasus. Secara kumulatif, kasus virus korona pada pekan kedua Februari turun dua digit sebesar 21,9 persen dari pekan sebelumnya.

Tapi jangan senang dulu dengan angka perlambatan pengidap Covid-19 tersebut. Penurunan jumlah pasien virus korona ini ditengarai akibat angka pemeriksaan yang anjlok.

Pada sepekan terakhir, angka tes Covid-19 hanya mencapai 209.794 orang atau 29.970 orang/hari, turun double digit dari minggu sebelumnya (24,76 persen) sebesar 278.837 orang. Angka pemeriksaan tersebut tak lagi memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 268.000 per pekan atau rata-rata 34.982 per hari.

Tentu saja penurunan angka pemeriksaan virus korona tersebut diikuti oleh kenaikan rasio kasus positif. Pada sepekan terakhir rasio kasus positif mencapai rata-rata 29,3 persen, melonjak dari minggu sebelumnya sebesar rata-rata 27,3 persen. Angka tersebut lebih besar lima kali lipat melampaui standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 5 persen.

Kenaikan angka positivity rate tersebut menyiratkan kondisi penanganan pandemi, khususnya rasio tes yang mengkhawatirkan. Artinya, banyak penularan virus korona yang belum terdeteksi di lapangan. Sangat mungkin jumlah kasus Covid-19 di lapangan saat ini jauh lebih besar ketimbang yang dilaporkan.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengakui bahwa jumlah pemeriksaan secara kumulatif turun terutama dalam 3-4 hari terakhir. “Salah satu penyebabnya adalah libur panjang sehingga banyak laboratorium swasta yang tidak beroperasi. Kemenkes juga terus menganalisis kemungkinan faktor lainnya,” kata Wiku dalam konferensi pers secara daring, Selasa (16/2) sore.

Wiku menyebut, untuk menyikapi persoalan ini, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan Satgas Covid-19 akan meningkatkan metode deteksi atau screening Covid-19 dengan tes cepat antigen. Peningkatan dengan tes cepat itu akan dilakukan di 515 kabupaten/kota serta lebih dari 10.000 Puskemas.

Wiku meminta seluruh pihak memantau data terkait Covid-19 yang telah dipublikasikan pemerintah. Selain itu, warga juga diminta tetap taat terhadap protokol kesehatan. Menurut dia, fokus pemerintah saat ini adalah menurunkan angka rasio kasus positif.

Penanganan semakin lama

Peneliti Global Health Security and Pandemic Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, penurunan jumlah pemeriksaan tersebut menyebabkan masih banyak pengidap Covid-19 yang belum terdeteksi. Kondisi ini tercermin dari angka rasio kasus positif yang luar biasa mencapai di atas 20 persen.

“(Positivity rate) di atas 10 persen saja sudah tidak terkendali pandeminya. Apalagi kalau jauh di atas 20 persen artinya sangat tidak terkendali. Dan itu menandakan bahwa kita harus terus meningkatkan cakupan testingnya seperti yang selama ini diwacanakan oleh pemerintah. Pembuktiannya belum terlihat karena yang terjadi tes menurun,” kata Dicky kepada Lokadata.id.

Dicky mengatakan, penurunan rasio tes yang disinyalir kerap berkaitan dengan laboratorium yang tidak beroperasi di saat libur panjang mestinya sudah bukan menjadi persoalan penanganan pandemi saat ini. Kondisi ini mencerminkan bahwa manajemen pengelolaan data kasus virus korona di Indonesia masih jauh dari memadai.

“Dan (pandemi ) ini sudah hampir satu tahun. Artinya kalau sudah satu tahun PR-nya kasus yang tidak terdeteksinya sudah banyak sekali terlewatkan dan semakin banyak. Di dalam hal ini fenomena gunung es yang di bawah permukaan semakin banyak karena ini kan pola eksponensial,” katanya.

Dicky meminta pemerintah pusat dan daerah agar serius mengendalikan pandemi dengan meningkatkan rasio 3T tersebut. Peningkatan upaya ini pada gilirannya juga akan melindungi masyarakat.

Kepada Lokadata.id, pakar epidemiologi Universitas Airlangga, Windhu Purnomo juga mengatakan hal yang sama. Dia menyebut, penurunan jumlah tes ini disinyalir menjadi petunjuk bahwa pemerintah seolah tak punya komitmen untuk meningkatkan kapasitas strategi tersebut.

Menurut Windhu, fenomena penurunan jumlah pemeriksaan ini juga kontras dengan arahan pemerintah pusat untuk memperkuat 3T saat pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro di Jawa-Bali saat ini. Dia khawatir jika masalah ini tak kunjung teratasi, penanganan pandemi akan semakin lama dan berlarut-larut.

“Arahan pemerintah pusat tingkatkan 3T tapi anehnya kok malah turun? Jadi apa yang dinyatakan tidak sesuai dengan implementasinya,” kata Windhu. “Selama kita masih begini-begini terus pandemi enggak akan selesai. Kalau kita cuman mengharapkan vaksin, vaksinasi kan lama waktunya.”

Windhu berharap rencana pemerintah pusat melaksanakan tes cepat antigen secara masif bisa terealisasi dengan maksimal di lapangan. Menurut dia, dalam rencana ini, koordinasi pemerintah pusat dan daerah menjadi penting.