Lokadata.ID

Rekor kontribusi properti pada perekonomian

Pengendara sepeda motor mellintas di salah satu kompleks perumahan yang difasilitasi dengan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (7/12/2020).
Pengendara sepeda motor mellintas di salah satu kompleks perumahan yang difasilitasi dengan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (7/12/2020). Basri Marzuki / Lokadata.id

Kenaikan harga properti, baik rumah tinggal atau perkantoran, yang tak kenal kompromi membuat pertumbuhan nilai ekonomi sektor tersebut selalu lebih tinggi dari pergerakan ekonomi nasional.

Dalam kurun waktu 10 tahun misalnya, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sektor properti selalu melampaui PDB nasional, kecuali periode 2015 - 2018. Bahkan di saat perekonomian nasional tergerus 2,1 persen, tahun lalu, sektor properti justru tumbuh positif 2,3 persen.

Hingga 2020, nilai ekonomi sektor properti mencapai Rp324,3 triliun atau 3,02 persen dari total perekonomian nasional. Inilah catatan kontribusi sektor properti tertinggi terhadap perekonomian nasional, setidaknya dalam 10 tahun terakhir.

Pencapaian itu merupakan catatan sejarah baru untuk sektor properti. Kenaikan harga yang tiada henti terus membesarkan ukuran ekonomi di sektor tersebut.

Kinerja sektor properti vs perekonomian nasional
Kinerja sektor properti vs perekonomian nasional Fadhlan Aulia / Lokadata.id

Membesarnya nilai ekonomi sektor properti tampaknya tidak sejalan dengan kinerja belanja masyarakat di sektor tersebut. Indikasi ini, setidaknya ditunjukkan melalui pertumbuhan kredit properti yang terus melandai dalam dua tahun terakhir.

Pada 2018 misalnya, pertumbuhan kredit pemilikan rumah dan apartemen mencapai puncaknya, yaitu masing-masing 13,3 persen dan 29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Setelah itu terus melandai, walaupun masih positif.

Tahun berikutnya, kredit pemilikan rumah hanya tumbuh 7,8 persen, dan terus menurun hingga tinggal 3,5 persen pada 2020.

Sementara itu, untuk kredit pemilikan apartemen, pertumbuhannya langsung anjlok menjadi 12,0 persen pada 2019, dan hanya naik 2,3 persen pada 2020. Sementara kredit untuk pemilikan rumah toko atau ruko, telah menyusut sejak 2017.

Pertumbuhan kredit properti vs total kredit perbankan
Pertumbuhan kredit properti vs total kredit perbankan Fadhlan Aulia / Lokadata.id

Di tengah ukuran ekonomi sektor properti yang terus membengkak, krisis akibat pandemi telah meringkus pendapatan masyarakat. Pada 2019, BPS mencatat PDB per kapita mencapai Rp41 juta, lalu turun menjadi Rp39,7 juta (alias minus 3,3 persen), pada 2020.

Celakanya, pada saat bersamaan para pengusaha properti tak kenal kompromi: harga properti residensial tetap naik dengan rata-rata dari seluruh tipe sekitar 1,4 persen.

Tampaknya, kinerja sektor properti yang terus tumbuh dengan kontribusi yang semakin besar terhadap perekonomian nasional, lebih banyak dipengaruhi oleh harga. Daya beli, seperti diperlihatkan oleh penyaluran kredit properti dan diindikasikan oleh pendapatan masyarakat, justru melandai.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan bagian dari Lokadata Report tentang industri perumahan, yang terdiri dari:
1. Ketika harga rumah makin tak terjamah
2. Rekor kontribusi properti pada perekonomian
3. 16 juta rumah-tangga tanpa rumah menanti subsidi pemerintah