Lokadata.ID

Ribuan orang positif Covid-19 saat tiba di Indonesia, kok bisa?

Seorang warga negara asing  berjalan di depan jadwal keberangkatan internasional di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (13/1/2021).
Seorang warga negara asing berjalan di depan jadwal keberangkatan internasional di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (13/1/2021). Fauzan / ANTARA FOTO

Baru-baru ini beredar video berisi keluhan seorang warga Indonesia yang baru tiba dari Rusia dan dinyatakan positif Covid-19. Ia mengeluhkan cara penanganan yang menurut dia kurang profesional, namun hal ini dibantah Satgas Covid-19 karena sudah dilakukan secara prosedural.

Pengunggah video termasuk di antara ribuan orang yang dalam tes setibanya mereka di Indonesia, ketahuan positif Covid-19 meski mengantongi surat keterangan bebas virus korona. Sepanjang 28 Desember 2020 hingga 22 Februari 2021, tercatat 1.357 kasus semacam ini.

Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 1.222 Warga Negara Indonesia (WNI) dan 135 WNA yang positif Covid-19 saat dilakukan skrining tes PCR setibanya mereka di Indonesia.

Satgas Covid-19 memetakan ribuan orang yang terkonfirmasi Covid-19 ini berasal dari beberapa negara dengan yang paling banyak berasal dari Arab Saudi 471 orang.

Menurut Kasubdit Karantina Kesehatan pada Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Benget Saragih, penyebab warga yang datang dari luar negeri ini dinyatakan positif Covid-19 meski sudah punya surat bebas virus korona disebabkan beberapa hal.

Pertama, ada kemungkinan swab PCR diambil terlalu awal pada saat virus masih dalam tahap inkubasi sehingga tidak terdeteksi.

“Masa inkubasi virus korona kan selama 2 sampai 6 hari. Selain itu, orang yang tiba di Indonesia bisa saja positif Covid-19 karena terpapar selama melakukan perjalanan seperti di bandara atau selama penerbangan,” katanya kepada Lokadata.id, Selasa (23/2/2021).

Selain itu, kualitas pengambilan swab dan pemeriksaan lab dari negara asal yang tidak tepat serta potensi pemalsuan surat keterangan PCR juga dapat terjadi.

Kasus semacam ini rupanya cukup banyak. Data Satgas Covid-19, sejak 17 Maret 2020 hingga 19 Februari 2021, tercatat 574.665 orang masuk Indonesia dan 3.219 di antaranya terpapar virus korona.

Periode jendela

Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia Dicky Budiman, mengatakan insiden itu bisa terjadi karena situasi pandemi saat ini belum terkendali di level global. Dalam poin kewajiban orang dari luar Indonesia membawa surat keterangan bebas Covid-19, harus dilihat juga dari negara mana mereka datang.

"Katakanlah dari Australia. Negara itu status transmisi komunitasnya tidak ada atau artinya kasusnya nol. Dari situ tentu kualitas dan validitas hasil, serta potensi adanya periode jendela sangat amat kecil," katanya.

Periode jendela adalah masa di mana tes tidak mendeteksi antibodi atau tidak bisa mendeteksi keberadaan virus karena virol untuk antigen harus dalam kondisi yang tinggi seperti 1-3 hari sebelum onset, kemudian 3-5 hari setelah gejala. Di luar itu, tes tidak bisa mendeteksi dan bisa menghasilkan hasil yang tidak sesuai dengan kondisi pasien.

Kasus berbeda, kata Dicky bisa terjadi jika mereka mereka datang dari negara dengan kasus Covid-19 yang belum terkendali dengan baik seperti dari India, Inggris, atau Amerika Serikat. Mereka memiliki potensi periode jendelanya tinggi dan ada potensi datang dengan status terkonfirmasi positif.

Berkaca dari kasus tersebut, Dicky menyarankan agar orang yang mau datang ke Indonesia seminggu sebelumnya banyak di rumah.

"Jadi, usahakan untuk seminggu sebelumnya mereka diminta untuk banyak di rumah dan tentunya disiplin melakukan protokol kesehatan 5M. Baru, tiga atau satu hari sebelum keberangkatan melakukan tes diagnosa Covid-19," kata dia.

Dicky juga meminta kepada pemerintah untuk melakukan tes genom sequencing pada mereka yang dinyatakan masih positif meski sudah karantina 5 hari. Sebab, di masa situasi pandemi yang belum membaik, perjalanan antarnegara memiliki risiko tinggi membawa varian baru Covid-19.

Sedangkan terkait potensi tertular selama penerbangan, menurut kandidat Phd di bidang Global Health Security dan Pandemic ini kecil kemungkinannya. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan Arnold Barnett.

“Potensi penularan di pesawat kecil sekali. Apalagi dengan ada pemakai masker, face shield, dan duduknya dibuat berjarak. Belum lagi pesawat kan pakai hepa filter yang sangat aman,” kata Dicky.

Langkah antisipasi

Benget Saragih mengatakan ke depan upaya pengawasan terhadap warga yang datang dari luar negeri terus dilaksanakan dan ditingkatkan. “Lebih meningkatkan koordinasi, kerja sama, dan sinergitas dengan seluruh stakeholder terkait penerapan protokol kesehatan,” katanya.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan pemerintah telah membuat aturan mengenai pembatasan pelaku perjalanan nasional dan internasional. Pemerintah telah membatasi kedatangan WNA maupun WNI dari semua negara sampai dengan 14 Januari 2021 dan diperpanjang dari 9 Februari sampai dengan waktu yang belum ditentukan.

“Dan proses pengetatan juga berjalan, begitu juga syarat-syarat PCRnya. Syarat-syarat PCR ini juga diubah dari waktu ke waktu. Pertama hanya menunjukkan PCR sebelum perjalanan, nah sekarang sudah harus melakukan skrining lebih banyak dan karantina,” kata Wiku dalam konferensi pers daring, Kamis (18/2).

Pemberlakuan skrining ini dimulai dari tes PCR di negara asal. Kemudian diikuti dengan pemeriksaan suhu tubuh. Setelahnya, pelaku perjalanan akan melakukan pemeriksaan eHAC Internasional melalui aplikasi.

Sesampainya di Indonesia, pelaku perjalanan akan melakukan tes PCR kembali yang diikuti dengan karantina selama 5x24 jam. Di hari kelima, pelaku perjalanan akan dites lagi.

Wiku Adisasmito menilai proses skrining yang ketat ini efektif diberlakukan. “Kalau kita lihat dari data-data yang ada, kelihatan sistem surveilans kita ini cukup efektif. Seandainya tidak melakukan screening maka ada beberapa ratus orang yang bisa masuk ke Indonesia dan kembali ke keluarga dan lingkungannya bisa menyebarkan,” kata dia.

Meskipun skrining dinilai efektif, Dicky Budiman menyarankan agar periode karantina diperpanjang. Ia menilai waktu 5 hari ini terlalu singkat mengingat situasi pandemi saat ini masih serius dan program vaksinasi belum memadai.

“Studi efektivitas karantina secara umum, walaupun betul rata-rata 4-5 hari, tapi dari sisi pengamanan negara yang berhasil menerapkan karantina seperti perbatasan Australia dan New Zealand ini ya 14 hari. Kalau pun misalnya mau turun ada banyak rerata negara yang relatif efektif di 10 hari. Jadi 5 hari terlalu singkat,” kata dia.