logo-lokadata
Rinaldy Yunardi, anak Medan di jalur fesyen dunia
Rinaldy Arvino Yunardi, desainer aksesori berkelas dunia, saat berpose untuk Beritagar.id di kantor sekaligus ruang pamer karyanya di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (10/4/2019). Bismo Agung/Beritagar.id

Rinaldy Yunardi, anak Medan di jalur fesyen dunia

Desainer aksesori berkelas dunia, Rinaldy A. Yunardi, didera masa kecil keras. Kini, namanya kian diperhitungkan di jagat mode.

Waktu Rinaldy Arvino Yunardi kehilangan orang tuanya dalam tempo dua tahun, dia merasa tak lagi punya alasan untuk melanjutkan hidup.

Jiwanya seperti terangkat separuh setelah ayahnya meninggal enam tahun lalu karena diabetes dan stroke. Separuh jiwa lagi, yang dia jaga dengan gelisah, seakan-akan ikut bablas kala kanker mematikan ibunya setahun kemudian.

"Saya maunya ikut mereka saja," ujar desainer aksesori kesohor itu di kantor sekaligus ruang pamer karyanya di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (10/4/2019).

Anak bungsu pasangan Yunardi dan Phin Jin Njaw itu wajar patah arang. Dia tak pernah hidup terpisah dari orang tuanya. Sejak kanak-kanak, hingga maut menceraikan ikatan itu.

Bersama mereka Rinaldy mencampur dan mengaduk masa lalu. Adonan penuh memori yang sekarang tak lagi bisa dia olah dengan leluasa.

Semuanya berpangkal pada dasawarsa 1970-an di Medan. Tanah tumpah darahnya. Gemblengan mengisi hari-hari Rinaldy di kota terbesar Sumatra itu. Di sebuah rumah berlantai dua yang ruang-ruangnya bersekat tripleks.

Dia ingat ayahnya tak sungkan-sungkan memberikan hukuman fisik jika anak-anaknya menelantarkan waktu. Kaki Rinaldy sering baret kena sabetan rotan kemoceng.

"Keadaan keluarga keras banget. Orang tua disiplin. Selesai sekolah, punya waktu di luar cuma setengah jam. Kalau enggak balik, bakal diteriakin, lalu dipukul. Dianggapnya saya enggak disiplin," kata sosok yang lebih nyaman bekerja memakai kaos, celana pendek, dan sandal jepit itu.

Namun, Yunardi tetap coba mengimbangkan. Dia tak pernah memaksa anaknya berprestasi tinggi di sekolah. Seturut kemampuan masing-masing saja. Yang pokok, putra-putrinya tak tinggal kelas.

Walau dituntut patuh, Rinaldy adakalanya menyeleweng. Saat tiba jam belajar--apalagi berurusan dengan hafalan matematika--dia bakal berlagak tidur. Dia begitu karena tahu takkan ada yang membangunkannya.

"Pas kebangun, jam belajarnya sudah lewat," ujarnya.

Mesti tertekan, pria kelahiran 1970 itu memaklumi sikap streng orang tuanya. Keluarganya bukan golongan bertimbun privilese. Kalau mau sesuatu, mereka mesti mengupayakannya dengan sungguh-sungguh.

Ayahnya memang berbisnis, tapi tidak besar. Dia membuat tas sekolah dan tas kulit. Dalam proses produksi, istrinya biasa bantu memotong dan menjahit bahan baku.

Phin Jin Niaw sesekali juga mengajar cara merangkai bunga kertas. Kata Rinaldy, tekniknya sukar ditandingi. Bahkan, hingga kini dia belum sanggup menyamai--apalagi melampaui--keindahan kriya ibunya.

Hidup boleh alot, tapi penghiburan sudi bertandang. Tersembunyi di keranjang rotan. Yunardi biasa memakai keranjang tersebut untuk mengantar tas buatannya ke toko-toko. Di wadah sama, dia juga menyimpan oleh-oleh untuk anak dan istrinya. Isinya buah, atau lauk.

Rinaldy Arvino Yunardi dan tiara rancangan pertamanya saat berpose untuk Beritagar.id, Rabu (10/4/2019), di kantornya di Penjaringan, Jakarta Utara.
Rinaldy Arvino Yunardi dan tiara rancangan pertamanya saat berpose untuk Beritagar.id, Rabu (10/4/2019), di kantornya di Penjaringan, Jakarta Utara. Bismo Agung / Beritagar.id

Kerena Yunardi tak selalu bawa tentengan, anak-anaknya berebut girang saban dia kembali dari berniaga. Teriakan, "Eh, papa pulang!"menjadi rutin. Setelah menyapa, Rinaldy dan para kakaknya bersaing mengendus keranjang tadi. Sepuas-puasnya.

"Aroma paling tajam bau durian. Kadang ayam kalasan. Durian juga enggak beli banyak. Saya dan dua kakak masing-masing dapat satu. Itu kita makannya pakai nasi. Setengah buat malam, sisanya dimakan besok pagi," ujar Rinaldy sambil menangis.

Penghiburan lain sampai tiap 17 Agustus. Itu hari pawai rakyat di pusat kota. Demi merayakan kemerdekaan. Yunardi dan istrinya pergi menonton acara tersebut dengan sepeda keranjang. Karena boncengan cuma muat seorang, Rinaldy duduk di keranjang itu. Di depan. Menantang angin.

Dengan sepeda yang sama dia pernah celaka. Kejadiannya di muka rumah, yang halamannya menampung dua pohon srikaya berbuah manis dan bertekstur lembut.

Di hari sial itu, Rinaldy asyik belajar mengayuh. Dasar lagi apes, dia jatuh dan tercemplung ke drainase kecil sewaktu melewati jembatan yang menautkan rumahnya dengan jalan umum. Mungkin karena gugup. Di selokan itu juga, teman-temannya pernah diseret arus deras saat berhujan-hujanan.

Problemnya, untuk membilas badan, dia mesti menimba air di sumur. Satu-satunya sumber air layak di rumah itu. Usai ditimba, air dituang ke saringan berjejal pasir, ijuk, dan kerikil. Kalau beruntung, bakal dapat bonus lintah.

"Lingkungan di sana baik-baik saja. Saya senang karena masih mengalami masa-masa main yang sederhana, tapi menyenangkan," dia bilang sambil mengoreksi letak kacamata Tom Ford berbingkai emas di wajahnya.


Pindah ke Jakarta, dan momen eureka

Memasuki dekade 1980-an, Rinaldy pindah ke Jakarta. Usianya sekitar 12. Kelak, dia menyelesaikan masa sekolah menengahnya di SMA Bhinneka Tunggal Ika di bilangan Jembatan Lima, Jakarta Barat.

Itu sekolah asimilasi pertama di Indonesia. Didirikan sebagai Ta Tung oleh Djoko Haryono, seorang keturunan Tionghoa. Sekolah itu bersalin nama pada 1971 atas inisiatif salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia, Mohammad Hatta.

Masalahnya, sejak kecil Rinaldy tak pernah punya cita-cita. Dia tak mengerti harus melakukan apa dalam hidupnya. Kakaknya menawarinya berkuliah, tapi Rinaldy menolak.

Karena itu, selepas SMA, dia mulai bekerja. Kesempatan pertama datang dari perusahaan ban mobil. Di situ, dia menjadi tenaga pemasaran. Namun, tugasnya macam-macam. Salah satunya mengerjakan pembukuan, pengalaman yang di belakang hari berfaedah baginya dalam mengurus bisnis.

Usai bekerja, dia cuma tahu berdisko. Sepekan bisa 3-5 kali. Tanpa menenggak miras, atau merokok. Tempat favoritnya Stardust, diskotek ngetop di kawasan Glodok, Jakarta Barat.

Satu kali, ketika tengah serius melantai, seorang pria menegurnya. Mereka lalu mengobrol. Si lelaki menanyakan pekerjaannya. Waktu Rinaldy menjawab "marketing ban mobil," si penanya bilang "enggak cocok". Selanjutnya, dia mengundang Rinaldy ke kantornya.

Rinaldy Arvino Yunardi saat berpose untuk Beritagar.id di kantornya di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (10/4/2019).
Rinaldy Arvino Yunardi saat berpose untuk Beritagar.id di kantornya di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (10/4/2019). Bismo Agung / Beritagar.id

"Orang itu Kim Tong," ujar Rinaldy tentang pria dimaksud, "desainer gaun pengantin. Di masa itu dia terkenal banget". Rinaldy diminta memasarkan hasil rancangan Kim Tong ke bridal house (sanggar pengantin).

Anak Medan itu menerima proposal Kim Tong. Tetapi, yang jadi soal, pembelinya tak banyak. "Bisa dihitung dengan jari," kata Rinaldy. Setengah tahun bekerja di situ, dia memutuskan mundur. Inti alasannya itu tadi. Jualannya susah.

Tak mau putus penghasilan, dia memilih turut kakaknya di sebuah pabrik elektronik. Ritme hidupnya masih belum berubah. Namun, di sebuah siang pada 1995, terjadi sejenis momen eureka.

Suasana pabrik sedang sepi karena para pegawai khusyuk beristirahat. Rinaldy menjelajahi pelbagai ruang. Di satu titik, dia berhenti. Matanya bertumbuk akrilik dan pemotong kawat. Dia lantas mulai mengutak-atik. Potong sana, potong sini.

Bahan-bahan itu dia rangkai secara intuitif. Berselang sebentar, imajinasinya menangkap ukiran bergaya Victoria. Di kepalanya terbayang aneka model aksesori yang terekam saat dia bekerja di Kim Tong.

"Pengetahuan saya kan tidak di situ (membuat aksesori). Enggak tahu kenapa saya mau melakukan itu. Mungkin penasaran. Di situ saya mulai dan mencoba memberanikan diri. Lalu kasih lihat karya saya ke Sebastian. Dan disukai. Sampai akhirnya saya diterima luas dan pakai brand Rinaldy A. Yunardi," ujarnya. "Tapi saya lupa yang ajak saya ke fashion Sebastian apa Didi".

Dua nama barusan mengacu ke dua perancang busana Indonesia, Sebastian Gunawan dan Didi Budiardjo.

Tentu saja, karya pertamanya--yang berbentuk mahkota--itu tak langsung jadi. Rinaldy butuh waktu berhari-hari. Ketiadaan pengalaman dan latar belakang desain menciptakan kerumitan khas.

"Lemnya lem kayu. Kalau jatuh, ya (mahkota itu) pecah. Bahannya dari akrilik berbentuk pagar. Akrilik zaman dulu, lebih kuat. Pakai kristal swarovski, mote, benang, jepitan rambut, kawat. Disemprot, dan beres. Buat saya, karya itu yang paling sulit," katanya.


Mahkota untuk idola

Waktu yang menggelar pertanyaan-pertanyaan sulit. Waktu yang menguji. Waktu pula yang mengatur pembuktian. Rinaldy bersekutu dengan konsistensi nan keras kepala dalam upaya merespons tuntutan waktu. Setelah berbilang tahun, laku istikamahnya bersambut.

Istimewanya, dia melakoni hal yang diyakininya sebagai "talenta sangat besar dari Tuhan" itu secara otodidak. Guru-gurunya hanya dari buku-buku desain yang memuat karya orang mode tangguh dunia macam Jean Paul Gaultier, Christian Dior, Hubert de Givenchy, untuk memetik sejumlah nama.

Setelah menempa diri, kualitas karya-karyanya kian menjadi. Pemakainya bukan cuma deretan calon pengantin atau kaum sosialita yang "enggak mau disebut namanya", tapi pula pesohor-pesohor yang butuh menyatakan diri. Para selebritas dimaksud bukan cuma dari Indonesia. Figur-figur kondang kolong langit pun masuk daftar.

Beberapa di antaranya, Gal Gadot si "Wonder Woman", rapper Nicki Minaj, Ariana Grande, Mariah Carey si suara lima oktaf, Shakira, Christina Aguilera, Beyonce, dan keluarga Kardashian.

Namun, yang paling berbekas baginya adalah Aaron Kwok dan Madonna.

Rinaldy Arvino Yunardi saat berpose untuk Beritagar.id di kantornya di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (10/4/2019).
Rinaldy Arvino Yunardi saat berpose untuk Beritagar.id di kantornya di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (10/4/2019). Bismo Agung / Beritagar.id

Nama pertama disebut merupakan penyanyi dan aktor film beken dari Hong Kong. Sementara Madonna telah sejak 1980-an populer sebagai Ratu Pop dunia. Dan Rinaldy telah menikmati karya-karya keduanya sejak mula mereka berkarier.

Kwok mengenakan produk hasil rancangan Rinaldy pada konser World Tour 2016. "Dia pakai headpiece yang pernah dipakai Incess (Syahrini). Terus dia main ayunan. Oh my God!" ujarnya.

Madonna pakai karyanya belakangan. Yakni pada 2018. Tapi di ajang tahunan teramat prestisius: Met Gala. Itu hajatan terakbar industri mode mondial. Harga tiketnya nyaris setengah miliar rupiah.

"Saya dulu suka banget sama gayanya, fashionnya, konsernya. Video tentang dia dulu selalu saya beli. Rekaman konsernya saya selalu beli. Posternya bahkan saya pasang di kamar," katanya tentang pelantun Like A Virgin dan Vogue itu. "Semua albumnya saya ada".

Peluang membuat aksesori untuk Madonna muncul karena Rinaldy berkongsi dengan Faye Liyu, pendiri firma kehumasan dan konsultan fesyen The Clique. Perusahaan itu mulai berjejak pada 2016 dan berbasis di Hong Kong.

Malahan, nama Rinaldy jadi bisa setenar sekarang di kancah mode dunia berkat campur tangan Faye. Rinaldy menyebutnya, "seorang teman yang mencintai karya saya, mencintai saya, dan sekarang udah kayak saudara".

Namun, untuk pesanan Madonna, Faye hanya mengajukan tema, bukan detail barang. Bahkan, tak ada informasi mengenai siapa yang bakal merancang pakaian perempuan terkaya di industri musik tersebut.

Bermodal sebutir bocoran barusan, Rinaldy mulai meraba-raba. Frasa kuncinya dua. "Queen of Pop", julukan Madonna, dan Heavenly Bodies: Fashion and Catholic Imagination, tema Met Gala tahun lalu.

"Pasti deh mereka bikin 'halo' seperti (pada gambaran) Bunda Maria. Enggak tahu kenapa saya bisa berpikiran seperti itu. Namanya kan saya berkhayal. Dia ratu, saya akan bikinin tiara. Dia juga suka salib. Okay, saya akan taruh banyak salib-salib," ujar Rinaldy.

Dia menyiapkan berbagai bahan. Logam, kristal, zirkon. Rinaldy juga membuat kalung. Rancangan dieksekusi oleh para stafnya. Dua pekan kemudian dua aksesori itu selesai. Sebagai antisipasi ukuran, Rinaldy membuat mahkota dengan bahan elastis.

"Saya tidak tahu kalau (rancangan) itu diterima. Hari-H saat dia pertama kali keluar dari hotel, saya baru tahu kalau dia memakai. Itulah hasil dari pelajaran saya, ujian saya," kata pria yang siang itu mengenakan pet Irene Fashion, jaket Comme des Garçons, celana Zara--yang semuanya serba hitam--dan sepatu Givenchy dua-warna.