Lokadata.ID

Risiko putus sekolah di tengah pandemi

Angka putus sekolah menurut jenjang dan jenis kelamin.
Angka putus sekolah menurut jenjang dan jenis kelamin. Lokadata / Lokadata

Jumlah anak putus sekolah pada tahun ajaran 2019/2020 sebesar 157.166 siswa, turun dibanding 2017/2018 yang sebanyak 187.824. Namun dikhawatirkan meningkat lagi di masa pandemi Covid-19.

Survei yang digelar Dana Anak PBB (Unicef) pada Desember 2020, menemukan bahwa terdapat 1 persen atau sekitar 938 anak putus sekolah karena pandemi di Indonesia. "Di antara semua anak usia 7-18 tahun, terdapat 88 persen masih bersekolah, 11 persen putus sekolah sebelum pandemi, dan 1 persen anak putus sekolah sebagai dampak pandemi Covid-19,” ucap Chief of Education Unicef, Hiroyuki Hattori seperti dikutip Media Indonesia, 24 Desember 2020.

Kekhawatiran pandemi berdampak terhadap angka anak putus sekolah juga disampaikan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti. Menurut dia, berdasarkan data KPAI sejak awal pandemi Covid-19 hingga Februari 2021 sudah lebih dari 150 anak putus sekolah karena menikah dan bekerja.

Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengungkap, selama ini lebih banyak murid laki-laki putus sekolah, daripada perempuan. Ini berlaku baik di tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK.

Pada tahun ajaran 2017/2018 terdapat 117.140 siswa putus sekolah, dan 70.684 murid perempuan putus sekolah. Kemudian tahun ajaran 2019/2020, terdapat 93.481 siswa dan 63.685 siswi putus sekolah.

Angka putus sekolah pada tahun ajaran 2019/2020 menurun 16,2 persen jika dibandingkan dengan tahun ajaran 2017/2018. Pada tingkat SMK, angka putus sekolah juga turun hingga 55 persen jika membandingkan dua tahun ajaran tersebut.

Jumlah anak putus sekolah dikhawatirkan naik lagi akibat krisis saat pandemi ini. ”Kondisi perekonomian orang tua yang terdampak krisis akibat pandemi berpotensi menyebabkan anak tidak dapat melanjutkan sekolah,” kata Direktur Pendidikan dan Agama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Amich Alhumami, (12/9/2020).

Hal ini perlu diantisipasi. Sebab, menurut catatan Kementerian Ketenagakerjaan per 20 April 2020 saja, ada 2.084.593 pekerja yang terdampak Covid-19. Mereka berasal dari 116.370 perusahaan, sektor formal dan informal.

Anak-anak dari keluarga yang orang tuanya dirumahkan atau kena PHK memerlukan insentif biaya pendidikan. Pemerintah mencoba mengantisipasinya dengan sejumlah kebijakan.

Salah satunya pencairan bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Bantuan ini disalurkan bagi pelajar kategori penduduk miskin dan rentan miskin.

Besaran bantuan berbeda menurut jenjang pendidikan. SD senilai Rp450 ribu, pelajar SMP Rp750 ribu, dan pelajar SMA Rp1 juta.

Selain itu, pembelajaran jarak jauh (PJJ) menuntut murid untuk mengakses pelajaran lewat internet. Fasilitas yang tak dimiliki semua keluarga ini pun difasilitasi Kemdikbud.

Kementerian yang dipimpin Menteri Nadiem Makarim tersebut mengizinkan penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk membeli paket internet bagi guru dan pelajar.