Lokadata.ID

RT-LAMP bisa atasi rendahnya rasio tes Covid-19 Indonesia

Petugas menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap melakukan tes diagnosa cepat (rapid test) pedagang pasar di Pasar Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (16/6/2020).
Petugas menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap melakukan tes diagnosa cepat (rapid test) pedagang pasar di Pasar Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (16/6/2020). Yulius Satria Wijaya / ANTARA FOTO

Upaya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan metode baru bernama Reserve Transcription Loop-Mediated Isothermal Amplification (RT-LAMP) untuk mendeteksi Covid-19 disambut baik banyak pihak.

Metode ini dipercaya bisa mengatasi rendahnya rasio tes rata-rata Indonesia untuk mendeteksi penyebaran Covid-19. Pemeriksaan via RT-LAMP hanya butuh satu jam untuk mengetahui hasilnya, sedangkan tes berbasis Reserve Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) perlu beberapa hari.

“RT-LAMP memberi harapan adanya tes cepat, dari sampel yang lebih mudah dan relatif murah. Bila Indonesia bisa mengembangkan, ini tentu sangat bagus untuk mendukung strategi testing kita yang masih rendah,” ujar epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman kepada Lokadata.id, Senin (29/6/2020).

Pemeriksaan RT-LAMP akan mengacu pada tingkat kekeruhan (turbidimetry), dan perubahan warna (colorimetry) di alat yang digunakan. Pengujian menggunakan metode ini membutuhkan sampel yang bisa diambil dari tenggorokan, hidung, urin, atau bagian mulut belakang.

Dengan metode ini, setiap orang yang menjalani tes bisa langsung melihat hasil uji dengan mata telanjang. Tanda positif atau negatif virus korona akan ditunjukkan metode ini melalui warna tertentu yang timbul di alat tes.

Metode RT-LAMP pernah digunakan untuk mendeteksi virus influenza, Severe Accute Respiratory Systrem (SARS) dan Middle East Respiratory System (MERS). Penggunaan metode RT-LAMP sudah dilakukan berbagai negara seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, India, dan Jepang.

Pengujian dengan cara ini dipercaya lebih unggul dibanding penggunaan rapid test (tes cepat) yang memiliki potensi kesalahan besar.

Menurut Dicky, akurasi RT-LAMP lebih tinggi dibanding rapid test karena metode ini khusus mendeteksi ada/tidaknya virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Sementara itu, metode uji cepat hanya bisa mendeteksi ada/tidaknya antibodi di diri seseorang.

Keunggulan RT-LAMP dibanding rapid test juga diakui epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono. Dia berkata, sensitifitas RT-LAMP lebih baik ketimbang rapid test, yakni sekitar 95 persen. Meski begitu, alat ini memiliki kemungkinan menunjukkan false positive (hasil positif salah) sebesar 5 persen, dan false negative 7 persen.

Menurut Tri, harga tes menggunakan RT-LAMP harus dijamin terjangkau masyarakat nantinya. “Kalau (harga tes) sama dengan rapid test, atau lebih murah, mungkin menjadi alternatif. Kalau lebih mahal ya sama saja,” ujar Tri kepada Lokadata.id.

Pemeriksaan PCR tetap penting

Meski RT-LAMP menjanjikan, namun perannya dipercaya tak bisa sepenuhnya menghilangkan tes Covid-19 berbasis PCR.

Menurut Dicky, pengujian virus korona berbasis RT-PCR tetap merupakan standar utama (gold standard) pemeriksaan Covid-19, karena memiliki sensitifitas yang tinggi. Metode ini juga jadi landasan pelaporan kasus Covid-19 ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Pendapat lain disampaikan Tri. Dia menyebut pengujian via rapid test dan RT-LAMP terbatas untuk skrining awal. Diagnosa pasti terhadap pengidap virus korona harus dilakukan melalui RT-PCR.

Menurut Kepala LIPI Laksana Tri Handoko, pengembangan uji virus via RT-LAMP masih harus dilakukan lembaganya agar lebih akurat . Dalam pengembangan metode ini LIPI bekerja sama dengan PT Biosains Medika Indonesia.

Rencananya, alat ini akan selesai uji validasi pada Agustus atau September. Setelah lolos uji validasi dan memperoleh izin edar dari Kementerian Kesehatan, alat uji RT-LAMP bisa digunakan secara luas.

Sebagai catatan, hingga kemarin Indonesia telah menguji 782.383 spesimen via metode RT-PCR. Ratusan ribu spesimen ini berasal dari 465.683 orang.

Berdasarkan laporan mingguan WHO per Rabu (24/6), pelacakan pengidap virus korona di Indonesia masih timpang. WHO mengungkap, satu-satunya daerah di Indonesia yang berhasil memenuhi standar uji PCR adalah DKI Jakarta.

Tingkat rata-rata uji PCR di ibu kota sudah mencapai 1/1000 dalam sepekan. Kondisi ini berbeda dengan daerah lain. Ketimpangan tes PCR di sejumlah daerah ini disinyalir terjadi karena sikap selektif pemerintah. Selain itu, jumlah laboratorium pemeriksa RT-PCR paling banyak berada di ibu kota.

Di tingkat nasional, rata-rata tes virus korona yang sudah dilakukan Indonesia baru mencapai 0,04 orang per 1000 penduduk dalam sepekan. Angka ini masih jauh di bawah torehan negara lain, meski trennya terus membaik sejak awal Juni.