logo-lokadata
Saat tenaga kerja Cina kesengsem gadis Konawe
Warung tenaga kerja Tiongkok yang menikahi perempuan Konawe. Laode Fandi Sartiman/Beritagar.id

Saat tenaga kerja Cina kesengsem gadis Konawe

Sejumlah pekerja Tiongkok dikabarkan banyak menikahi gadis lokal. Apa motifnya?

Muhammad Alif (35) tampak sibuk menurunkan belanjaan dari motornya, Jumat (22/12/2017) sore. Barang-barang diturunkan tepat di halaman depan warung makan miliknya di Desa Purui, Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara.

Raut wajahnya tetap segar meski ia baru saja menempuh perjalanan 40 km dari Kendari.

Usai menurunkan belanjaan, Alif beranjak menuju dapur. Lalu, kembali lagi di ruang makan, mengambil bahan masakan di dalam kulkas.

Telepon selulernya beberapa kali berdering. Ia mengangkat dan bercakap menggunakan bahasa Mandarin. "Dia sibuk itu. Memasak untuk makanan pekerja-pekerja Cina," kata Yustin, salah satu pegawai di rumah makan milik Alif.

Warung itu dibuka setelah Alif memutuskan menikahi perempuan Konawe bernama Filla Fosia Kasim (18). Sebelum menikahi Filla dan menjadi mualaf, Alif punya nama Liu Cinjing. Keduanya menikah pada 12 Desember 2016. "Dia menikah dengan sepupu saya," ujar Yustin.

Pasangan ini baru saja diberi keturunan. "Boy, boy. Semalam," ungkap Alif dengan bahasa Indonesia terbata-bata. Maksud Alif, anaknya telah lahir pada Kamis (21/12/2017).

Sekilas postur tubuh Alif tak berbeda dengan penduduk lokal. Tingginya sedang, matanya sipit. Bedanya hanya saat Alif bercakap-cakap. Meski sudah beberapa tahun tinggal di Indonesia, Alif masih belum benar-benar fasih berbahasa Indonesia.

"Kalau dia bicara, kami bingung apa maksudnya. Kadang kami hanya iya-kan saja," kata Yustin.

Ayah Filla, Muhammad Kasim (47), bercerita Alif menikahi putrinya saat Filla baru tamat SMA. Tahu anaknya didekati pria asing, Kasim tak tinggal diam. Ia melacak rekam jejak sang calon menantu. Dari pelacakannya, ia mendapat informasi, Alif adalah seorang pengusaha yang sering bolak-balik Surabaya.

Namun menurut warga sekitar, sebenarnya Alif bukanlah pengusaha melainkan pekerja yang bekerja di perusahaan tambang VDNI Konawe.

Kasim sreg dengan Alif karena anaknya akan dinikahi orang asing yang sudah mapan. Status orang asing pun ia lupakan. "Sebelum diciptakan langit dan bumi, Tuhan sudah mentakdirkan rezeki, jodoh, dan ajal kita," kata Kasim. Hanya dia memasang syarat: Alif harus pindah agama.

Atas nama cinta, Alif menyanggupi syarat yang diminta calon mertuanya. Tak berhenti di situ. Kasim rupanya juga meminta syarat lain yakni mahar berupa uang tunai Rp30 juta. "Tapi dia hanya transfer ke rekening saya Rp15 juta," ujar Kasim.

Kasim tak mempersoalkan meski uang yang ditransfer hanya setengah dari yang diminta.

Setelah dua syarat itu dipenuhi, hajatan pernikahan pun digelar terbuka. Tetangga, saudara, juga beberapa aparat desa ia undang.

Status pernikahan

Kepala Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara, Hasanuri mengatakan pernikahan warga asing dengan warga bisa sah secara agama jika memang memenuhi syarat yang telah ditetapkan. Namun, kata dia, meski sah secara agama, pernikahan itu belum sah secara hukum.

Kenapa tidak sah? Sebab, kata Hasanuri, mempelai laki-laki belum berkewarganegaraan Indonesia. Karena belum berkewarganegaraan Indonesia, maka pernikahan itu tidak akan tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA).

"Jika tidak sah, maka tidak akan mendapatkan kekuatan hukum. Sehingga, tidak bisa juga mendapatkan perlindungan hukum kemudian hari," kata Hasanuri.

Apa resikonya? Resiko terburuknya jika terjadi perceraian. Karena dokumen sang laki-laki tak lengkap maka anak dan istri tidak bisa menuntut hak dari suaminya. "Karena, salah satu bukti perkawinan adalah buku nikah. Pasti itu belum punya buku nikah," ujarnya.

Tidak tercatatnya pernikahan ini tampaknya juga membuat pihak pemerintah setempat tidak mengetahui pasti jumlah orang asing yang menikah dengan penduduk lokal.

Camat Morosi, Suriana Saranani membenarkan. Kata dia, selama ini pernikahan penduduk lokal dengan warga asing tidak pernah dilaporkan ke pemerintah desa.

Tidak adanya laporan ke aparat desa itu, menurut Jumdin, karena mereka melakukan pernikahan di luar daerah. Salah satunya di Kota Kendari.

Pernikahan antara penduduk lokal dengan warga asing -rata-rata dari Cina--mulai marak sejak kehadiran pemurnian nikel Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Konawe 2015.

Menurut informasi Jumdin, salah satu warga Konawe, sampai saat ini sudah ada empat warga lokal yang menikah dengan warga Cina. "Kalau di sekitar Morosi ini hanya satu. Kebetulan rumahnya tidak jauh dari sini," katanya.

Alif, warga Tiongkok yang menikahi perempuan Konawe. Setelah menikah ia membuka warung yang kebanyakan menyajikan menu-menu untuk pekerja Tiongkok yang bekerja di Konawe.
Alif, warga Tiongkok yang menikahi perempuan Konawe. Setelah menikah ia membuka warung yang kebanyakan menyajikan menu-menu untuk pekerja Tiongkok yang bekerja di Konawe. Loade Fandi Sartiman / Beritagar.id

Peluang bisnis

Berkembangnya perekonomian di sekitar industri pemurnian nikel Konawe membawa dampak positif bagi masyarakat setempat. Sejumlah warga terlihat membuka toko maupun warung makan.

Alif dan istrinya contohnya. Sejak menikah dengan Filla, Alif mendirikan usaha rumah makan di sekitar pembangunan pabrik smelter di Konawe.

Tempat usahanya diberi nama Filla Garden Restoran. Papan nama restoran, selain bertuliskan dua bahasa: Indonesia dan Cina. Restoran ini merupakan satu-satunya rumah makan yang menyediakan makanan khas negeri tirai bambu.

Tak heran, rumah makan ini selalu diserbu para pekerja-pekerja Cina yang bekerja di pabrik itu. "Setiap sore banyak orang Cina makan di sini," kata Yustin yang baru 10 hari bekerja di tempat Alif itu.

Warung Alif menyediakan beragam menu yang biasa dimakan orang-orang Cina itu seperti daging cencang yang dicampur dengan asinan sayur, lobster, dan kepiting. Ada juga mi instan dan kopi yang khusus didatangkan dari Cina. "Itu hanya orang Cina yang bisa makan," kata Yustin.

Kata Yustin, orang-orang Cina itu tidak memakai sendok tapi sumpit dan mangkuk kecil. "Kalau pakai sendok makanannya jatuh," ujarnya.

Yang sering membuat Yustin pusing ketika mereka menyampaikan menu yang mau dipesan karena mereka tak mengerti bahasa Indonesia. Karenanya, Yustin kerap meminta orang itu menuliskan di handponenya untuk kemudian diterjemahkan.

Saat saya berbicang dengan Yustin, Alif tiba-tiba muncul dan ikut nimbrung. Saat saya tanya tentang mi yang dijual dia langsung menjawab, "Mantap. Ini asal Tiongkok."

Baca artikel lain dalam Laporan Khas Beritagar.id, "Cengkeraman naga di Celebes".