Lokadata.ID

Salip New York, Beijing lahirkan miliarder terbanyak di dunia

Zhang Yiming, pendiri TikTok
Zhang Yiming, pendiri TikTok Shannon Stapleton / ANTARA FOTO/REUTERS

Daftar Orang Terkaya Dunia tahunan ke-35 dari Forbes dipenuhi dengan miliarder baru, yang kebanyakan berasal dari Cina. Negara terpadat di dunia ini memiliki 626 miliarder dalam daftar itu, termasuk 205 pendatang baru.

Tak pelak, Beijing sekarang menjadi rumah bagi 100 miliarder, mengalahkan New York City yang memiliki 99 miliarder dalam daftar Forbes.

Baca juga Daftar orang terkaya Forbes 2021, 2 warga Indonesia di 100 besar

Beijing menambahkan 33 miliarder baru sehingga untuk pertama kalinya dalam 7 tahun, New York atau Big Apple lengser dari posisi puncak kota dengan miliarder terbanyak. Ibu kota Cina itu kini dihuni oleh lebih banyak miliarder daripada kota lain mana pun di dunia.

Pada Kamis (8/4/2021), Forbes merilis bahwa sekitar 25 persen dari 2.755 nama yang masuk daftar Miliarder Dunia Forbes 2021 tinggal di 10 kota. Sementara 10 persen dari angka itu, tinggal di empat kota metropolitan Cina.

Penduduk terkaya di Beijing adalah Zhang Yiming, pendiri aplikasi berbagi video TikTok dan kepala eksekutif dari perusahaan induknya ByteDance. Kekayaan bersihnya selama 2020 naik dua kali lipat menjadi A$35,6 miliar.

Kekayaan Yiming ini masih jauh di bawah warga terkaya New York, mantan Walikota Michael Bloomberg, yang memiliki kekayaan senilai A$59 miliar. Sementara pendatang baru terkaya di Beijing adalah Wang Ning (34 tahun), pebisnis mainan Pop Mart.

Namun, kendati Beijing sekarang memiliki lebih banyak miliarder daripada Big Apple, kekayaan bersih gabungan miliarder New York City tetap paling besar yakni mencapai AS$ 560,5 miliar. Sementara total gabungan kekayaan bersih taipan Beijing hanya sebesar AS$484,3 miliar.

Penanganan pandemi Covid-19 yang cepat di Cina, diyakini telah membuat banyak perusahaan teknologi dan pasar saham bangkit, sehingga membantu Beijing mendapatkan posisi teratas. Bahkan, tiga kota besar lain juga masuk dalam daftar Forbes, yakni Shanghai, Shenzhen, dan pendatang baru Hangzhou.

Menurut BBC, Shenzhen melompat dari posisi ke-7 menjadi ke-5. Hangzhou parkir di posisi 10, mengalahkan Singapura. Sedangkan Shanghai tetap kokoh di posisi keenam.

New York City sendiri tahun lalu mampu menambahkan 7 miliarder baru. Adapun London, meskipun turun dari posisi 5 ke 7, juga masih bisa menambahkan tujuh miliarder baru. Sementara Moskow merosot dari nomor 3 ke nomor 4, Hong Kong turun dari posisi kedua ke ketiga. Sedangkan Mumbai dan San Francisco, keduanya memiliki 48 miliarder, sehingga sama-sama di posisi 8.

Berkah pandemi

Dua negara dengan miliarder terbanyak, Cina dan AS, telah menjadi saksi bagaimana raksasa teknologi berkembang pesat di masa pandemi. Ini tak lain karena lebih banyak orang berbelanja daring dan mencari hiburan dari rumah di masa karantina.

Tak heran jika kekayaan pribadi para pendiri dan pemegang saham raksasa teknologi juga meroket. Kini, dengan 698 miliarder, Cina sudah semakin mendekati AS, yang memimpin dengan 724 miliuner.

Forbes mencatat, indeks Bursa Efek Shanghai dan Bursa Efek Shenzhen masing-masing melambung 28 persen dan 43 persen pada tahun lalu, sehingga mengerek kekayaan bersih 136 miliarder baru Cina.

Separuh dari miliarder baru itu memperoleh kekayaan mereka dari manufaktur atau teknologi. Termasuk pendatang baru dari negara itu, Chen Zhiping, dan miliarder wanita baru terkaya, Kate Wang. Keduanya menghasilkan banyak keuntungan dari rokok elektrik.

Pengusaha tenaga surya Cao Renxian dan mogul kendaraan listrik Li Xiang, juga veteran produk medis Liu Fangyi dan raja fintech Li Hua, mengakui bahwa pandemi malah membuat permintaan akan produk mereka melejit. Rata-rata kekayaan miliarder pendatang baru Cina ini pun melambung menjadi AS$1,9 miliar — naik dari AS$1,5 miliar di tahun lalu.

Namun, laporan Business Insider menyebutkan, pandemi virus korona telah memperlebar kurang kemiskinan antara miliarder dunia dan orang kebanyakan. Di AS, misalnya, miliarder tumbuh 44 persen lebih kaya dalam pandemi. Sebaliknya, dalam periode waktu yang sama, 80 juta orang Amerika kehilangan pekerjaan dan hampir delapan juta orang jatuh miskin.