Lokadata.ID

Sebulan PPKM Darurat: Bisnis ritel terpukul keras, sulit pulih cepat

Sejumlah kios tutup di Mal Tangcity, Kota Tangerang, Banten, Rabu (4/8/2021).
Sejumlah kios tutup di Mal Tangcity, Kota Tangerang, Banten, Rabu (4/8/2021). Fauzan / ANTARA FOTO

Industri perdagangan ritel di Jawa dan Bali kembali terpukul akibat pelaksanaan Pembatasan Pemberlakuan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat atau level 4. Pukulan terhadap sektor usaha ini bisa semakin menjadi-jadi lantaran pemerintah baru saja memperpanjang pembatasan tersebut setelah jalan sebulan dari 3 Juli 2021.

Saat ini pengetatan pembatasan tersebut sudah berjalan selama satu bulan. Pemerintah pada Senin (2/8) lalu juga mengumumkan memperpanjang PPKM dengan penyesuaian level pembatasan di sejumlah daerah.

Sekretaris Perusahaan PT Matahari Department Store Tbk, Miranti Hadisusilo mengatakan, pelaksanaan PPKM Darurat berdampak pada jumlah gerai yang harus ditutup oleh perusahaan. Menurutnya, saat ini hampir sebagian gerai Matahari tutup terutama di daerah yang melaksanakan PPKM level 4.

Miranti mengatakan, dari 147 gerai, saat ini Matahari hanya mengoperasikan 38 gerai. Puluhan gerai yang masih buka ini, berada di sejumlah wilayah yang menerapkan PPKM level III atau mayoritas di luar Jawa dan Bali.

Ia belum bisa menyebutkan perihal penurunan pendapatan akibat penutupan sejumlah gerai tersebut. Meski sejumlah gerai harus ditutup, menurut Miranti, Matahari akan memaksimalkan penjualan secara daring melalui platform e-commerce serta media sosial. Dia juga mengatakan, perusahaan optimistis jika PPKM dilonggarkan kondisi bisnis akan membaik tapi belum bisa pulih seperti sebelum pandemi.


Laporan keuangan terakhir perusahaan menunjukkan, Matahari pada kuartal pertama tahun ini rugi Rp95,4 miliar, atau meningkat 1,5 persen dari rugi periode yang sama 2020 Rp93,9 miliar. Perusahaan dengan kode emiten LPPF ini pada sebelum kuartal pertama 2019 mencetak untung Rp142,5 miliar.

PPKM diperpanjang, pengusaha mal desak pemerintah beri sejumlah stimulus

PT Mitra Adi Perkasa Tbk, perusahaan ritel pemegang merk department store seperti Sogo, Zara, dan Pull&Bear, menyatakan, peningkatan penyebaran kasus Covid-19 sejak Juni akan menjadi tantangan bagi pertumbuhan perusahaan ke depan.

Laporan keuangan terakhir perusahaan dengan kode emiten MAPI ini menunjukkan, pada semester pertama tahun ini berhasil mencetak laba bersih mencapai Rp288,1 miliar, setelah pada periode yang sama 2020 rugi Rp455,8 miliar. Namun, laba perusahaan ini belum kembali ke level sebelum pandemi mencapai Rp604,7 miliar.

Menurut MAP, perbaikan kinerja itu salah satunya didukung oleh kenaikan penjualan secara online yang meningkat 38 persen secara tahunan. Selain itu, kinerja juga membaik akibat momen lebaran Idulfitri 2021.

“Kami sangat termotivasi oleh pencapaian kinerja semester pertama, walaupun pandemi masih terus menimbulkan gangguan jangka pendek pada kemajuan perusahaan,” kata VP Investor Relations Corporate Communications and Sustainability Mitra Adi Perkasa Ratih D. Gianda melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (2/8) seperti dikutip

Sulit pulih

Ketua Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Induansjah mengatakan, dampak pelaksanaan pengetatan pembatasan saat ini kepada sektor usaha ritel lebih berat ketimbang pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahun lalu. Pasalnya, kemampuan pengusaha sudah hampir habis baik secara fisik maupun finansial.


Menurut Budihardjo, sejak Januari sampai Mei dan Juni tahun ini, kinerja sektor ritel perdagangan terus mencatatkan perbaikan dengan pendapatan yang tumbuh hingga mencapai 70 persen sebelum pandemi. Namun, dengan pengetatan pembatasan, potensi pemulihan pendapatan itu menjadi menyusut.

Chief Executive Officer (CEO) Marco Indokarya ini mencatat, saat pelaksanaan PPKM, para peritel seperti pakaian serta pengelola salon dan bioskop otomatis tak memperoleh pendapatan seiring penutupan operasional. Sedangkan, pendapatan di sektor Hipermarket dan Supermarket diperkirakan menurun sekitar 20 persen. Menurut Budihardjo, hanya apotek dan minimarket yang pendapatannya masih stabil.

Budihardjo mengatakan, dengan kondisi seperti itu, sulit bagi para pengusaha ritel untuk pulih meski, misalnya, PPKM nantinya dilonggarkan. Pasalnya, pemulihan sektor ini membutuhkan waktu paling tidak enam bulan. Menurut Budihardjo, ini terbukti dari pasca dampak pembatasan tahun lalu, industri ritel baru membaik mulai Januari hingga Mei-Juni tahun ini.

“Misalnya, PPKM dilonggarkan Agustus ini, mungkin baru bisa membaik Desember nanti. Ini juga belum mempertimbangkan adanya gelombang ketiga Covid-19,” kata Budihardjo kepada Lokadata.id.

Namun, Budihardjo mengatakan, demi mendukung pemulihan industri, Hippindo turut berpartisipasi dalam penanganan pandemi dengan menggelar program vaksinasi baik bagi karyawan maupun masyarakat umum. Dia menyebutkan, upaya ini juga sebagai bentuk dukungan kerja sama dengan pemerintah.

Survei kegiatan dunia usaha Bank Indonesia (BI) sebelumnya memperkirakan, pada kuartal ketiga tahun ini, kinerja perdagangan melambat meski masih positif. Kondisi itu, tercermin dari nilai saldo bersih tertimbang (SBT) mencapai 0,69 persen, turun dari kuartal sebelumnya 2,96 persen. Menurut BI, penurunan ini akibat kebijakan pengetatan pembatasan sosial.

Sejalan dengan itu, menurut BI, penggunaan tenaga kerja pada sektor perdagangan diperkirakan akan kembali menurun di periode yang sama dengan nilai SBT menjadi negatif 0,53 persen. Penurunan ini terjadi setelah SBT pada kuartal kedua 2021 mencapai negatif 0,06 persen.

Survei penjualan eceran BI juga memperkirakan, kinerja indeks penjualan riil (IPR) pada Juni juga melambat menjadi 4,5 persen secara tahunan dari sebelumnya naik 14,7 persen. Pertumbuhan positif pada Mei itu bahkan terjadi setelah penjualan eceran terkontraksi sejak Desember 2019. Menurut BI, kinerja penjualan eceran pada Juni juga diperkirakan menyusut 11,1 persen secara bulanan.