Lokadata.ID

Properti dan pertanian terpukul paling keras, di bursa saham

Siluet kaki karyawan melintas di depan layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (13/9/2019).
Siluet kaki karyawan melintas di depan layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (13/9/2019). Sigid Kurniawan/kye/18. / ANTARA FOTO

Pandemi Covid-19 telah membuat bursa saham di dunia porak poranda, tidak terkecuali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Menurut data yang dihimpun Otoritas Jasa Keuangan, selama 2020 (hingga 12 Juni), IHSG terkoreksi 22,53 persen. Ini merupakan penurunan indeks harga saham paling parah di ASEAN

Sektor properti dan real estate yang melorot 34,30 persen menjadi penyumbang kejatuhan indeks paling besar. Menyusul kemudian sektor pertanian (33,49 persen) dan sektor aneka industri 29,07 persen.

Properti dan real estate menjadi yang paling terdampak karena hancurnya permintaan di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pelemahan pendapatan. Masyarakat menahan permintaan dengan menjaga uang tunai mereka ketimbang membeli rumah.

Menurut data Indonesia Property Watch (IPW), penurunan penjualan properti di bawah harga Rp300 juta yang menjadi favorit bagi end user sudah terjadi sejak triwulan pertama 2020, dan berkontribusi signifikan terhadap penjualan properti nasional.

Sedangkan untuk segmen rumah di atas Rp1 miliar juga terdapat penurunan penjualan karena investor sangat berhati-hati dalam menempatkan dananya di tengah situasi ekonomi yang belum menentu di masa pandemi Covid-19. Bahkan untuk pasar rumah bekas di atas Rp 1 miliar harganya telah anjlok sampai 30 persen karena minimnya permintaan.

Sektor keuangan paling marak ditransaksikan

Meski secara persentase penurunan menjadi penyumbang terbesar, namun secara rata-rata volume transaksi perdagangan sektor properti dan real estate masih kalah dibandingkan sektor perdagangan, yakni 1,44 juta lembar saham berbanding 1,54 juta lembar saham.

Sementara sektor keuangan menjadi yang paling marak ditransaksikan dengan rata-rata frekuensi perdagangan mencapai 93,40 ribu kali (year to date) dengan nilai transaksi mencapai 3.169 triliun, atau merupakan yang terbesar sepanjang 2020.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, sektor keuangan menjadi salah satu dari empat sektor yang paling terdampak akibat pandemi Covid-19. Persoalan likuiditas, volatilitas pasar keuangan dan capital inflight memunculkan ancaman yang besar bagi sektor ini.

Sepanjang 2020, dana asing yang sudah keluar dari pasar modal Indonesia mencapai Rp12,34 triliun. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan, investor asing mulai menarik dananya ketika pandemi Covid-19 mulai menyebar ke sejumlah negara, atau sekitar Februari 2020.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), capital outflow masih terjadi hingga minggu kedua Juni 2020 yang ditandai dengan lebih banyaknya aksi jual dibanding beli investor asing (net sell) di pasar saham nasional.

Selama Juni 2020, aliran modal asing yang keluar dari Indonesia mencapai Rp 1,24 triliun. Bersamaan dengan itu, minat penghimpunan dana korporasi lewat pasar modal juga turun. Penurunan ini dikarenakan sektor riilnya belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan (recover).

Resesi global mengancam

Ditambah lagi ancaman resesi global seakan sudah di depan mata. Berbagai lembaga di dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini akan mengalami kontraksi atau tumbuh negatif.

International Monetary Fund (IMF) bahkan memprediksi perekonomian dunia akan mengalami krisis keuangan terburuk sejak tragedy Depresi Besar tahun 1930an. Tahun ini ekonomi dunia diyakini mengalami kontraksi sebesar 3 persen.

Indonesia pun akan terkena imbasnya. Pemerintah melalui Menteri Keuangan memproyeksikan jika kinerja perekonomian hingga akhir tahun akan tumbuh minus 0,4 persen hingga 1 persen.

“Outlook proyeksi -0,4 persen - 1 persen. Untuk batas atas kami turunkan 2,3 persen ke 1 persen, revisi agak turun karena kami melihat kontraksi cukup dalam di kuartal kedua," jelas Sri Mulyani ketika melakukan rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Kamis (18/6/2020).

Melihat tanggapan itu, pelemahan IHSG dan arus modal keluar dari pasar saham dalam negeri tampaknya masih akan terjadi. Hingga akhir semester pertama (30 Juni 2020) IHSG ditutup pada level 4905, atau melemah 22,45 persen (year to date).