Lokadata.ID

Sektor pertanian tumbuh paling rendah di kuartal II/2021, kenapa?

Ilustrasi: Panen padi di Patallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (30/7/2021).
Ilustrasi: Panen padi di Patallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (30/7/2021). Arnas Padda / ANTARA FOTO

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor pertanian tumbuh 0,38 persen dan memberikan sumbangan 0,06 persen pada pertumbuhan ekonomi kuartal II/ 2021, yang melambung sebesar 7,07 persen.

“Dari pertumbuhan 17 lapangan usaha, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang paling kecil, 038 persen di kuartal II/2021,” kata Kepala BPS, Margo Yuwono dalam konferensi pers virtual, Kamis (5/8/2021).

Angka ini turun dari posisi kuartal I/2021 yang sebesar 3,33 persen secara tahunan dan kuartal II/2020 yang sebesar 2,19 persen secara tahunan.

Peneliti pertanian Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Rusli Abdullah, mengatakan kinerja pertanian hanya tumbuh 0,38 persen di kuartal II/2020 terutama karena adanya pergeseran panen raya dari kuartal II/2021 ke kuartal I/2021. “Khususnya pergeseran panen tanaman pangan yaitu padi. Panen itu ada di Maret dan sedikit ke April sehingga terlihat jelas di angka pertumbuhan ekonomi subsektor tanaman pangan,” katanya dalam konferensi pers, Jumat (6/8/2021)..

Data BPS menunjukkan di kuartal II/2021 pertumbuhan di subsektor tanaman pangan kontraksi 8,16 persen. Adapun di kuartal I/2021, pertumbuhan di subsektor tanaman pangan 10,23 persen secara tahunan.

Faktor lain karena kinerja subsekstor kehutanan minus 4,4 persen secara tahunan di kuartal II/2021. “Kinerja subsektor kehutanan memang terus kontraksi sejak pandemi karena terkait ekspor,” katanya.

Peraih gelar magister di bidang Development Economics, Universitas Diponegoro ini memprediksi sektor pertanian di kuartal III/2021 akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan kuartal II/2021.

"Hal ini didukung oleh pertumbuhan di subsektor tanaman pangan karena ada panen di Juli-Agustus," kata dia.

Sementara subsektor pertanian lainnya tidak banyak berubah. "Seperti ekspor di subsektor perkebunan saya perkirakan tidak akan jauh meningkat di kuartal III/2021 karena masih ada potensi lockdown di pelbagai negara dengan menyebarnya varian Delta."

Menurut Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal, dari paparan BPS mengenai pertumbuhan ekonomi di kuartal II/2021 itu pertanian merupakan sektor yang sehat, tidak terdampak pandemi karena masih terus tumbuh positif sejak pandemi Covid-19 melanda.

“Berbeda dengan sektor lain seperti transportasi yang di kuartal II/2021 mencatatkan pertumbuhan paling tinggi secara tahunan. Karena tahun lalu, sektor transportasi anjloknya dalam sehingga tahun ini dia rebound sejalan dengan pelonggaran pergerakan. Tetapi pertumbuhan itu masih lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi,” katanya kepada Lokadata.id.

Hal ini berbeda dengan sektor pertanian. “Sektor pertanian terus tumbuh sehingga sektor ini lebih sehat.”

Faisal mencatat meningkatnya permintaan komoditas seperti kelapa sawit oleh negara-negara mitra dagang Cina dan India tahun ini membuat pertumbuhan subsektor perkebunan cenderung stabil. “Pulihnya perekonomian negara mitra dagang seperti Cina meningkatkan permintaan. Selain itu, meningkatnya harga komoditas juga berperan dalam peningkatan permintaan untuk ekspor komoditas.”

BPS mencatat volume ekspor komoditas minyak kelapa sawit sebesar 8,58 juta ton dengan nilai AS$8,34 miliar di Januari-April 2021. Jumlah itu meningkat 7,91 persen dibandingkan periode sama 2020 yang sebesar 8,24 juta ton dengan nilai AS$5,56 miliar. Minyak kelapa sawit ini paling banyak diekspor ke India yakni 1,56 juta ton. Sementara, di posisi kedua ada Pakistan dengan 690.600 ton, dan Cina menempati posisi ketiga dengan 677.100 ton.


Subsektor pertanian

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor selain industri, perdagangan, konstruksi dan pertambangan yang memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi secara keseluruhan. Sumbangan kelima sektor ini mencapai 64,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia

Kepala BPS Margo Yuwono menjelaskan di kuartal II/2021, subsektor kehutanan dan penebangan kayu di sektor pertanian mengalami kontraksi 4,4 persen karena penurunan produksi kayu gelondongan pada hutan tanaman industri.

“Subsektor tanaman pangan juga mengalami kontraksi pertumbuhan 8,16 persen disebabkan faktor musiman penurunan produksi tanaman padi karena telah berlalunya puncak panen raya yang berlangsung pada kuartal 1/2021,” kata Margo Yuwono.

Sementara itu faktor pendorong pertumbuhan di sektor pertanian yaitu subsektor perikanan tumbuh 9,69 persen disebabkan meningkatnya produksi perikanan budidaya dan peningkatan produksi tangkap.

Subsektor peternakan tumbuh 7,07 persen didorong oleh meningkatnya produksi unggas akibat tingginya permintaan di dalam negeri maupun ekspor. Subsektor tanaman hortikultura tumbuh 1,84 persen didorong oleh peningkatan permintaan komoditas sayuran dan buah-buahan baik di dalam maupun di luar negeri.

“Tanaman perkebunan tumbuh 0,33 persen diakibatkan oleh peningkatan produksi komoditas kelapa sawit karena didukung musim kemarau yang tidak ekstrem, pertambahan luas tanam yang mulai menghasilkan, serta pertumbuhan konsumsi domestik,” katanya.