Lokadata.ID

Sektor usaha yang menghidupkan kota-kota

Tiga sektor utama penopang perekonomian kota Booming Cities
Tiga sektor utama penopang perekonomian kota Booming Cities Fadhlan Aulia / Lokadata.id

Nur Cholis, warga kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, tahun ini menggenapi 10 tahun usia kehadirannya di Kediri, Jawa Timur. Cholis ikut merasakan denyut perkembangan kota yang kini, katanya, “Kalau mau beli barang elektronik tak perlu lagi ke Surabaya.”

“Sekarang di sini sudah ada mal, banyak toko, jadi tidak perlu lagi pesan ke kota lain. Di sini sudah nyaman,” tambah Cholis kepada Lokadata, akhir November lalu.

Muhammad Fajar, penjual telepon seluler di Kota Kediri, mencatat hal serupa. Pandemi korona yang merebak sejak Maret, sampai hari ini tak menyurutkan animo pembeli. “Yang penting, harganya ekonomis, tapi fiturnya banyak, itu handphone yang paling laku,” katanya.

Sektor usaha informasi dan komunikasi (infokom) kini merupakan penyumbang ouput perekonomian ketiga di Kota Kediri, dengan nilai Rp2,2 triliun (data 2019). Sektor ini tumbuh konsisten sejak 2010, yang kala itu nilainya hanya Rp1,1 triliun.

Sektor utama di Kota Kediri adalah industri pengolahan. Kontribusinya 79 persen, membuat kota ini memiliki ketergantungan sangat besar. Jika sedikit saja limbung, sektor pengolahan bisa menggoyahkan perekonomian Kediri.

Sektor pengolahan banyak digerakkan usaha kecil dan menengah. Salah satunya usaha pengolahan khas Kota Kediri, yaitu tenun ikat. Rukiyah, 52 tahun, yang mulai mengelola usaha sejak 2005 ikut mengembangkan tenun ikat menjadi beragam barang siap pakai. Bukan hanya kain sarung, tapi juga masker, yang banyak dibutuhkan saat pandemi korona.

Produk yang dihasilkan Rukiyah bersama 115 karyawan, termasuk yang berstatus magang dengan honor, tak hanya diedarkan di Kota Kediri, tapi juga dikirim ke kota-kota lain. Di tengah kondisi krisis akibat pandemi seperti sekarang, penjualannya cenderung stabil. “Ini baru saja ada pesanan 100 kain dari Surabaya,” kata Rukiyah kepada Lokadata.

Selain Kediri, kota lain yang didorong oleh industri pengolahan adalah Jakarta Utara dan Surabaya. Sementara itu, Tangerang Selatan ditopang terutama oleh sektor real estate dan Denpasar oleh jasa akomodasi (lihat grafis di atas).

Selain tiga sektor utama penopang ekonomi yang menghidupkan kota-kota Booming Cities, kami juga menganalisis sektor-sektor usaha yang menghidupkan 10 kabupaten paling potensial.

Sepuluh kabupaten terpilih ini disaring lewat mekanisme yang sama dengan pemilhan Booming Cities, yaitu dengan indeks ekonomi, sosial dan keuangan.

Begitu pengukuran untuk kabupaten dipisahkan dari wilayah kota, maka muncul temuan menarik: tiga daerah di Kalimantan (luar Jawa Bali) masuk ke dalam daftar. Kita melihat ada Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Lamandau dan Kotawaringin Barat.

Pulau Bali menambahkan tiga wilayah lagi, yaitu kabupaten Gianyar, Kabupaten Tabanan dan Bangli. Sementara itu, Jawa menempatkan Kabupaten Sidoarjo, Sleman, dan Bekasi.

Kabupaten Kutai Timur didorong terutama oleh industri ekstraktif (pertambangan), sedangkan Kabupaten Bekasi , Sleman, dan Sidoarjo oleh industri manufaktur. Sejumlah wilayah lain, yaitu Lamandau, Tabanan, Bangli dan Kotawaringin Barat sama-sama dihidupkan oleh sektor pertanian.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan bagian dari Lokadata Special Report soal Booming Cities 2020, yang terdiri dari:
1.Booming Cities 2020: 10 wilayah paling berkembang di Indonesia
2.Antara Badung dan Kediri, masih berpusat di Jawa - Bali
3.Sektor usaha yang menghidupkan kota-kota
4.Tangerang Selatan perlu gudang, Kediri jasa pendidikan
5.Badung jenuh, Bangli butuh listrik, Lamandau perumahan
6.Kediri dan Bandung: Dua kota beda potensi