Lokadata.ID

Sektor yang mengikis puluhan triliun output ekonomi

Penjualan mobil tahun ini hanya akan mencapai 486.000 unit, turun 53 persen dari tahun lalu.
Penjualan mobil tahun ini hanya akan mencapai 486.000 unit, turun 53 persen dari tahun lalu. Salni Setyadi / Lokadata.id

Musibah pandemi yang datang tiba-tiba seperti membekukan kegiatan ekonomi. Tak hanya di Tanah Air, tapi hampir di seluruh belahan bumi. Proyeksi bisnis berantakan, banyak yang berbalik arah.

Hal ini misalnya dialami oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia. Awalnya, Gaikindo menargetkan penjualan mobil pada 2020 akan tumbuh lima persen. Tapi akibat pandemi, kalkulasi ini musti dihitung ulang. Jangankan tumbuh lima persen, bahkan penjualan di atas satu juta unit yang telah dicapai sejak 2012, tahun ini tak bisa dipertahankan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memperkirakan total penjualan mobil tahun ini bisa anjlok 50 persen. Hasil simulasi yang dilakukan Lokadata juga memperkirakan penjualan mobil akan turun sekitar 53 persen ketimbang tahun lalu.

Hasil estimasi itu diperoleh melalui metode Seasonal Dynamic Factor Analysis, yang biasa digunakan untuk proyeksi jangka pendek. Dalam model tersebut, dihitung rata-rata penjualan mobil setiap kuartal dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sehingga dapat ditentukan seasonal coefficient factor sebagai basis dalam melakukan forecasting.

Dari perhitungan model tersebut, diperoleh perkiraan penjualan mobil untuk kuartal IV-2020 akan mencapai 114.273 unit. Dengan demikian, penjualan mobil tahun ini kemungkinan hanya sampai pada angka 486.319 unit.

Perkiraan penjualan mobil sampai akhir 2020.
Perkiraan penjualan mobil sampai akhir 2020. Fadhlan Aulia / Lokadata.id

Dampak lesunya penjualan mobil ini, tak berhenti sampai di pabrikan milik Agen Pemegang Merek atau APM. Ada nilai ekonomi yang hilang secara nasional. Penjualan mobil yang tergerus lebih dari separuh itu berpotensi mengikis nilai ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) industri mobil sebesar 21,2 persen atau setara dengan Rp23,7 triliun.

Proyeksi pertumbuhan industri mobil pada 2020 tersebut dihitung berdasarkan analisis tren pertumbuhan sektoral yang dikombinasikan dengan asumsi proyeksi pertumbuhan PDB yang dibuat pemerintah. Tren tersebut diperoleh dari data historis yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik.

Yang ikut terseret otomotif

Secara sektoral, sejumlah kegiatan usaha ikut terimbas akibat lesunya kinerja penjualan otomotif. Melalui analisis simulasi Input Output (IO), ditemukan sejumlah sektor yang ikut terdampak. Selain itu, ditemukan juga pengaruhnya terhadap output nasional dan nilai tambah bruto.

Output nasional merupakan total hasil produksi barang dan jasa dari seluruh sektor usaha. Sedangkan nilai tambah bruto merupakan nilai produksi yang telah dikurangi biaya-antara atau biaya bahan baku yang digunakan dalam memproduksi barang dan jasa.

Melalui analisis statistik ditemukan, industri mobil secara individual memberikan dampak terhadap output nasional senilai Rp53,1 triliun. Selain itu, nilai tambah bruto akan berkurang Rp26,2 triliun dan laba usaha total industri otomotif berpotensi menyusut Rp17,7 triliun.

Proyeksi PDB sektor terkait otomotif.
Proyeksi PDB sektor terkait otomotif. Fadhlan Aulia / Lokadaata.id

Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor merupakan industri yang memiliki keterkaitan ke depan atau pascaproduksi (forward linkage) dengan industri mobil.

Sektor ini paling besar memberikan dampak terhadap pengurangan nilai output nasional dan nilai tambah bruto dibandingkan sektor terkait lainnya. Bersama lesunya industri otomotif, laba usaha sektor ini ikut menguap sekitar Rp5,0 triliun.

Sementara di wilayah usaha yang memiliki keterkaitan ke belakang dengan industri otomotif (backward linkage) seperti pengadaan bahan baku, antara lain terjadi pada industri karet, barang dari karet dan plastik. Sektor ini akan mengurangi output nasional sekitar Rp1,5 triliun dan Rp421 miliar bagi nilai tambah bruto.

Begitulah dunia industri. Ia tidak hidup sendiri, karena selalu memiliki keterkaitan dengan yang lain. Industri mobil pun seperti itu. Pengaruhnya tak hanya kepada industri pendukung seperti bahan baku, tapi juga ke industri lanjutannya. Di antaranya, yang berkenaan dengan penjualan maupun pembiayaan.

Rincian sektor terdampak.
Rincian sektor terdampak. Fadhlana Aulia / Lokadata.id

Sampai kapan akan pulih

Pertanyaannya sekarang, berapa lama penjualan mobil akan kembali normal, setidaknya seperti 2019 saat sebelum pandemi? Pada krisis 1998, diperlukan waktu sekitar enam tahun untuk mengembalikan penjualan mobil seperti 1997 (satu tahun sebelum krisis).

Sepanjang 1997, penjualan mobil tercatat 286.369 unit atau tumbuh 18 persen ketimbang 1996. Ketika krisis merangsek pada 1998, penjualan kendaraan roda empat tersebut langsung tergerus, tumbuh minus 85 persen, sehingga tersisa 58.250 unit.

Setelah krisis, pelan-pelan industri otomotif bergerak seiring dengan membaiknya perekonomian masyarakat. Baru pada tahun ke enam, persisnya 2004, penjualan mobil berada di ukuran seperti sebelum krisis.

Kini, penjualan mobil mengalami krisis lagi dengan kontraksi terbesar sejak 1998. Kendati penjualan secara bulanan mengalami sedikit perbaikan sejak Juni, tapi masih sulit mendekati penjualan tahun lalu. Hingga akhir tahun, hasil simulasi Lokadata memproyeksikan penjualan mobil akan turun sekitar 53 persen.

Berdasarkan hasil analisis statistik, penjualan mobil sangat dipengaruhi oleh pendapatan masyarakat yang ditunjukkan melalui pertumbuhan ekonomi. Tingkat elastisitasnya mencapai 2,65. Sementara harga, sekalipun diturunkan, tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap penjualan mobil.

Karena itu, pendapatan masyarakat merupakan kunci pergerakan penjualan mobil. Pemerintah memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada 2021 akan mencapai 4,5 persen, sedangkan Dana Moneter Internasional (IMF) menghitung, mulai 2022 pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali menyentuh angka di atas 5 persen, dan melambat menjadi 4,9 persen pada 2026.

Walaupun ada perlambatan, namun ukuran ekonomi nasional sudah membesar. Dengan demikian, perlambatan bukan lagi isu penting.

Dengan asumsi tingkat elastisitas dan proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut, peluang kembalinya penjualan mobil berada di atas satu juta unit akan terjadi pada 2026, yaitu lima tahun setelah krisis. Pemulihannya satu tahun lebih cepat ketimbang akibat krisis 1998.

Bersamaan dengan pulihnya penjualan mobil, sektor usaha yang terdampak buruk di saat penjualan lesu, akan kembali terangkat. Perekonomian akan kembali bergairah.

Proyeksi penjualan mobil 2020 - 2026
Proyeksi penjualan mobil 2020 - 2026 Fadhlan Aulia / Lokadata.id
Catatan Redaksi: artikel ini merupakan bagian kedua dari tiga artikel LokadataReport tentang industri otomotif. Bagian pertama bisa dibaca di sini, sedangkan bagian ketiga ada di sini.