Lokadata.ID

Siaga jaga harga pangan dari Korona

Tren harga turun komoditas pangan strategis.
Tren harga turun komoditas pangan strategis. Lokadata / Lokadata

Normal baru bagi sebagian orang berarti mengubah gaya hidup jadi lebih realistis. Meminimalkan pengeluaran sambil tetap berusaha menjaga kesehatan demi kelangsungan hidup. Termasuk pengeluaran untuk bahan pangan.

Informasi dari hargapangan.id memperlihatkan, pada semester pertama tahun 2019 kenaikan harga rata-rata nasional ada pada enam komoditas yang tergolong volatile food. Termasuk di dalamnya bawang putih, cabai merah, bawang merah, cabai rawit, gula pasir, dan daging sapi.

Sementara pada semester pertama 2020, hanya 4 komoditas yang mengalami kenaikan harga secara rata-rata nasional. Keempatnya adalah bawang merah, gula, daging ayam, dan daging sapi.

Inflasi volatile food dominan dipengaruhi oleh panen, gangguan alam, atau faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik maupun perkembangan harga komoditas pangan internasional.

Tren inflasi rendah tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di seluruh dunia. Demikian menurut Kepala Bidang Moneter Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Puji Gunawan.

Harga pangan secara umum, bukan per komoditas, trennya sedang turun. Ini disebabkan karena daya beli masyarakat sedang rendah.

“Pola konsumsi berubah. Misal orang yang tadinya makan daging atau makan ayam setiap hari, sekarang makan telur. Lebih realistis,” jelas Puji kepada Lokadata.id, Jumat (26/6/2020).

Pandemi Covid-19 memang berdampak besar. Hotel, restoran, dan kafe sempat tutup lantaran PSBB. Suplai komoditas masih sama, tapi tidak terserap seperti biasa. Akhirnya harga jatuh.

Pembatasan juga memengaruhi komoditas yang harus diimpor. Manakala maskapai tidak terbang, pengiriman pun terhambat.

Menilik harga komoditas yang masih merangkak naik, hampir semua merupakan volatile food. Sebagai contoh, pada awal 2020 harga bawang merah sempat naik karena banjir melanda daerah produsen terbesar, Brebes. Sama halnya dengan cabai rawit yang harganya melonjak akibat gangguan hama.

Selain itu, kebanyakan bersifat mudah busuk. Sehingga menyimpannya dalam jumlah banyak untuk waktu yang lama menjadi tidak memungkinkan. Pada akhirnya, gangguan pasokan berdampak langsung ke harga.

Inflasi--proses meningkatnya harga secara umum dan terus menerus--harus dilihat dari dua sisi. Saat harga naik terlalu drastis, produsen senang konsumen menjerit. Harga turun drastis, konsumen senang, produsen menangis.

Maka, inflasi yang baik adalah yang bisa dikendalikan. Artinya harga tidak naik atau turun secara drastis dan persisten.

Kenaikan harga komoditas pangan strategis menurut provinsi.
Kenaikan harga komoditas pangan strategis menurut provinsi. Lokadata / Lokadata

Mengamati pergerakan harga komoditas pangan strategis menurut provinsi pada semester 1 tahun 2020, hampir semua terjadi di kawasan Indonesia timur. Mulai dari Sulawesi hingga Maluku dan Papua.

Setidaknya, menurut Puji, ini disebabkan tiga hal. Pertama, karakteristik komoditas dan daerah, masalah logistik, terakhir PSBB yang membuat produsen dan perusahaan logistik melakukan sejumlah pembatasan.

“Dari sisi logistik, ini (kenaikan harga) bukan hanya masalah tahun ini tapi setiap tahun karena kendala logistik terbatas,” jelasnya.

Pengiriman ke Papua tentu tidak sesering pengiriman ke Jawa Timur atau Lampung karena beda. Apalagi, sifat sebagian besar komoditas yang harganya naik drastis adalah mudah busuk.

Sebagai ilustrasi, pengiriman cabai 100 kilogram dari Jawa Timur menggunakan kapal laut membutuhkan waktu satu minggu. Sampai di Papua tinggal 70 kilogram.

Padahal, meski kuantitasnya susut, harganya mesti tetap dihitung sesuai kuantitas awal. Alhasil, penjual pun terpaksa menaikkan harga.

Sementara, ini tidak bisa diatasi begitu saja dengan menanam komoditas yang dimaksud. Persoalannya, tanah juga cuaca bisa jadi tidak mendukung. Belum lagi mempertimbangkan kemauan petani atau peternak.

Oleh karena itu, menjaga keseimbangan harga adalah mutlak. Kemenko Perekonomian memiliki Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Target masing-masing TPID berbeda, menyesuaikan kebutuhan daerah.

TPID di DKI Jakarta lebih fokus pada bahasan memenuhi kebutuhan lewat kerja sama dengan daerah lain untuk menjamin pasokan. TPID di Jawa Timur, fokus pada meningkatkan produktivitas.

Andaipun inflasi berhasil dikendalikan, alam mengadang dengan ancaman lain. Kemarau yang telah tiba sejak April 2020 bisa membuat harga pangan kembali bergejolak. Untuk itu TPID harus terus saling berkoordinasi guna memastikan produksi bahan pangan lancar.