Lokadata.ID

Siap-siap didekte bahan-bakar-gas impor

Kontribusi produksi domestik dan impor, dalam pasokan LPG di dalam negeri
Kontribusi produksi domestik dan impor, dalam pasokan LPG di dalam negeri Fadhlan Aulia / Lokadata.id

Kinerja sektor gas nyaris tak ada perbaikan. Sejak menyandang status sebagai pengimpor atau net importer untuk liquefied petroleum gas (LPG, jenis bahan bakar gas produksi kilang) pada 2008, impor produk gas terus melenggang mulus masuk pasar domestik.

Sebelum 2008, produksi LPG di dalam negeri selalu melebihi konsumsi nasional. Namun setelah itu, kinerjanya terus melorot. Pada 2019, menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, produksi domestik hanya memenuhi 25,6 persen total pasokan di dalam negeri.

LPG dengan komponen utama propana dan butana merupakan produk dari kilang minyak. Gas cair antara lain digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga, masuk ke dapur, restoran, termasuk gerobak pedagang gorengan di pinggir jalan.

Rendahnya produksi domestik, membuat 74,4 persen LPG yang beredar di dalam negeri, berasal dari impor. Tahun lalu, nilai impor LPG mencapai AS$2,6 miliar atau sekitar Rp36 triliun.

Mencari “kambing hitam” antara kemampuan kilang yang buruk dengan kemampuan produksi dan kegemaran ekspor produk mentah, tentu sulit. Bisa-bisa saling tuding. Namun yang pasti, neraca volume perdagangan ekspor-impor gas secara umum terus melemah hingga tersisa 12,2 juta ton pada 2020.

Ekspor gas Indonesia mayoritas dalam bentuk LNG (liquefied natural gas alias gas bumi/gas alam), sedangkan impor dalam bentuk LPG.

Kinerja perdagangan ekspor gas Indonesia mencapai puncaknya pada 2010, ketika masih tumbuh 34,2 persen. Setelah itu hingga tahun lalu, tujuh tahun di antaranya justru mengalami kontraksi atau tumbuh minus secara tahunan, seperti terjadi pada 2018 - 2020.

Di sisi impor, sejak 2005 hingga 2020 terus meningkat, meski beberapa kali tercatat pertumbuhannya sedikit melambat. Tapi pada 2020, di tengah krisis, impor gas justru melesat 11,1 persen, jauh melampaui 2019 yang hanya tumbuh 3,1 persen.

Pemerintah setidaknya memiliki dua perusahaan yang mengurusi sektor gas ini. Ada PGN (terutama mengelola distribusi LNG) dan Pertagas (distribusi LNG, termasuk juga produksi LPG). Keduanya merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero), dengan bisnis dari hulu hingga hilir.

Dengan kemampuan pasok LPG yang lemah dan konsumsi yang terus meningkat, peran LPG impor akan semakin dominan.

Bagi para penggemar gorengan sebaiknya perlu waspada. Mengingat bahan bakar penggorengan dipengaruhi dinamika harga gas internasional dan kurs rupiah, bukan mustahil harga makanan kegemaran Anda bakal bergejolak. Apalagi jika subsidi LPG 3 kilogram dicabut.

Kinerja perdagangan gas
Kinerja perdagangan gas Fadhlan Aulia / Lokadata.id