Lokadata.ID

Siapa penguasa pasar telepon seluler impor?

Nilai impor telepon seluler
Nilai impor telepon seluler Fadhlan Aulia / Lokadata.id

Pekan lalu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita merilis informasi tentang turunnya impor telepon seluler atau ponsel, berkat kebijakan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Namun data Badan Pusat Statistik (BPS) justru menunjukkan nilai impor ponsel melonjak berlipat-lipat.

Dalam kesempatan itu, Menteri Perindustrian mensyukuri kebijakan TKDN, yang berupa kewajiban kandungan lokal dalam tubuh ponsel yang masuk pasar Indonesia. Kebijakan tersebut, katanya, telah meningkatkan ponsel produksi dalam negeri hingga 97,5 juta unit pada 2020, sedangkan produk impor hanya 3,9 juta unit.

Impor produk telepon seluler atau ponsel tertuang dalam kode HS 85171200 dengan klasifikasi produk: telepon untuk jaringan seluler atau untuk jaringan tanpa kabel lainnya. Terlepas dari jumlah yang menurut siaran pers itu menurun, tapi dari sisi nilai, BPS justru mencatat adanya kenaikan berlipat.

Selama 2020, nilai impor ponsel tercatat AS$587 juta, atau tumbuh 121 persen ketimbang 2019 yang nilainya AS$266 juta. Rupanya, krisis tak mampu membendung tumbuhnya nilai impor ponsel. Begitu pun kebijakan perlunya kandungan lokal dalam perangkat komunikasi tanpa kabel itu.

Data tersebut memperlihatkan, pada 2018 dan 2019 memang terjadi tren penurunan impor dibandingkan 2017. Namun memasuki 2020, nilai impor ponsel sejak triwulan pertama terus melampaui pencapaian 2017. Bahkan di akhir tahun menjadi berlipat.

Dalam lima tahun terakhir, produk asal Cina selalu menguasai pasar ponsel impor Indonesia. Kemampuan penetrasinya terus meningkat, dari 64,7 persen pada 2017 menjadi 87,3 persen pada Januari 2021. Negara lainnya, masing-masing hanya mampu merebut pasar di bawah 10 persen.

Posisi kedua penguasa pasar ponsel impor di Indonesia adalah Vietnam, selanjutnya diikuti Korea Selatan yang masing-masing memiliki pangsa pasar 8 persen dan 3,2 persen.

Sementara itu Hong Kong berada di urutan empat dengan 1,1 persen. Sisanya adalah Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Polandia, Jepang, Australia serta negara-negara lain.

Nilai impor yang terus melaju ini, akan menjadi beban bagi neraca perdagangan. Untuk itu, kebijakan TKDN yang disampaikan Menteri Perindustrian menjadi sangat penting. Mudah-mudahan, kebijakan itu mampu menurunkan nilai impor ponsel.

Penguasa pasar telepon seluler impor
Penguasa pasar telepon seluler impor Fadhlan Aulia / Lokadata.id