Lokadata.ID
Sintya Marisca: Aku ini anak baru di dunia perambyaran
Sintya Marisca saat wawancara dengan Lokadata.id di sebuah tempat, kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Rabu malam (13/5/2020). Wisnu Agung/Lokadata.id

Sintya Marisca: Aku ini anak baru di dunia perambyaran

Ia mengaku tak terganggu oleh ketenaran dari goyang koplonya. Dirinya pun masih bergaul di habitat lama dan minum jahe di angkringan pinggir jalan.

Sejak “penampilannya” di Synchronize Festival, seketika popularitasnya melejit. Pemicunya sederhana: joget tanpa jaim dan membiarkan rambut panjangnya berayun bebas. Sintya benar-benar menemukan momentum tatkala jogetnya itu viral dan hampir semua media kemudian mengekspos dirinya.

Dalam hitungan bulan, joget yang diiringi irama koplo dari lagu Berharap Tak Berpisah dan Pamer Bojo itu pun menjadi hit. Jogetnya itu kemudian disebut joget ambyar—representasi dari komunitas penggemar Didi Kempot.

“Pakde (Didi Kempot) lah yang telah membuka jalan karier gue,” ujar Sintya, yang akhirnya mendapat julukan Ratu Ambyar.

Dari situ hidupnya berubah. Perempuan berusia 20 ini jadi dapat banyak tawaran “manggung”, main film, wawancara dan semakin diperhatikan orang di jalan. “Bayangkan, betapa anehnya lo disuruh joget depan orang kalau ketemu,” katanya. Hal itu membuat Sintya mesem-mesem jika mengingatnya.

Syahdan, ia jadi amat identik dengan Didi Kempot. Ia jadi saksi betapa kreatif, membumi dan pedulinya sosok penyanyi dan pencipta lagu campursari itu. Saat konser bersama, Didi selalu memastikan dirinya itu nyaman dan bahagia.

“Aku masih sedih pakde meninggal. Terakhir itu dia nanya ke aku. Enduk, apa kabar enduk? Begitu,” kata Sintya meletakkan telapak tangannya di dada—saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di sebuah tempat, kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Rabu malam (13/5/2020).

Sebenarnya Sintya sudah lama di dunia akting dan hiburan, yaitu sejak 2015.

Ia terlahir dari keluarga kreatif. Ayahnya pernah punya rumah produksi dan pamannya adalah pencinta lagu campursari. “Dari om gue jadi tahu lagu Didi Kempot,” tuturnya.

Malam itu ia bergaya santuy dengan cuma mengenakan sandal jepit, kaos dan celana basket Chicago Bulls. Sementara, rambutnya ditumpuk di belakang dengan simpul longgar.

Ia bicara panjang lebar tentang segala hal. Mulai dari rasa dukanya yang mendalam ditinggal Lord Didi, hingga menjelaskan titik temu antara jiwa senoparty dengan jiwa ambyarnya. Berikut tanya jawab kami:

Sintya Marisca saat wawancara dengan Lokadata.id di sebuah tempat, kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Rabu malam (13/5/2020).
Sintya Marisca saat wawancara dengan Lokadata.id di sebuah tempat, kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Rabu malam (13/5/2020). Wisnu Agung / Lokadata.id

Bagaimana lo bisa punya kedekatan dengan almarhum Didi Kempot?
Awal kedekatan itu karena video aku viral yang di Synchronize dan juga video joget Pamer Bojo. That’s why Shopee undang aku, hingga ditemuin sama pakde akhir tahun lalu.

Di belakang panggung kita ngobrol. Pakde juga ajak aku ke ruangannya. Kesan pertama aku untuk pakde adalah he's a very humble.

Seorang maestro ya…
Ya. Ekspektasi aku sih gak tinggi ketika ketemu. Aku kan cuma fan. Tapi pakde ini pengingat banget ternyata.

Aku aja gak tahu kalau dia masih ingat aku—setelah pertemuan di Shopee itu.

Saat konser Net TV misalnya. Aku tuh sedang nonton, tapi sama pakde diminta joget ke atas panggung.

Awalnya aku gak mau. Bukan takut, tapi lebih banyak sobat ambyar yang lebih expert dari aku.

Aku mah apa, cuma anak baru di dunia perambyaran. Tapi, pakde tetap manggil dan akhirnya gue naik juga dan joget saat lagu Pamer Bojo. Gila.

“Anak baru” yang suka dengan campursari dan lagu-lagu bernuansa jawa ya?
Siapa yang gak tahu Didi Kempot. Ye kan? Pas aku SD saja, aku itu sering dengar lagu Cucak Rowo.

Om aku, yang orang Surabaya, sering setel tuh Stasiun Balapan. Itu cukup memengaruhi aku.

Lo kan terlihat menghayati lagu Pamer Bojo dari goyangan. Di mana letak relate-nya dengan lagu itu sementara lo belum nikah?
Aku merasa kata-kata seperti kowe tego mblenjani janji itu masuk ke aku. Bener aku belum nikah, tapi aku relate juga dengan pengkhianatan janji di love life aku.

Hafal ya liriknya?
Kalau aku suka lagunya pasti hafal. Tambah hafal lagi karena dekat rumah ada angkringan yang sering muter lagu Didi Kempot. Jadinya nempel banget di kepala gue.

Lo buat caption di Instagram tentang jiwa senoparty bergabung dengan jiwa ambyar. Apa maksudnya?
Caption itu menunjukkan kalau gue joget lagu yang hit di Senopati (Berharap Tak Berpisah), tapi diremix pakai koplo. Ha-ha.

Dalam diri lo ada dua jiwa itu ya: senoparty dan ambyar?
Sepertinya iya.

Di mana titik temunya?
Menurut aku, yang suka senoparty itu kayaknya gak mungkin gak suka dangdut atau campursari. Yang enggak suka mungkin gengsi. Itu saja sih.

Feel koplo mewakili anak-anak muda sekarang yang suka dangdut?
Mungkin ya. Kalau aku memang suka mereka. Mereka itu kurang ajar. Masa lagu Doraemon dan Tsubasa dibuat koplo.

Jadinya kan aku tersentuh ya. Karena relate banget sama childhood gue.

Sintya Marisca saat wawancara dengan Lokadata.id di sebuah tempat, kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Rabu malam (13/5/2020).
Sintya Marisca saat wawancara dengan Lokadata.id di sebuah tempat, kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Rabu malam (13/5/2020). Wisnu Agung / Lokadata.id

Apakah lo pernah membayangkan ketenaran yang lo dapat itu karena goyang?
Enggak sih. Sebenarnya ketika itu aku gak mau ke Synchronize. Cuma karena pakde dan Feel Koplo ada di sana, aku akhirnya datang.

Aku beli tiket yang tiga hari dan joget aku direkam seseorang di sana, yang kemudian viral dan bikin aku terkenal.

Mungkin ini sudah jalan aku di dunia seni dan hiburan.

Seperti dongeng ya…
Kalau baru tahu aku sekarang mungkin memandang begitu. Padahal, di balik itu semua banyak part yang mereka gak tahu.

Lo sekian lama di dunia seni hiburan, kenapa seperti baru muncul sekarang?
Maksud gue tadi itu. Tetap ada effort yang gue lakukan untuk mencapai titik ini. Meski aku gak mau umbar kesedihan juga sih.

Oke. Bagian mana yang mereka enggak tahu?
Aku itu pernah ngerasain ke Anyer naik mobil boksnya kru, karena ingin hemat ongkos. Atau, aku pernah juga bolak-balik puncak nebeng mobil bak kru karena enggak punya uang.

Aku datang paling pagi, pulang paling malam. Itu kan proses di karier aku ya.

Dunia peran memang jadi tujuan lo?
Aku emang suka dunia peran dan dance. Dari kecil sudah senang dua hal itu. Tapi, sepupu-sepupu aku itu banyak cowok dan atlet.

Dari situ aku jadi tertarik ikut karate, futsal, basket, bahkan taekwondo sampai ban merah.

Meski begitu aku juga pernah jadi sampul majalah. Bukan Majalah Gadis, tapi Remaja Ceria. Oh my god. Ha-ha.

Keluarga mendukung?
Pasti. Papa dulu sempat terjun di dunia entertainment juga dan punya rumah produksi. Dulu papa tidak terlalu bersuara soal ini.

Belakangan, aku baru tahu, dia pengen banget salah satu anaknya jadi artis. Semoga aku bisa berprestasi.

Sebelum tenar seperti sekarang, sebenarnya bagaimana situasi karier lo itu?
Sempat stuck ya. Aku juga sempat hampir tertipu sama kelas akting berbayar jutaan gitu. Untung mama gak punya uang saat itu. Jadinya aman.

Sampai pada akhirnya ada teman aku yang mengajak ikut casting di Kemang.

Lalu, kita berangkat naik motor dari Priok ke sana dan telat karena nyasar. Ha-ha.

Ya kita modal nekat saja. Aku cuma pakai kemeja putih sama rok hitam dan enggak make up. Teman aku tadi pakai jas cewek gitu. Kayaknya lebih siap.

Yang terjadi, aku diterima casting, teman aku malah enggak. Sedih juga.

Dan, proyek pertama aku adalah menjadi model iklan Bank BCA. Itu tahun 2015.

"Gue mending muter-muter naik Vespa dan nongkrong di angkringan ketimbang pergi ke Senopati "

Sintya Marisca

Berapa gaji pertama lo itu?
Lumayan, bisa buat beli tiket Ariana Grande saat konser di Indonesia.

Yang gue baca, habitat lo kan dari anak Vespa dan juga Priok. Bukan maksud stereotip, tapi bagaimana adaptasi lo di dunia hiburan?
Aku sih tipe bodo amat, slebor. Aku pernah datang ke lokasi naik motor pakai jas hujan yang harganya goceng. Sampai sana, aku disindir. Santai aja. He-he.

Gue itu memang suka gak ikut teman-teman kalau mereka nongkrong di Senopati. Bagi gue, lebih mending muter-muter naik Vespa dan makan di angkringan.

Yang penting kan, gue terus belajar meningkatkan kualitas akting gue.

Prinsipnya, kalau gak jadi yang pertama, jadi yang paling beda, atau yang terbaik. Gimana pun caranya gue harus dapatkan itu.

Dalam seni peran, siapa sosok aktris yang jadi “kiblat” lo?
Ya Ka'bah lah.

Ka'bah? Memang lo puasa?
Ha-ha. Parah. Ya, sampai sekarang aku masih mencari sih. Serius. Tapi gue respek banget sama yang namanya Adinia Wirasti. Gila. Keren itu orang.

Siapa emang karakter yang lo ingin perankan?
Gue itu pengen banget memerankan karakter Kevin Wendell seperti dalam film Split. Dia penderita kepribadian ganda gitu. Gue suka.

Satu lagi. Gue juga ingin main di bawah Jagat Sinema BumiLangit. Makanya gue pengen bangun karakter gue sebagai fighter. Kan dasar bela diri gue sudah ada.

Ya enggak apa deh gue jadi penjahat, yang penting gue bisa main di sana. Itu achievement gue.

Tapi Allah kayaknya berkehendak lain dulu. Sintya Marsica branding-nya malah Ratu Joget. That’s fine.

Lo lebih nyaman disebut Ratu Joget atau Ratu Ambyar?
I am queen of myself. Ha-ha.

Kalau harus memilih dari dua julukan itu?
Kalau Ratu Joget, kayak gue paling jago banget. Kalau Ratu Ambyar, enggak pernah ambyar banget. Ratu Joget saja lah.

Sebagai Ratu Joget, ada dong yang berubah dalam hidup lo?
Pasti. Aing lagi isi bensin nih, tiba-tiba ada sopir truk negor, mbak yang joget sama Didi Kempot ya. Waduh, sampai sopir truk tahu gue coba.

Pakde memang hip sampai seluruh kalangan.

Btw, kapan lo berkomunikasi terakhir dengan almarhum Didi Kempot?
Kayaknya pas ulang tahun ANTV. Di situ pakde tanya kabar. Aku jawab baik. Saat itu dia tampak sehat ya, tapi aku selalu merasa dia itu capek.

Tapi pakde memang tipe gak mau nunjukin kalau dia itu capek. Pakde itu selalu all out.

Siapa yang pertama mengabari kalau Didi Kempot meninggal?
Mama, saat gue sedang tidur pagi-pagi. Suara mama sudah enggak enak saat nyampein itu. Matanya merah. Aku diam saja dan berpikir itu hanya mimpi.

Saat cek HP, sudah ambyar tuh orang-orang mention aku soal berita duka itu.

Masih sempat main Vespa dan nongkrong di angkringan?
Kan masih wabah Covid-19. Sebelumnya sih sering. Gue itu suka banget sate kulit dan jahe panas.