Lokadata.ID

Stock split kedua BCA: sentimen positif menguat, harga terjangkau

Petugas menyemprotkan cairan desinfektan di Mal Tangcity, Kota Tangerang, Banten, Kamis (12/3/2020).
Petugas menyemprotkan cairan desinfektan di Mal Tangcity, Kota Tangerang, Banten, Kamis (12/3/2020). Fauzan / ANTARA FOTO

PT Bank Central Asia Tbk berencana melakukan pemecahan saham (stock split). Harga saham bank swasta terbesar di Indonesia ini memang sudah terlalu mahal, terutama dibandingkan saham perbankan. Sejumlah analis meyakini aksi korporasi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar ini akan memunculkan sentimen positif.

Berdasarkan keterangan manajemen BCA kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) Jumat (30/7/2021) lalu, stock split dilakukan dengan rasio 1:5. Pasca pecah saham, total jumlah saham BCA akan bertambah menjadi 123,27 miliar dari sebelumnya 24,65 saham. Nilai nominal juga diubah dari Rp62,5 per saham menjadi Rp12,5 per saham.

Berbeda dengan right issue, pemegang saham lama dalam stock split tak perlu mengeluarkan dana untuk menyerap saham baru. Itu sebabnya, yang "dinormalkan" adalah harga nominalnya. Keuntungan bagi investor lama adalah mereka akan mendapatkan gain dari kenaikan harga saham pasca stock split.

Stock split ini bertujuan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan saham perseroan di BEI dan harga saham menjadi lebih terjangkau bagi para investor ritel, termasuk demografi investor muda, sehingga diharapkan akan meningkatkan jumlah pemegang saham,” kata Sekretaris Perusahaan BCA, Raymon Yunarto.

Raymon menambahkan, rencana stock split akan dilaksanakan perusahaan dengan terlebih dahulu melaksanakan rapat umu pemegang saham. Rencananya, rapat tersebut akan dilaksanakan pada 30 September 2021.

Jika rencana pemecahan saham itu terealisasi, hal ini merupakan stok split saham kedua perusahaan ini. BCA tercatat pernah melakukan aksi serupa pada 2008 dengan rasio 1:2. Pada saat itu, harga saham BCA mencapai Rp7.200 per lembar saham, kemudian setelah dipecah menjadi Rp3.600.

Berdasarkan data BEI, harga saham perusahaan dengan kode emiten BBCA pada perdagangan Jumat (30/7) lalu mencapai Rp29.850 per lembar saham. Jika dihitung dengan rasio tersebut, harga saham BCA setelah stock split diperkirakan sekitar Rp5.970 per lembar saham.

Menurut analis senior dari CSA Research Institute, Reza Priyambada, aksi korporasi BCA ini diyakini akan disambut positif oleh para pelaku pasar. Sebab, lanjut Reza, harga saham eksisting perusahaan yang berdiri sejak 1955 ini sudah terlampau mahal – meski sebenarnya itu juga sebanding dengan kinerja mereka yang bagus.

Menurut Reza, dengan harga saham saat ini, praktis saham BCA hanya bisa dibeli oleh investor kalangan tertentu yakni para investor ritel besar maupun korporasi. Dia pun mengatakan, dengan rencana pemecahan saham tersebut, diharapkan harga saham BCA akan semakin terjangkau oleh kalangan investor yang lebih luas.

“Adanya rencana stok split ini dapat membuka peluang investor mayoritas untuk bisa mengambil bagian dari kinerja BBCA ke depannya. Dengan adanya aksi ini, maka makin banyak investor yang bisa menyerap saham BBCA,” kata Reza kepada Lokadata.id, Selasa (3/8).

Mantan Head of Research Nonghyup Korindo Securities ini juga mengatakan, sentimen positif terhadap rencana stok split BCA juga bisa datang dari para investor eksisting perusahaan tersebut. Alasannya, pasca stock split, investor eksisting akan mendapatkan jumlah lembar saham yang lebih banyak.

Reza juga memperkirakan, setelah stock split, harga saham BCA berpotensi kembali naik. Namun, kondisi itu bergantung pada sejumlah sentimen terutama dari kinerja mereka serta persaingan dengan bank digital. “Peluang untuk harga saham BCA naik masih ada karena ditopang oleh kinerja pertumbuhan” katanya.

BCA merupakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di pasar saham Indonesia. Berdasarkan data BEI per Selasa (3/8) ini, kapitalisasi pasar bank yang sudah melantai di bursa saham sejak 2000 ini mencapai Rp750,0 triliun.

14 bank digital versi OJK
14 bank digital versi OJK Gary J / Lokadata.id

Laporan keuangan terakhir perusahaan menunjukkan, bank swasta terbesar pada enam bulan pertama tahun ini berhasil mencetak kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar Rp28,27 triliun. Angka ini tumbuh tipis 3,8 persen dibanding periode yang sama 2020 sebesar Rp27,24 triliun.

BCA di periode yang sama juga berhasil membukukan laba bersih mencapai Rp14,5 triliun, atau meningkat 18,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Kinerja BCA ini terlihat sudah pulih setelah pada periode yang sama 2020 laba perusahaan ini turun 4,8 persen menjadi Rp12,86 triliun.

Kepada Lokadata.id, Head of Research PT Samuel Sekuritas, Suria Dharma juga mengatakan, secara teoritis aksi stock split BCA ini bakal memberikan sentimen positif kepada harga saham perusahaan. Akan tetapi, lanjutnya, peningkatan harga saham perusahaan ini ke depannya juga akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen lain.

“Misalnya persaingan dengan IPO perusahaan teknologi finansial atau fintech yang besar. Atau juga saham-saham bank-bank digital yang saat ini sedang diminati para investor milenial,” kata Suria.

Menurut Suria, setelah stock split, harga saham BCA secara nominal akan menjadi lebih menarik sehingga bisa menarik investor ritel. Saat ini, lanjutnya, para investor juga masih yakin dengan kinerja dan kemampuan BBCA. Dia berkata, valuasi saham BCA juga masih premium dibandingkan perbankan lainnya.

Sebagai perbandingan, setelah BCA stock split, nominal harga sahamnya akan terpaut tipis dengan bank lain. Berdasarkan data BEI, harga saham Bank Mandiri, misalnya, saat ini mencapai Rp5.775 per lembar saham, BNI Rp4.950, dan BRI Rp3.750. Harga saham Bank Mandiri secara tahunan sudah meningkat 3,6 persen, BNI 8,6 persen, dan BRI 21,6 persen.

Di tengah kabar rencana stock split BCA, harga saham perusahaan ini naik 925,00 poin atau 3,10 persen menjadi Rp30.725 per lembar saham. Harga saham BCA tercatat turun tipis 1,05 persen dari posisi periode yang sama 2020 sebesar Rp31.050.