Lokadata.ID

Super Air Jet: Lahir saat pandemi, bersaing dengan maskapai murah

Super Air Jet
Super Air Jet / Dok. Super Air Jet

Maskapai penerbangan baru Super Air Jet bakal meramaikan peta persaingan industri penerbangan terutama untuk segmen berbiaya rendah alias low cost carrier/LCC. Meski muncul di tengah pandemi saat jumlah penumpang sedang merosot, maskapai ini optimistis bisa bertahan.

“Super Air Jet telah melihat peluang di era kekinian saat ini hingga mendatang, menegaskan bahwa loyalitas generasi lebih muda hanya akan didapatkan melalui pengalaman,” kata Direktur Utama Super Air Jet, Ari Azhari.

Ari menambahkan, pada tahap awal Super Air Jet akan mengoperasikan armada generasi terbaru yakni Airbus 320-200. Pesawat ini memiliki kapasitas 180 kursi kelas ekonomi.

MenurutTempo.co, Super Air Jet ini dikabarkan terafiliasi dengan pemilik Lion Air Group, Rusdi Kirana. Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro tak menampik kabar tersebut. Meski begitu, dia mengatakan Super Air Jet tak terkait dengan PT Mentari Airlines atau Lion Air Group.

Kepada Lokadata.id, Juru Bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati mengatakan, Super Air Jet saat ini tengah dalam proses izin operasi komersial. “Yang lain-lain belum bisa disampaikan saat ini,” katanya.

Peneliti penerbangan dari Arista Indonesian Aviation Center (AIAC), Arista Atmadjati mengatakan, keberadaan pemain baru tersebut tentu akan bersaing ketat dengan maskapai lain yang berada di segmen harga murah. Dia menyebut, Super Air Jet bisa jadi akan mengancam pangsa pasar sejumlah maskapai seperti: Sriwijaya Air, Air Asia, dan Citilink.

Berdasarkan data Indonesian National Carrier Association (Inaca) per 2019, pangsa pasar penerbangan domestik ini berturut-turut dikuasai oleh Lion Air (30 persen), Garuda Indonesia (19 persen), Citilink (15 persen), Batik Air (13 persen), Sriwijaya Air (7 persen), dan Air Asia (4 persen).

Super Air Jet sebelumnya mengatakan akan berfokus pada konsep maskapai berbiaya rendah dengan penerbangan langsung antarkota di pasar domestik serta nantinya ke pasar internasional. Mereka juga menyebut, dari sisi demografi, akan menyasar kaum milenial.

Arista Atmadjati mengatakan, jika dilihat secara bisnis, kehadiran Super Air Jet ini sebetulnya berada di waktu yang tidak tepat lantaran di tengah krisis pandemi virus korona. Di saat seperti ini, permintaan (demand) terhadap transportasi penerbangan sedang menurun sehingga bisnis sulit berjalan.

Bisnis sedang lesu

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penerbangan domestik pada Maret lalu hanya mencapai 2,64 juta orang, turun 42,3 persen dari periode yang sama 2020 4,58 juta orang. Begitu juga angka penerbangan internasional yang turun 92,72 persen secara tahunan.

Dampak pandemi terhadap bisnis penerbangan juga dapat dilihat di kinerja sejumlah maskapai. Garuda Indonesia, misalnya, berdasarkan laporan keuangan September 2020, membukukan rugi AS$1,1 miliar dari sebelumnya laba AS$122,8 juta. Begitu juga AirAsia yang rugi Rp2,25 triliun pada periode yang sama.

Namun demikian, kata Arista, karena sasaran mereka segmen milenial terutama menengah ke bawah, masih memiliki peluang di masa depan. “Sisi positifnya mereka masih dalam tahap branding atau pengenalan. Ini seperti ingin curi start di era new normal,” kata Arista, Selasa (4/5/2021).

Kepada Lokadata.id, pengamat penerbangan, Alvin Lie mengatakan, kehadiran Super Jet Air ini “luar biasa”. Alasannya, setidaknya dalam 10 tahun terakhir, Indonesia tidak memiliki pemain baru di industri penerbangan, dan apalagi mereka tampil di saat pandemi Covid-19.

“Saya melihat bahwa kehadiran Super Air Jet ini menunjukkan kejelian pengusaha untuk membeli atau mengadakan pesawat dengan harga murah,” kata Alvin.

Dia menjelaskan, selama pandemi virus korona ini, tak sedikit pesawat yang tidak bisa membayar sewa. Namun, pada saat yang sama perusahaan penyewa pesawat juga butuh mencari pembeli atau penyewa baru. Karena itu, bisa jadi harga sewa pesawat saat ini lebih murah.

Mantan anggota Ombdusman RI ini mengatakan, potensi pasar LCC di tengah pandemi itu akan selalu ada. Karena daya beli turun, masyarakat rela mengorbankan kenyamanan saat bepergian. “Tentunya harga tidak menjadi satu-satunya faktor. Kita lihat nanti rutenya, jadwalnya, juga frekuensi penerbangannya itu juga akan menentukan,” katanya.

Siap lepas landas

Direktur Utama Super Air Jet, Ari Azhari mengatakan, maskapai penerbangan baru ini sepenuhnya dimiliki atas penyertaan modal dalam negeri atau dimiliki orang lokal. Dia mengatakan, maskapainya didirikan pada Maret 2021 dan telah memiliki kode penerbangan “IU” dari IATA (Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional) dan “SJV” dari ICAO (Organisasi Penerbangan Sipil Internasional).

“Saat ini, Super Air Jet tengah mempersiapkan fase bersiap untuk lepas landas melalui berbagai tahapan dan prosedur yang dibutuhkan berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam rangka mempersiapkan penerbangan perdana, yang dijadwalkan dalam waktu dekat,” kata Ari dalam keterangan kepada wartawan, Senin (3/5).

Beberapa maskapai menawarkan flights to nowhere. Yang penting mengakasa selama dua jam. Ada juga yang cuma dalam kabin tiruan tanpa terbang.
Beberapa maskapai menawarkan flights to nowhere. Yang penting mengakasa selama dua jam. Ada juga yang cuma dalam kabin tiruan tanpa terbang. Tito Sigilipoe / Lokadata.id

Menurut dia, Super Air Jet dibentuk atas dasar optimisme terhadap peluang pasar penerbangan domestik lantaran di segmen tersebut permintaannya sangat kuat terutama dari milenial. Kata dia, generasi milenial juga ditargetkan guna memfasilitasi segmen perjalanan udara yang tumbuh paling cepat di pelbagai negara termasuk Indonesia.

“Super Air Jet telah melihat peluang di era kekinian saat ini hingga mendatang, menegaskan bahwa loyalitas generasi lebih muda hanya akan didapatkan melalui pengalaman,” katanya.