Lokadata.ID

Surplus perdagangan yang mencemaskan

Pertumbuhan nilai ekspor impor 2011 - 2020
Pertumbuhan nilai ekspor impor 2011 - 2020 Fadhlan Aulia / Lokadata.id

Kinerja perdagangan yang surplus seperti diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) minggu lalu sebenarnya menyiratkan kekhawatiran besar tentang kinerja perekonomian nasional. Sinyal itu dibunyikan dari penurunan impor bahan baku/penolong dan barang modal yang kian dalam.

Apalagi faktanya, sepanjang Januari-September 2020, kinerja perdagangan yang surplus itu bukan akibat ekspor yang membaik, melainkan impornya yang turun tajam. Pada periode sembilan bulan tersebut, nilai ekspor tahunan mengalami kontraksi, dengan tumbuh minus enam persen. Sedangkan impor tumbuh minus 16 persen.

Dengan begitu, surplus perdagangan bukan akibat kinerja ekspor yang membaik, melainkan karena dampak lesunya kegiatan ekonomi. Kinerja yang belum patut disyukuri, tentunya.

Bahkan, data BPS tersebut menyiratkan kinerja industri dalam negeri yang makin miris. Impor bahan baku/penolong dan barang modal terjun bebas.

Dalam versi BPS, bahan baku adalah barang yang diolah menjadi bentuk lain. Sedangkan bahan penolong merupakan barang yang digunakan dalam proses pengolahan. Dengan demikian, keduanya merupakan komponen paling penting dalam produksi untuk menghasilkan barang jadi.

Pada periode Januari-September 2020, komponen bahan baku/penolong mencapai 86 persen dari total impor. Jumlah tersebut jauh melampaui rata-rata dalam sembilan tahun terakhir yang sebesar 75 persen. Indikasi ini menunjukkan bahwa kemampuan industri dalam negeri dalam menghasilkan bahan baku dan penolong untuk memproduksi barang masih sangat lemah.

Dengan demikian, semakin banyak barang yang diproduksi, maka semakin besar pula kebutuhan impor bahan baku dan penolong tersebut. Akibatnya, setiap tahun selalu membebani neraca perdagangan.

Penurunan impor bahan baku/penolong ini memberikan sinyal kinerja manufaktur atau industri pengolahan yang sedang lesu. Ketika impor bahan baku/penolong tumbuh minus, berarti makin banyak mesin tidak bekerja.

Sektor manufaktur merupakan kontributor terbesar dalam perekonomian nasional. Nilai ekonominya yang Rp733 triliun berkontribusi 19,87 persen terhadap perekonomian nasional pada kuartal II-2020, dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 18 juta orang.

Sepanjang Januari-September 2020, nilai impor bahan baku/penolong secara tahunan tumbuh minus 19 persen (year on year). Penurunan kinerja tersebut lebih dalam dibandingkan 2019 yang juga sudah minus 11 persen.

Pertumbuhan nilai impor non-migas berdasarkan penggolongan barang 2012 - 2020
Pertumbuhan nilai impor non-migas berdasarkan penggolongan barang 2012 - 2020 Fadhlan Aulia / Lokadata.id

Secara statistik, pergerakan impor bahan baku memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor manufaktur, yang ditandai dengan nilai korelasi 0,90 (mendekati 1,00 atau negatif 1,00 berarti semakin kuat, begitu pun sebaliknya: semakin mendekati 0,00 hubungannya makin lemah). Pada saat bersamaan, korelasi PDB dengan impor bahan baku juga sama kuatnya, berada di posisi angka yang sama persis.

Indikator tersebut menunjukkan pengaruh impor bahan baku yang sangat kuat terhadap kinerja sektor manufaktur dan pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan, sekaligus menjelaskan ketergantungan perekonomian nasional terhadap bahan baku impor yang masih sangat kuat.

Pada periode Januari-September 2020 juga, kondisi impor barang modal secara tahunan sungguh memprihatinkan, yaitu tumbuh minus 91 persen. Kinerja barang modal yang mengalami kontraksi ini memberikan sinyal terhadap perkembangan investasi swasta atau penanaman modal tetap bruto (PMTB) yang buruk.

Indikator penanaman modal yang negatif tersebut akan memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi secara langsung. Pada triwulan II-2020, komponen PMTB berkontribusi 30,6 persen dalam struktur perekonomian nasional. Karena itu, kinerja perdagangan yang terlihat surplus kali ini belum waktunya dirayakan.