Lokadata.ID

Survei LIPI: Gelombang PHK pekerja muda

Sejumlah pelajar SMK tingkat akhir mencari informasi lowongan pekerjaan saat bursa kerja di halaman Dinas Tenaga Kerja, Kediri, Jawa Timur, Rabu (13/11/2019).
Sejumlah pelajar SMK tingkat akhir mencari informasi lowongan pekerjaan saat bursa kerja di halaman Dinas Tenaga Kerja, Kediri, Jawa Timur, Rabu (13/11/2019). Prasetia Fauzani / ANTARA FOTO

Pekerja berusia muda atau generasi Z (usia 23 tahun ke bawah) lebih banyak dikorbankan oleh perusahaan akibat pandemi Covid-19. Kondisi ini disinyalir terjadi akibat melimpahnya stok pekerja muda, dan masih minimnya kemampuan mereka dalam melakukan pekerjaan di bidangnya masing-masing.

Banyaknya generasi muda yang terdampak pandemi Covid-19 ini terlihat dari hasil survei LIPI bersama Badan Litbang Ketenagakerjaan Kemnaker dan Lembaga Demografi FEB UI. Survei ini dilakukan pada 24 April-2 Mei terhadap 2.160 responden.

Berdasarkan survei tersebut, ditemukan 62,7 persen pekerja berusia 15-19 tahun mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat pandemi Covid-19. Tak hanya itu, ada juga 27,7 persen pekerja berusia 20-24 tahun yang terdata menjadi korban PHK.

Jumlah ini cukup mengejutkan karena tren PHK pada pekerja di kelompok usia lain (milenial ke atas) tidak sebesar itu. Bahkan, survei LIPI mencatat hanya ada 10,6 persen pekerja di rentang usia lanjut (55-59 tahun) yang terkena PHK karena Covid-19.

Survei ini juga mendata, pekerja lulusan SMP menjadi kelompok paling terdampak lantaran 45,1 persen di antaranya tidak lagi memiliki pendapatan saat ini. Kemudian, 32,3 persen pekerja tamatan SMA harus mengalami hal serupa.

Fenomena PHK besar-besaran terhadap pekerja muda ini dibantah Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

“Itu enggak benar kalau misalnya dibilang PHK kenanya di usia itu (Generasi Z). Kan saya sudah bilang berkali-kali, PHK itu pakai pesangon. Sekarang perusahaan itu enggak ada uangnya (untuk membayar pesangon),” kata Hariyadi kepada Lokadata.id, Jumat (22/05/2020).

Hariyadi menyebut, pengusaha lebih banyak yang memilih opsi merumahkan karyawannya alih-alih PHK akibat terdampak pandemi Covid-19. Selain itu, ada juga kebijakan berupa pemberian cuti di luar tanggungan yang dilakukan demi menekan ongkos perusahaan.

“Kalau dicutikan di luar tanggungan perusahaan itu sama sekali tidak digaji, tapi status karyawannya tetap. Ini kondisi force majeure. Emang kenyataannya perusahaan lagi enggak ada bisnis dan tutup,” ujarnya.

Pekerja muda melimpah

Menurut Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah Redjalam, pekerja muda wajar menjadi kelompok paling rentan ketika krisis atau ancaman resesi menjelang. Alasannya, keberadaan mereka dianggap tidak bisa memberi kontribusi maksimal saat aktivitas produksi perusahaan terhenti.

Tak hanya itu, melimpahnya jumlah tenaga kerja muda juga ikut memberi sumbangsih. Stok pekerja yang banyak ini membuat pengusaha tak takut untuk kehilangan calon karyawan, apabila kondisi ekonomi sudah pulih nantinya.

“Kalau di pabrik, tentunya adalah buruh pabrik (kelompok paling rentan PHK). Sedangkan kalau di mall mereka adalah tenaga marketing, penjaga toko, yang umumnya masih muda, tidak berpendidikan tinggi dan tidak berkeahlian khusus,” kata Piter kepada Lokadata.id.

Pernyataan Piter terbukti dari data ketenagakerjaan milik Badan Pusat Statistik (BPS). Hingga Agustus 2019 lalu, tercatat ada 21.352.236 angkatan kerja yang berusia 24 tahun ke bawah. Jumlah ini mencakup 15,98 persen dari total angkatan kerja sebanyak 133,56 juta orang.

Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) 2019 juga menunjukkan banyaknya pekerja muda di Indonesia saat ini. Berdasarkan data yang diolah Lokadata.id, ada 48 juta pekerja milenial atau yang berusia 24-39 tahun. Kemudian, jumlah pekerja berusia 15-23 tahun mencapai 12 juta orang.

Banyaknya jumlah tenaga kerja berusia muda ini seiring dengan tingginya angka pengangguran pada kelompok yang sama. Hingga 2019 lalu ada 22,21 persen pengangguran yang berasal dari pekerja usia muda. Sekitar 5,6 persen pengangguran berasal dari kakaknya, alias generasi milenial.

Piter menyebut, pengusaha cenderung enggan melakukan PHK terhadap orang-orang yang dianggap berpengalaman. Alasannya, mereka sudah memiliki keahlian khusus. Pengusaha juga takut kesulitan mendapat pengganti pekerja yang berpengalaman jika pandemi sudah berakhir.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto berpendapat, pekerja usia produktif yang di PHK berpotensi masuk kelompok rentan miskin. Alasannya, pendapatan mereka belum masuk level sejahtera dan berkecukupan. Alhasil, PHK membuat posisi keuangan mereka kian sulit.